Siapa Dia

Kisah Annisa, Anak Muda yang Terpapar Covid dan Sempat Parah

Surabaya (beritajatim.com) – “Saya sudah melakukan proning, menghirup uap air panas yang diberi minyak kayu putih dan banyak minum air hangat, tap efeknya hanya sebentar, kemudian malamnya saya kembali sesak dan pusing berat,” ujar Annisa, kepada beritajatim.com (2/8/2021).

Annisa Ainur Rahma, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) merupakan salah satu dari sekian banyak pasien Covid-19 yang membutuhkan pertolongan karena gejala yang dialami cukup berat.

Annisa menceritakan bahwa pada tanggal 8 Juli mengeluh sesak dan pusing tak tertahankan, segera setelah itu ia melakukan swab antigen secara mandiri di RS Surabaya Medical Service dan dinyatakan positive. Sejak itu kemudian Annisa menjalani isolasi mandiri di rumah. 2 hari isoman di rumah, keadaan Annisa semakin buruk.

“Saat itu saya mencoba mandiri memperbaiki jalan nafas dengan posisi proning, minum air hangat, menguap dengan air panas serta minyak kayu putih sembari menunggu petugas 112 yang sudah saya telfon. Syukurnya, dengan upaya mandiri yg saya lakukan itu saya mulai membaik jadi ketika petugas 112 datang saya hanya di cek biasa dan disuruh lebih tenang saja. Akan tetapi, sekitar jam 7 malam hari itu saya mulai lagi seperti siangnya tapi yang ini walaupun sudah saya coba upaya yang siangnya saya coba itu tidak berhasil,” cerita Annisa.

Merasa sangat sulit untuk nafas dan gejala memberat, mulai muntah-muntah, sesak berat dan kesulitan menjaga keseimbangan diri, malam itu dengan bantuan oleh Yulianti Umrah, Founder Alit dimana Annisa menjadi salah satu relawan.

“Di sini saya sampai tidak berani tidur karena setiap tidur sesaknya langsung terasa. Sudah hubungi 112 tapi tidak juga tersambung, coba cari oksigen secara mandiri juga tidak ketemu. Saya mencoba bertahan terus untuk stabil tapi saya merasa keadaannya semakin tidak stabil. Akhirnya saya dibantu bu yuli untuk dihubungkan ke satgas covid FKM dan saya langsung ditelfon oleh Bu Erna,” terangnya.

Annisa kemudian dipandu dan difollow up keadaannya oleh Satgas FKM Unair. Lalu, dianjurkan untuk segera ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Unair.

“11 Juli malam sekitar jam 12an itu akhirnya nenek saya mencoba memanggil ambulans milik masjid terdekat dan kami berangkat ke RSKI akan tetapi IGD sedang sangat penuh kata perawatnya dan tabung oksigen terbatas. Di ruang tunggu ada sekitar 10-15 orang yang sedang menanti,” katanya.

Malam itu pun Annisa memutuskan untuk pulang. Pagi harinya (12/7) pihak RSKI Unair menghubungi Annisa dan mengatakan bahwa keadaan di IGD sudah terurai sehingga ia bisa mendapat perawatan.

“Alhamdulillah, pada 12 Juli, sekitar pukul 6 pagi saya dapat kabar sudah bisa kembali ke RSKI. Akhirnya saya bisa mendapat perawatan,” ujarnyaa.

Annisa dirawat di RSKI Unair selama 10 hari, ia dipulangkan dalam kondisi stabil meski PCR masih positif sehingga harus melanjutkan perawatan di rumah dan menjalani isoman hingga saat ini sembari menunggu PCR negatif.

Dengan pengalamannya menghadapi Covid-19 dengan gejala berat, sebagai anak muda Annisa menyadari bahwa penyakit ini sudah bisa menyerang siapa saja, bahkan anak muda yang fisiknya masih sangat baik juga bisa down dalam waktu yang relatif cepat. Oleh karennya ia berpesan kepada genarasi muda untuk lebih waspada dan perhatian.

“Ternyata siapapun bisa terserang, bahkan anak muda seperti saya juga bisa sampai down, jadi benar untuk semuanya, jangan mentang-mentang muda dan merasa fisiknya bagus sehingga lalai terhadap protokol. Virus ini nyata dan bisa menyerang siapasaja, maka terapkan 5M, kemana saja pakai masker dan kalau ada kesempatan vaskin langsung saja diambil,” tegas mahasiswi semester 6 ini.

Selain itu, ia juga membuat video ucapan terimakasih kepada segenap nakes, dan satgas serta pihak-pihak yang sudah membantunya mendapatkan pertolongan dengan segera dalam keadaan yang genting itu. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar