Siapa Dia

Isi Hati Soedarman, Wabup Malang yang Tak Kunjung Dilantik

Malang (beritajatim.com) – Drs Mohamad Soedarman MM Ak Ca, mengatakan, usai terpilih menjadi Wakil Bupati Malang sejak 9 Oktober 2019 lalu melalui Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Malang, SK penetapan sekaligus pelantikan dirinya untuk mendampingi HM.Sanusi selaku Bupati Malang yang sah, belum juga ada kepastian.

“Sudah hampir empat bulan kami hanya bisa menunggu. Ini sebenarnya beban bagi saya dan keluarga. Tapi kami yakin, kalau Allah sudah berkehendak, manusia tidak akan sanggup menghalangi,” terang Soedarman, Sabtu (18/1/2020).

Ditemui beritajatim.com di rumahnya di Perum ABM, Kota Malang, Soedarman mengaku nasibnya usai terpilih sebagai Wakil Bupati Malang, seakan tergantung.

Pria yang berprofesi sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara ini tak kunjung dilantik. Alasan tak kunjung dilantiknya Soedarman lantaran masih menunggu surat keputusan (SK) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Menurut Soedarman, ia sudah menjalin komunikasi dengan beberapa pihak. Termasuk, menanyakan SK penetapan dirinya baik melalui partai pengusung dan juga Bupati Malang, HM.Sanusi. “Terakhir kita komunikasi dengan Pak Sanusi akhir tahun 2019 lalu. Ya kita disuruh menunggu. Alasannya sih lama karena ada pergantian Mendagri waktu itu setelah saya terpilih,” terangnya.

Sejatinya, beberapa hari setelah terpilihnya Soedarman, Pemerintah Kabupaten Malang juga sudah berkirim surat pemberitahuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur atau Pemprov Jatim. Pemprov Jatim, dalam hal ini Gubernur, Khofifah Indar Parawansa, juga telah meneruskan atau mengirimkan surat pemberitahuan kepada Kemendagri, agar Soedarman segera dilantik.

Namun ternyata, waktu itu belum dimungkinkan untuk melaksanakan pelantikan Soedarman. Pergantian Mendagri dari Tjahjo Kumolo ke tangan Tito Karnavian disebut-sebut jadi salah satu sebabnya.

“Kami juga menyadari, saat itu di Jakarta (Kemendagri, red) dengan begitu banyaknya permasalahan, sehingga kan nggak fokus ngurusi ke Malang saja. Kalau selama Malang ini nggak ada yang mengawal, ini bisa terabaikan. Saya memahami, tapi tetap kita komunikasi. Namun sejauh mana (pemerintah) Kabupaten dan DPRD ini mengawal nah itu saya detailnya kan gak tahu. Cuma kata pak Bupati, masih proses, masih proses, tapi sampai dimananya itu loh,” papar Soedarman.

Sejak terpilih hingga sekarang, Soedarman mengaku masih kerap menjalin komunikasi dengan Bupati Sanusi terkait nasibnya.

“Tahun baru saya masih komunikasi, saya bilang ‘bapak Bupati, kalau ada giat apa dikabari mungkin saya bisa dilibatkan. Namun sejauh ini belum ada info-info lebih lanjut. Mungkin, beliaunya dengan kesibukannya yang tinggi juga, dan saya paham,” urainya.

Soedarman berdalih tetap positif thinking. Seandainya jabatan Wakil Bupati Malang yang ia menangkan setelah dipilih DPRD secara langsung hanya permainan politik belaka, Soedarman mengaku tetap berlapang dada.

“Kalaupun mereka mempermainkan, saya yakin takdir Allah itu tidak akan semudah itu dibelokkan oleh manusia. Kalau saya yang penting begini, saya berusaha, saya positif thinking, artinya kita sunatullah ya, bahwa manusia tidak boleh diam. Terus komunikasi dengan Bupati, dengan pak Didik (Sekretaris Daerah, Didik Budi Muljono, red), saya juga cari info ke Kemendagri, saya komunikasi juga dengan Bakorwil,” bebernya.

Bapak empat orang anak ini melanjutkan, dirinya bakal sangat menyesal ke depan bila hanya memiliki waktu yang pendek untuk mengabdi kepada masyarakat Kabupaten Malang. Mengingat, jabatan Bupati dan Wakil Bupati Malang secara sah, bakal berakhir pada Februari 2021 nanti.

“Yang saya sesalkan itu, dengan waktu sangat pendek itu, apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat Kabupaten Malang. Bayangkan saja, kita terpilih bulan Oktober 2019. Tapi sampai hari ini, belum ada kepastian sama sekali. Sudah berapa bulan terlewati, itu saja yang menjadi beban saya,” tegas Soedarman.

Alumni SMA 2 Pamekasan tersebut pun menuturkan, memimpin wilayah Kabupaten Malang yang luas dengan penduduk hampir mencapai 3 juta jiwa memang berat. Oleh karenanya, tugas seorang Bupati idealnya harus didampingi seorang wakil.

“Kabupaten Malang ini kan sangat luas ya, memang perlu dibantu,” ujar pria yang hobi bermusik ini.

Soedarman selama ini juga sedikit terganggu jika ada rekan atau siapa saja yang bertanya soal kepastian dirinya sebagai Wakil Bupati Malang. “Kalau istri sama saya, kita saling menguatkan, sudah pemilihan tapi ada teman nanya kok belum dilantik sih, ada apa sih,” kenang Soedarman.

Selama belum ada kejelasan pelantikan ini, Soedarman tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Sesekali, dia juga mengikuti agenda Pemerintah Kabupaten Malang, seperti Gema Desa apabila tidak ada jadwal mengajar di kampus.

Ditanya soal kemungkinan dirinya maju pada kontestasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang 2020, Soedarman tak berpikir sampai sejauh itu. Dirinya, saat ini, hanya ingin fokus bekerja dan mengabdi untuk masyarakat Kabupaten Malang.

“Jangankan mikir nyalon Pilkada Kabupaten Malang, SK saja belum turun. Saya ini kan belum bekerja, tapi mau nyalon gimana, kekuasaan bagi saya bukan itu, tugas kita pemimpin kan bukan gitu. Saya itu orangnya kerja dulu, dari pekerjaan saya itu masyarakat bisa menilai pantas atau tidak. Pemimpin ini kan tugasnya besar,” pungkas Sudarman.

Seperti diketahui, dalam pemilihan Wakil Bupati Malang sisa periode 2016-2021 di ruang rapat paripurna DPRD Kabupaten Malang, Jalan Panji Kepanjen, Rabu (9/10/2019), Soedarman berhasil meraup 44 suara.

Soedarman berhasil mengandaskan perlawanan koleganya, Abdul Rosyid Assadullah yang hanya meraih 5 suara dari total 50 anggota DPRD. [yog/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar