Siapa Dia

Kisah Basri, Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Budidaya Padi Hidroganik

Basri (46), warga Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang

Malang (beritajatim.com) – Sejak memutuskan keluar dari Pabrik  pengolahan bibit jagung dan padi Pionner Malang tahun 2007 lalu, Basri (46), warga Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang ini sempat memulai usaha baru sebagai juragan toko bahan bangunan.

Berbekal pesangon dari perusahaan saat itu, usaha bahan bangunan yang ia geluti, tak membuat Basri nyaman bekerja. Menurut Basri, berkecimpung di usaha bahan bangunan, hanya mempekerjakan sedikit orang.

“Usaha toko bangunan saya hentikan. Saya tutup dan mulai menekuni sektor pertanian. Alasan saya simpel sih, kalau di lahan pertanian kan bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang,” ungkap Basri, Selasa (21/7/2020) siang saaat ditemui beritajatim.com di rumahnya.

Dari sektor pertanian inilah, Basri kerap jadi rujukan sejumlah kampus ternama di Indonesia untuk menimba ilmu pertanian. Basri juga jadi langganan para pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian, Dirjen, sejumlah Kepala Daerah, Panglima TNI Gatot Nurmantyo hingga orang terkaya di Indonesia, Antoni Salim.

“Pak Salim ini kontak langsung dengan saya. Beliau lalu mengutus timnya untuk mempelajari sistem budidaya padi hidroganik. Beliau ingin membeli label hasil produksi saya. Namun tidak saya jual karena memang sudah saya daftarkan secara legal (HAKI-red),” papar pemilik Bengkel Mimpi, Budidaya Padi Hidroganik ini.

Selain Antoni Salim, Basri juga tidak menyangka bisa kontak langsung dengan Jenderal Gatot Nurmantyo. Panglima TNI saat itu, bertatap muka langsung dengan Basri di kediamannya.

“Ya rasanya seperti mimpi. Tidak menyangka Pak Gatot mau berkunjung dan menemui saya langsung. Waktu itu beliau diantar belasan mobil dan sejumlah Jenderal yang masih aktif. Kita bicara soal ketahanan pangan bagi Indonesia itu seperti apa nantinya,” beber Basri.

Pertemuan rahasia tersebut, sangat berkesan bagi Basri. Karena pesan Panglima TNI saat itu, Jenderal Gatot Nurmantyo, hanya ingin bertemu Basri tanpa diketahui siapapun dan tanpa protokol pengamanan yang mencolok.

Bagaimana Basri mewujudkan ketahanan pangan melalui budidaya Padi Hidroganik hingga dikunjungi langsung Panglima TNI?

Basri (46), warga Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang

“Kita harus bangga dengan negara ini. Karena negeri ini sangat subur. Bayangkan saja, mikroba terbaik di dunia adanya ya di Indonesia. Ada di Jawa. Padahal mikroba adalah unsur terpenting di sektor pertanian,” ujarnya.

Mikroba adalah organisme mikroskopis bersel tunggal seperti bakteri dan jamur. Meski Mikroba sering dikaitkan dengan kotoran dan penyakit, kebanyakan mikroba sebenarnya sangat bermanfaat. Mikroba menjaga kebersihan alam dengan membantu memecah tanaman dan hewan yang mati menjadi bahan organik. Mikroba, juga sangat membantu para petani meningkatkan panen tanaman serta melindungi dari hama tanaman. Termasuk tanaman padi.

“Ini merupakan inovasi terbaru, mungkin di Indonesia belum ada. Tujuan kami menciptakan tanaman padi yang sehat dan mudah diproduksi melalui sistem hidroganik,” beber Basri.

Basri menamakan temuannya Budidaya Padi Hidroganik karena media yang dipakai berupa air dalam kolam ikan dan tanah. Aplikasinya adalah, sistem Hidroganik, menggunakan pipa paralon berdiamater 4-6 dim dan gelas (cup) minuman ringan berukuran 16 centi sebagai medium bibit padi (Gabah-red) diletakkan.

Langkah awalnya, Basri membuat rangka petak berukuran 2 meter kali 12 meter yang terbuat dari galvalum atau baja ringan. Dibagian dasar tanah yang tidak terlampau luas, akan diberi terpal plastik yang di desain menyerupai kolam ikan. Sementara bagian atas kolam setelah terangkai galvalum, menjadi tumpuan pipa paralon. Satu paralon berukuran 12 meter, akan dilubangi untuk tempat gelas minuman dengan jarak 20 centi.

Proses berikutnya adalah, pada sistem pengairannya, air dalam kolam akan ditarik keatas menggunakan pompa. Pompa ini, biasa digunakan para penghobi ikan dalam aquarium. “Ini pompa biasa untuk aquarium. Kita masukkan ke dasar kolam ikan. Lalu air ditarik pompa kemudian masuk ke seluruh pipa besar tempat gelas atau cup minuman tempat tanaman padinya. Pada bagian cup ini, kita lubangi. Sehingga tanah dalam gelas cup ini selalu basah,” papar Basri.

Karena air terus berputar, sistem rantai makanan pada padi hidroganik ini terjaga dengan baik melalui kotoran ikan yang ada dibawah kolam. “Jadi tidak perlu ada pupuk lagi. Cukup sari-sari makanan dari kotoran ikan yang akan masuk kedalam tanah pada wadah gelas. Nah di dalam gelas itu nanti juga ada cacing merah biasanya. Sehingga membantu mengurai tanah jadi subur dan sehat,” terangnya.

Basri melanjutkan, satu petak ‘Sawah’ hidroganik ini, jika dikalkulasi secara rupiah, menghabiskan Rp 5 juta rupiah untuk sekali pembuatan. “Itu cukup satu kali. Karena petak ini sudah 5 tahun lebih. Bisa sampai sepuluh tahun lebih. Cukup awet dan kuat, sementara dari kolam ikannya untuk satu petak ini bisa berjumlah ribuan ekor. Jadi keuntungan terbesar dari ikan dalam kolam,” ulasnya.

 

Satu kolam ikan dalam budidaya padi hidroganik, bisa menghasilkan puluhan kwintal ikan segar. “Kemarin kita dapat Rp 7 juta dari kolam lelenya saja. Kalau panen tanaman padi, satu petak biasanya mampu menghasilkan 40 hingga 50 kilorgam gabah. Tinggal dikali saja, saya ada 15 petak. Jadi satu bulan bisa menghasilkan belasan juta rupiah setelah dipotong biaya produksi dan ongkos pegawai,” tutur Basri.

Kini, Basri juga masih mengembangkan budidaya tanaman padi serupa yang bisa ditekan secara ongkos produksi tanpa menggunakan sekat galvalum. Untuk mulai temuannya bertahun-tahun, Basri sampai harus menarik diri dari aktivitas sosial.

“Orang-orang malah ada yang beranggapan saya ini gila. Karena tiap hari berkutat dengan tanaman padi. Saya fokus di padi. Karena tujuan saya ingin semua orang bisa menanam padi di lahan sempit dan gersang sekalipun. Dan itu bisa kita lakukan,” pungkasnya.

Atas seluruh jerih payahnya bertahun-tahun itulah, Basri kerap jadi rujukan mahasiswa magang dari fakultas pertanian dari kampus negeri se Indonesia. Proyek-proyek besar dibidang ketahanan pangan pun, pernah dilakoni Basri bersama timnya ke seantero negeri hingga Malaysia dan Timor Leste.

 

“Saya juga pernah diundang ke Pakistan. Tapi saya tolak. Kalau dari kelompok tani sangat banyak yang datang kesini. Silahkan datang, kami siap sharing dan gratis. Tujuan saya hanya satu, ingin semua orang bisa bertanam padi dengan biaya murah dan sehat,” Basri mengakhiri. (yog/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar