Siapa Dia

Kisah Petugas Pemakaman Covid-19 Ponorogo, Kadang Juga Dihujat

Hadi Susanto, salah satu petugas pemakaman BPBD Ponorogo. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Selain petugas kesehatan yang terjun menangani corona, petugas pemakaman juga rentan terpapar oleh virus yang berasal dari Kota Wuhan Tiongkop. Untuk itu, tidak sembarang orang melakukan pemakaman jenazah Covid-19. Petugas itu harus sudah berpengalaman dan pemakamannya harus sesuai standar prosedur protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Untuk wilayah Ponorogo, pemakaman jenazah yang terindikasi Covid-19 dilakukan oleh petugas BPBD Ponorogo. Suka duka dialami petugas selama kurang lebih setahun ini memakamkan jenazah dengan prokes. Bahkan hujatan yang diterima para petugas, diabaikan demi menjalankan tugasnya demi kemanusiaan.

“Demi kemanusiaan, ya kami harus menjalankan tugas ini. Yaknj memakamkan jenazah yang terindikasi Covid-19 dengan standar prokes,” kata Hadi Susanto, salah satu petugas pemakaman dari BPBD Ponorogo, Senin (24/5/2021).

Hadi menjelaskan sewaktu-waktu petugas pemakaman BPBD harus siap di masa pandemi ini. Setiap kali pihak rumah sakit memberitahu bahwa ada jenazah yang dimakamkan secara protokol kesehatan Covid-19, dirinya bersama timnya langsung bersiap untuk menuju pemakaman yang sudah ditentukan. Mereka harus menggunakan baju hazmat serta menggunakan masker sesuai dengan prosedure sesuai operasional memakamkan jenazah dengan protokol kesehatan Covid-19.

“Memakamkan ya jahus pakai baju hazmat dan masker,” katanya.

Setiap harinya, ada sekitar 3-5 orang yang harus dimakamkan secara prokes Covid-19. Bahkan dalam waktu 24 jam, pernah menguburkan 10 jenazah. Baik jenazah yang positif Covid-19 maupun pasien yang dalam kategori suspek Covid-19. Hadi dan temannya selalu siap untuk menunaikan tugasnya meski kegiatan ini tidak mengenal waktu, dan medan yang terkadang sulit dilalui.

Meskipun begitu, berbagai kendala hingga hujatan pernah mereka terima. Tak kala ada pihak keluarga yang menolak untuk dimakamkan secara protokol kesehatan.

“Kendala dan hujatan kepada kami ya diterima saja. Ya harus bersabar, sebab kita melakukan ini karena rasa kemanusiaan,” pungkas Hadi yang hingga kini belum terpapar Covid-19. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar