Siapa Dia

Kisah AKP Tiksnarto Andaru dalam Secangkir Kopi

Malang (beritajatim.com) – Semua kopi itu berharga. Rasa kopi tergantung suasana. Itulah sepenggal kalimat yang keluar dari bibir Ajun Komisaris Polisi (AKP) Tiksnarto Andaru Rahutomo. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini adalah peraih Bintang Adhi Makayasa untuk Taruna Terbaik TNI-Polri tahun 2009.

Terlahir sebagai anak seorang guru, sosok Andaru yang lembut dan bersahaja, kini mengemban tugas sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang. Di tengah kesibukannya yang cukup padat, Andaru justru menyempatkan waktu senggangnya melalui taste secangkir kopi.

“Kopi itu punya sejarah masing-masing. Semua jenis kopi berharga. Dan rasa kopi tergantung suasana kita. Kalau lagi happy, saya biasanya lebih suka tanpa gula,” tutur Andaru sembari tersenyum.

Ditemui di ruang kerjanya sebagai Kasatreskrim Polres Malang, Selasa (6/10/2020) sore, ruang kerja Andaru mirip caffe shop. Terpajang cukup banyak koleksi biji-bijian kopi dari berbagai tempat. Selain kopi lokal dari Gunung Kawi, Kopi Dampit, Kopi Arjuno yang jadi kegemarannya, Andaru juga mempunyai kopi asal Papua, Toraja hingga kopi Gayo.

Hobi unik Andaru sebagai penikmat kopi dengan mengolah sendiri laiknya Barista profesional itu, ternyata menyisahkan banyak cerita. Sejak 2012, Andaru mulai memiliki ketertarikan pada dunia kopi. “Sudah sekitar 8 tahun lalu, saat masih tugas di Jakarta. Pertama beli alat untuk membuat kopi yang saya beli Vietnam Drip. Itu alatnya,” kata Andaru menunjukkan alat pengolah kopi perdananya.

“Waktu pertama kali itu lihat bikinnya kok enak, kemudian coba bikin. Di Jakarta kan banyak tempat ngopi tuh, karena orang Jakarta itu susah kalau pulang kerja mau ngopi, jadi belilah alat kopi, beli online. Masih ingat saat itu belinya Rp 175 ribu,” tambah Andaru.

Di tengah kesibukkan dan macetnya kota Jakarta saat itu, mustahil Andaru bisa riwa-riwi ibukota hanya untuk mencari tongkrongan buat ngopi. “Tahu sendiri kan di Jakarta seperti apa, mau ngopi juga susah. Harus keluar kantor dulu, akhirnya saya mulai menabung dan membeli alat-alat untuk meracik kopi sendiri. Jadi bisa ngopi setiap hari di kantor,” kenang Andaru.

Kesukaan Andaru kepada kopi memang terlihat di ruang kerjanya. Beragam alat dan beberapa jenis kopi ada di ruangan yang sehari-hari dibuatnya untuk menjalankan tugas negara. Andaru pun mengaku, belajar meracik kopi secara otodidak.

“Awal belajar meracik kopi dari YouTube, sama baca-baca buku tentang kopi. Enggak mencari yang sama sih, tapi saya buat sendiri dan rasanya sudah sesuai saja sudah senang,” tegas Andaru.

Andaru melanjutkan, ketertarikannya terhadap kopi lebih karena nilai historis. Seperti kopi Dampit dan Papua, pasti memiliki sejarah yang berbeda. “Rasa kopi itu beragam. Kopi itu, dia punya sejarahnya. Dia punya ceritanya. Dulu seperti Dampit, itu kan awalnya dari kebun kakao kemudian jadi kopi. Prosesnya juga macam-macam. Mereka punya ciri khas,” ucap Andaru.

Andaru mengaku sebagai penikmat kopi, justru tidak memiliki kopi favorit. Karena baginya, minum kopi tergantung suasana hati. “Kalau pingin yang manis ya buat saja kopi manis. Pingin yang asem ya Flores Bajawa. Pingin yang agak tebal sedikit asem, Papua. Tergantung suasana. Kalau lagi suntuk ya Vietnam Drip. Paling sering coba sigle origin V60,” jelasnya.

Ditanya apakah bakal membuka coffeeshop kedepannya? Andaru masih pikir-pikir. Untuk saat ini, ia ingin menikmati kopinya sendiri. “Kayaknya saya akan mencoba menikmati sendiri,” tuturnya.

Terakhir, pria yang sebelumnya menjabat Kepala Reserse Kriminal Polres Gresik memiliki tips bagi yang ingin menikmati kopi secara benar. “Minum kopi sesuai diri, jangan dipaksain. Jangan terlalu banyak gula. Tapi kalau memang gak suka pahit, ya terserah. Asal suasana hati enak saja sih,” Andaru mengakhiri. [yog/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar