Siapa Dia

Inilah Profil Yoyok Mulyadi, Calon Bupati Situbondo

Situbondo (beritajatim.com) – Yoyok Mulyadi tengah menjalani hari-hari panjang. Masa kampanye pemilihan kepala daerah di Situbondo, Jawa Timur, membuat calon bupati yang diusung koalisi Partai Kebangkitan Bangsa, Hanura, Nasional Demokrat, Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera ini harus rajin turun menemui warga.

Berpasangan dengan calon wakil bupati Abu Bakar Abdi, Yoyok ingin menang dengan selisih tebal. “Kalau menang tipis kan masih berproses, mungkin digugat di Mahkamah Konstitusi. Kalau menang tebal kan enak, bisa tidur,” katanya.

Nama Yoyok sebenarnya tak asing bagi warga Situbondo. Sebelumnya pada 2010, dia dikenal sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan. Lima tahun berikutnya, ia mendampingi Dadang Wigiarto sebagai wakil bupati. Jadi, ia menilai, pencalonannya menjadi bupati adalah bagian dari melanjutkan proses pembangunan yang sudah dilakoninya selama ini.

“Pak Bupati (Dadang Wigiarto) berpesan, apa yang belum dikerjakan beliau harus saya tutupi pada masa pemerintahan saya nantinya. Kemudian ide-ide baru harus segera dimunculkan. Sebelumnya saya ‘mengekor’, sekarang jadi ‘kepala’. Kalau dulu dengan Pak Dadang, kami sering saling mengisi dan berdiskusi, tapi keputusannya diserahkan kepada bupati,” kata Yoyok.

Saat mendampingi Dadang, Yoyok ingin Kabupaten Situbondo keluar dari zona daerah tertinggal dan termiskin. “Itu sudah tercapai, dan hampir semua prestasi sudah dicapai Pak Bupati Dadang bersama saya, terutama aplikasi keuangan negara. Kami mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (untuk Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan) dan Sakip (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan) mendapat nilai A,” katanya.

Ada sejumlah sektor yang akan dibenahi Yoyok bersama Abu Bakar. “Kami punya beberapa sektor unggulan yang tergagas kemarin. Salah satunya pariwisata. Pariwisata ini memiliki dampak begitu luas terhadap semua sektor, termasuk sektor ekonomi, jika ditangani dengan baik,” kata kelahiran Situbondo, 8 Mei 1962 ini.

Sektor pertanian dan peternakan, peternakan dan perikanan, dan petanian dan perikanan akan dikolaborasikan dalam ekonomi kebersamaan. “Kami memiliki beberapa tanah marjinal yang perlu digarap. Tanah-tanah subur tetap kami pertahankan untuk pertanian,” kata Yoyok.

“Kami juga punya gambaran bahwa desa belum maksimal, meski ada dana desa dan alokasi dana desa. Itu memerlukan suntikan dana baru. Saya prioritaskan nanti pada desa-desa tertentu dianggarkan bantuan khusus, karena banyak desa yang memiliki banyak dusun. Membangun desa adalah membangun kabupaten. Itu kunci pembangunan di Situbondo,” kata Yoyok.

Yoyok mengawali perjalanannya dalam pilkada kali ini dari restu kultur Nahdlatul Ulama dan KH Cholil As’ad Syamsul Arifin. Dia tidak memilih sosok calon wakil bupati yang hendak berduet dengannya. “Semua proses politik di kultur tak sama dengan proses politik partai. Saya sendiri terpilih karena hasil istikharah (salat meminta petunjuk, red), dan Pak Abu sendiri terpilih karena hasil istikharah,” katanya. Kekuatan kultural NU ini yang mempengaruhi kekuatan struktur partai.

“Ra Cholil berpesan kepada saya, selain di pemerintahan, agar juga membangun agama (masing-masing) di setiap dada warga Situbondo. Begitu terbangun di dada, akan mudah membangun fisik,” kata Yoyok.

Yoyok diminta para kiai agar meniru politik Nabi Muhammad SAW. “Politik sangat bersih. Yang membuat kotor adalah orangnya. Saya dianjurkan beliau (Cholil As’ad) agar tidak mencari kesalahan orang, jangan sampai menghina orang. Pokoknya dilarang merusak sendi-sendi politik yang ada,” katanya.

Salawat menjadi jurus Yoyok dan Abu Bakar dalam berkampanye. “Salawat adalah cara paling gampang yang bisa dijalankan masyarakat,” katanya.

Saat Kiai Cholil dan sejumlah ulama memilih Abu menjadi calon wakil bupati untuknya, Yoyok menyatakan patuh dan taat. Apalagi dia kenal Abu. “Pak Abu adalah kepala dinas yang punya reputasi baik dan sangat pas jika disandingkan dengan saya. Alhamdulillah, Pak Abu bisa diterima semua pihak di dinas. Oleh media massa dan LSM, beliau bisa diterima baik. Itu modal dasar besar membangun Situbondo,” katanya.

Yoyok menegaskan pembangunan Situbondo hanya bisa dilakukan bersama-sama oleh semua pemangku kepentingan. “Saya percaya akan tetap harmonis dengan Pak Abu. Kalau dilihat dinamikanya, beliau sangat patuh terhadap apa yang kami kerjakan,” kata alumnus Institut Teknologi Nasional Malang ini.

Yoyok akan senantiasa minta pendapat Abu dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan. “Kami berdua ini satu pasang, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Saya yakinkan kepada masyarakat Situbondo, bahwa saya dan Pak Abu akan lebih harmonis daripada yang ada sekarang,” katanya.

Bagaimana dengan dukungan keluarga? “Keluarga insya Allah mendukung. Ini beda dengan pemilihan kepala daerah pada 2015. Saat saya pertama kali maju jadi calon wakil bupati pada 2015, keluarga menolak. Sekarang tak ada halangan. Bahkan keluarga mendorong bagaimana melaksanakan amanah ini dengan baik. Keluarga seratus persen mendukung semuanya,” kata suami Sri Susilowati dan ayah tiga anak ini. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar