Siapa Dia

Jalan Hidup Dokter Tirta dan Bisnis Cuci Sepatu

Dokter Tirta untuk memotivasi para penerima Beasiswa Banyuwangi Cerdas

Banyuwangi (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Banyuwangi sengaja mendatangkan Tirta Mandira Hudhi, atau yang lebih populer dipanggil dokter Tirta untuk memotivasi para penerima Beasiswa Banyuwangi Cerdas. Tentu, bagi orang awam akan bertanya siapa dr. Tirta sebenarnya.

Beberapa saat acara bertajuk sarasehan itu dimulai. Tanpa pikir panjang, sang dokter pun berucap memperkenalkan diri.

Ia duduk bersebelahan dengan Ketua Tim PKK, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas yang dalam kesempatan ini juga sebagai undangan, didampingi oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno.

Ratusan penerima Beasiswa Banyuwangi Cerdas berjajar mendengarkan dan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker tentunya. Karena acara digelar masih di musim pandemi.

Dan mulailah dr. Tirta menceritakan jalan hidupnya. Terutama kiat untuk tetap mandiri di tengah situasi sulit, seperti pandemi saat ini. Tak pernah bosan berusaha, meski sempat jatuh lalu bangkit lagi.

Hal itu dia lakoni saat kuliah. Selain aktif kuliah dan berorganisasi Tirta juga mulai menjalankan usaha. Dia mulai usaha jual beli sepatu, membeli sepatu dan menjualnya kembali. Ternyata usahanya berjalan lancar.

“Namun bisnis saya pernah bangkrut. Saya pernah kulakan beli sepatu senilai Rp 50 juta, tapi yang datang kiri semua. Saat itulah saya jatuh, bahkan saya harus makan nasi aking dan sarden tiap hari,” katanya.

Tapi tak lama dia bangkit. Dia membuka bisnis jasa perawatan dan cuci sepatu premium. Dari bisnis itu ternyata berjalan mulus. Hingga akhirnya kini dia memiliki 62 tempat perawatan dan cuci sepatu dengan lebih dari 300 karyawan. Selain itu Tirta juga menjadi pengamat sepatu sneakers.

Alumni Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta itu mengaku selama menempuh pendidikan formal juga merupakan penerima beasiswa. Bahkan dia sempat menolak berbagai beasiswa dari luar negeri. Namun, bagi Tirta meski mendapat beasiswa tetap harus ada hal lain perlu dibanggakan.

“Memang bangga dapat beasiswa, Tapi yang terpenting adalah bisa mandiri dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Itu sesuatu yang harus kita banggakan,” kata pria yang berhasil lulus di tahun 2013 dengan predikat cumlaude itu.

 

Dokter Tirta untuk memotivasi para penerima Beasiswa Banyuwangi Cerdas

Tirta lalu berbagi tips pada para penerima Banyuwangi Cerdas. Hal yang diperlukan dalam membangun usaha ada tiga hal. Circle (lingkungan), manajemen keuangan, dan citra.

“Biasanya mahasiswa kedokteran lingkaran lingkungannya hanya mahasiswa kedokteran. Tapi saya dulu punya banyak teman di luar kedokteran, sehingga membuat pikiran saya terbuka,” kata Tirta.

Selain itu yang penting adalah manajemen keuangan. Masalah yang sering terjadi saat memulai usaha adalah cara mengatur keuangan. Bagi yang memulai usaha harus memiliki banyak rekening, untuk membedakan mana rekening untuk pemasukan dan pengeluaran.

“Yang terpenting lagi adalah citra. Bagaimana bisa membuat citra produk baik di mata konsumen,” pesannya.

Di ujung acara, terselip motivasi dari Ketua Tim PKK, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Tak jauh dari prakata dan kisah dr. Tirta, istri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas itu juga memompa semangat peserta beasiswa agar mengasah skill-nya selama pandemi ini.

“Pembelajaran saat ini banyak dilakukan secara daring, maka manfaatkan waktu yang lebih longgar ini untuk menambah dan memperdalam ketrampilan dan passion kita,” kata Ipuk.

Usaha tak melulu pada jurus keilmuannya. Berbagai sumber dan kesempatan dapat dijalankan.

“Seperti yang dilakukan dr. Tirta yang meskipun profesinya dokter, namun dia juga berhasil mengembangkan bisnis yang tidak berhubungan dengan pendidikan formalnya,” pungkas Ipuk. (rin/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar