Siapa Dia

Kiai Muhammad Ilyas, Penyebar Agama Islam Pertama di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Ulama kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, Kiai Muhammad Ilyas merupakan ulama pertama penyebar agama Islam di Mojokerto. Beliau yang mendirikan pesantren pertama di bumi Majapahit, Pondok Pesantren (Ponpes) As Sholichiyah.

Kiai Ilyas datang ke Mojokerto sekitar tahun 1870 masehi dan mendirikan Ponpes As Sholichiyah yang terletak di Lingkungan Penarip, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto saat ini dikelola oleh cucu beliau. Yaitu Kiai Muhammad Rofii Ismail.

“Kiai Ilyas lahir di Kesesi, Pekalongan. Menginjak remaja, baliau sudah merantau ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu. Salah satunya ke Pondok Pesantren As Salafie, Babakan, Ciwaringin, Cirebon,” ungkapnya, Sabtu (18/5/2019).

Masih Kiai Rofii, Kiai Ilyas datang ke Mojokerto sekitar tahun 1870 masehi. Saat itu usianya hampir 60 tahun. Di Mojokerto, Kiai Ilyas menikah dengan sepupu dari istri KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Ponpes Tebuireng, Kabupaten Jombang.

“Di Mojokerto, dakwah beliau pada awalnya berjalan alot karena kondisi masyarakat saat itu masih sulit untuk diajak mengaji maupun beribadah. Sehingga Kiai Ilyas sempat berpindah-pindah tempat untuk berdakwah,” katanya.

Kiai Ilyas pernah membangun musala di wilayah Prajuritkulon, Kota Mojokerto,  namun hingga dua tahun berjalan dakwahnya masih menemui jalan buntu. Kemudian berpindah ke wilayah Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

“Namun tetap sama sehingga pindah lagi kesini (Lingkungan Penarip). Di sini baru banyak anak-anak dari daerah lain yang datang belajar ilmu agamaagama dan dakwak beliau berjalan mulus hingga akhirnya mendirikan ponpes (Salaf As Sholichiyah) sekitar tahun 1875 masehi,” jelasnya.

Ponpes As Sholichiyah merupakan ponpes pertama yang didirikan di Mojokerto dengan santri yang datang dari wilayah Jawa Barat. Itu karena tak lepas lepas dari wasiat para guru Kiai Ilyas kepada anak dan cucu mereka agar belajar ke Kiai Muhammad Ilyas.

“Secara perlahan, anak-anak warga Lingkungan Penarip dan sekitarnya mulai mengaji di pondok Mbah Ilyas dan menularkan kepada orang tua mereka masing-masing. Selain mengasuh para santri, semasa hidupnya beliau rutin menulis mushaf Alquran,” ujarnya.

Kitab suci umat Islam itu, oleh Kiai Ilyas ditulis tangan untuk dijual ke orang-orang yang membutuhkan. Setiap mushaf membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menulisnya. Biasanya dibeli oleh orang yang membutuhkan ditukar dengan seekor sapi.

Kiai Ilyas wafat dalam usia 135 tahun. Pesantren yang didirikan Kiai Ilyas melahirkan sejumlah ulama besar di Mojokerto. Antara lain Kiai Ahyat Halimy pendiri Pesantren Sabilul Muttaqin di Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto.

Kiai Yahdi Mathlab pendiri Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto serta Kiai Muhaimin dan Kiai Khusairi, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Pesantren yang dirikan Kiai Ilyas saat ini mempunyai dua lembaga pendidikan.

Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI)  yang menampung 1.300 siswa dan sekolah yang baru dirintis untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang baru mempunyai 30 siswa. Puluhan siswa itu sekaligus mondok di pesantren tersebut. [tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar