Siapa Dia

Kades Cantik Termuda, Kartini Masa Kini Mojokerto

Kades Bicak Mojokerto, Yunita Dwi Ratnasari.

Mojokerto (beritajatim.com) – Siapa yang tak kenal dengan Raden Ajeng Kartini? Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 ini, merupakan pelopor emansipasi perempuan pribumi. Bagi Kartini, seorang perempuan harus memperoleh persamaan pendidikan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Salah satu Kartini masa kini yang dimiliki kabupaten Mojokerto adalah Yunita Dwi Ratnasari. Perempuan kelahiran Jember, 7 Juni 1992 ini terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) perempuan cantik, termuda dan single pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak, 23 Oktober 2019 lalu.

Ditemui di kantornya, di Balai Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ia mengaku dengan status singlenya membuat ia lebih banyak waktu untuk melayani masyarakatnya. “Karena untuk menjadi Kepala Desa, kita harus mengabdikan sepenuhnya waktu kita untuk masyarakat,” ungkapnya, Rabu (21/4/2021).

Sehingga, masih kata anak pertama pasangan, Sugiat (56) dan Katinem (56), ia tidak kesulitan membagi waktu untuk masyarakat. Meski ia mengaku sering menjadi bahan gojlokan terkait statusnya yang belum menikah, lulusan Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Komunikasi tahun 2014 ini menanggapi santai.

“Saya kan dekat dengan karang taruna, memang sering ditanya ‘Kapan nikah? Kapan nikah?, kalau pertanyaan itu diulang terus juga akan risih. Tapi saya menyikapi dengan santai karena jodoh sudah ada yang ngatur. Warga menyatakan cinta? Belum ada,” ceritanya.

Diakui sebelumnya tidak ada kepikiran sama sekali untuk menjadi Kepala Desa. Namun karena permintaan sang ayah dan dukungan masyarakat, ia pun mencalonkan diri. Ini karena Undang-undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Kades Bicak Mojokerto, Yunita Dwi Ratnasari.

“Iya ada grade usia dan pendidikan, semakin muda dan pendidikan tinggi ada nilai lebih. Waktu itu, bapak saya usia 50 lebih dan pendidikan SMA otomatis akan tergeser dengan calon lain sehingga saya yang diminta mencalonkan. Karena saya dianggap lebih mudah, kebetulan adik saya cowok tapi masih SMK,” urainya.

Meski bukan warga asli Bicak, tidak membuat perempuan yang hobby nonton bola ini cukup mudah meraih simpati warga. Terbukti saat mencalonkan diri dalam Pilkades serentak 2019 lalu, dari lima calon ia mendapatkan suara terbanyak. Bahkan selisih suara dengan rivalnya sampai 500 suara.

“Saya lahir di Jember, besar di Banyuwangi, SMA di Kota Mojokerto, kuliah di Malang dan baru jadi warga Bicak saat mau Pilkades kemarin. Jadi warga sini waktu mau menjadi Kepala Desa pindah ke sini, tahun 2017. Memang bapak pensiun dari TNI tahun 2017 niatnya pulang karena lama di kota orang dan rumah tidak ada yang nempati,” katanya.

Sang ayah juga ingin mencalonkan diri sebagai Kades, namun karena grade usia dan pendidikan sehingga ia yang maju. Sehingga bursa Pilkades serentak 2017 lalu, merupakan pertarungan anak dan anak. Ini lantaran, sang rival yang juga perempuan anak dari Kades sebelumnya dua periode.

 

“Iya cita orang tua yang saya teruskan dan karena dukungan masyarakat juga akhirnya saya maju. Iya meski saya jarang pulang ke sini, wong jarak 5 rumah saja tidak kenal saya tapi karena ayah dan kakek-nenek saya jadi warga mendukung saya. Karena warga ingin perubahan di Desa Bicak,” jelasnya.

Sehingga dua belum sebelum pendaftaran ia gunakan untuk menyapa masyarakat Desa Bicak. Memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan programnya saat menjadi Kades Bicak jika nantinya terpilih. Alhasil, ada lima calon yang mendaftar sebagai Kades Bicak dengan usia yang seangkatan.

“Dua bulan sebelum pendaftaran, saya diminta pulang oleh bapak saya karena saya kan kerja di BFI Finance Malang. Saya nangis, saya tidak mau kenapa harus menjadi Kepala Desa. Saya cari kerja di luar saja tapi banyak warga yang datang ke rumah minta bapak mencalonkan, kalau bukan bapak, saya saja. Siapa lagi yang nyalon, minta warga,” tuturnya.

Dengan berbagai pertimbangan dan masyarakat juga banyak yang meminta karena ingin perubahan sehingga ia pun mencalonkan diri. Dari 3.800 suara warga, iapun menang dengan perolehan suara sebanyak 1.800 suara. Iapun mengaku sosok RA Kartini benar-benar menjadi pamitan baginya.

“Sosok Ibu Kartini merupakan pahlawan wanita yang sangat luar biasa yang perlu kita jadikan panutan. Apalagi wanita-wanita milineal seusia saya, RA Kartini wajib kita idolakan. Karena melalui beliaulah muncul emansipasi wanita, mungkin pengabdian yang kita bisa lakukan tidak sama dengan dulu,” ucapnya.

Kades Bicak Mojokerto, Yunita Dwi Ratnasari.

Yakni wanita tidak hanya bisa membaca, menulis tapi lebih dari itu, wanita masa kini harus bisa berkontribusi positif terutama saat ini kaitan dengan ekonomi. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Untuk mempresentasikan seorang RA Kartini dalam kehidupan sehari-hari, menurutnya, ia selalu menanamkan emak-emak Desa Bicak untuk meneruskan perjuangan RA Kartini.

“Meneruskan perjuangan RA Kartini di masa kini. Kalau untuk ibu-ibu dan istri yang baik, itu merupakan bentuk representasi dari seorang RA Kartini. Apa yang bisa saya ambil dari RA Kartini, yakni saya harus bisa menjadi wanita yang tangguh dalam segala situasi. Contohnya, saat pandemi Covid-19 seperti saat ini,” paparnya.

Sebagai seorang Kades mempunyai tanggung jawab penuh atas kondisi masyarakat di Desa Bicak. Terkait naik turun angka penyebaran Covid-19 di Desa Bicak, menurutnya mau tidak mau gander harus di nomor duakan. Bahwa wanita saat ini sama dengan laki-laki, tanggungjawabnya sebagai seorang Kades untuk menjaga Desa Bicak bebas dari Covid-19.

“Di tengah pandemi, saya selalu menghimbau kepada ibu-ibu di Desa Bicak untuk merepresentasikan sosok RA Kartini di kehidupan sehari-hari. Di tengah pandemi Covid-19, sosok perempuan-perempuan tangguh sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian mandiri keluar melalui ketahanan pangan,” tegasnya.

Tahun 2021, Yunita menggalakan perkarangan pangan lestari. Dimana ibu-ibu dan keluarga Desa Bicak bisa mandiri dan memenuhi kebutuhannya masing-masing. RA Kartini masa kini harus bisa menunjukkan ketangguhan dan kegigihan untuk berkontribusi positif terhadap ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

“Di lingkup desa, ibu-ibu harus bisa membantu perekonomian keluarga terutama memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya sebagai seorang Kepala Desa menggerakkan masyarakat terutama ibu-ibu PKK untuk terus menggalakkan perkarangan pangan lestari yang tujuannya untuk meningkatkan perekonomian keluarga di Desa Bicak sehingga secara mandiri bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. [tin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar