Siapa Dia

Inilah Profil M.B. Firjaun Barlaman, Calon Wabup Jember

Jember (beritajatim.com) – Jalan hidup Muhammad Balya Firjaun Barlaman adalah politik. Setelah sebelas tahun menarik diri dan lebih banyak mengurusi pondok pesantren, tahun ini dia kembali menempuh jalan itu dengan menjadi calon wakil bupati di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendampingi Hendy Siswanto.

Firjaun adalah putra KH Achmad Shiddiq, Rais Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1984-1991. Lahir pada 12 Februari 1968, namanya mengingatkan pada perlawanan terhadap kaum komunis. “Firjaun itu bermakna ‘sikat’. Sikatnya kuda, pembersih kaki kuda. Barlaman artinya parlemen. Dulu waktu saya lahir, ada pembersihan parlemen dari oknum komunis,” katanya.

Keluarga besar Firjaun dikenal sebagai Keluarga Talangsari atau Bani Shiddiq. Ini adalah keluarga besar keturunan KH Shiddiq, salah satu ulama ternama NU. KH Achmad Shiddiq berduet dengan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid menahkodai NU dan dikenal sebagai tokoh yang berjasa ‘mendamaikan ketegangan tafsir ideologis’ antara Islam dan Pancasila. Sementara Talangsari adalah nama kawasan pusat kota Jember, tempat dua pondok pesantren Bani Shiddiq, Ash-Shiddiqi Putra dan Ash-Shiddiqi Putri, berada.

Dari sebelas bersaudara, hanya Firjaun yang menggeluti dunia politik. Sebelumnya, Firjaun pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Kediri 1999-2004 dan anggota DPRD Jawa Timur 2004-2009. Dia menjalani hidup seperti doa yang dititipkan orang tuanya pada namanya: Barlaman. Parlemen.

Achmad Shiddiq sebenarnya tak pernah secara khusus mengajarkan ilmu siyasah (politik) kepada sang anak. “Cuma saya sering mengikuti bapak ke mana saja, termasuk ke pengajian. Hanya senang. Tidak tahu kalau kemudian bakat itu kemudian menurun. Bapak dulu juga sempat di pemerintahan juga. Saya selalu mendampingi bapak, sampai saat mau wafat pada 1990,” katanya.

Firjaun belajar banyak tentang politik dan kepemimpinan dari perjumpaan dan perbincangan sang ayah dengan KH Abdurrahman Wahid. “Jadi ketika di muktamar, musyawarah nasional, termasuk ketika Gus Dur bermalam di rumah, mereka ngobrol,” katanya.

“Bapak menyimpulkan bahwa Gus Dur ini sosok yang unpredictable. Tidak bisa ditebak. Beliau ini tipe orang yang ketika diomongi, malah nuturi. Ketika dilawan, malah menentang. Ketika disombongi, juga menyombongkan diri. Tapi kalau ‘dislondohi’, ketika kita merendah, Gus Dur jauh lebih merendah. Menghadapi tipikal orang seperti Gus Dur harus dengan hati, tak bisa hanya kasat mata,” kata Firjaun.

Achmad Shiddiq pernah berpesan kepada Firjaun agar tak pernah meminta menjadi pemimpin. “Ketika kamu mendapat kepemimpinan hasil dari meminta, kami tidak akan ditolong oleh ‘Pengeran’ (Tuhan, red). Tapi kalau kamu mendapatkan kepemimpinan tanpa meminta, maka kamu akan disiapkan penolong-penolong kebaikan oleh Allah SWT,” katanya.

Pesan sang ayah ini diingat benar oleh Firjaun. “Ketika saya masuk ke dunia politik, kakak saya Muhammad Farid Wajdi mengingatkan pengejawantahan pesan Bapak: niatono mondok (niatkanlah seperti masuk pondok pesantren),” katanya.

Filosofi pesan Farid ini sangat mendalam. Dengan memperlakukan dunia politik seperti pondok pesantren, maka Firjaun selalu diingatkan agar senantiasa bertindak lurus sesuai aturan dan tuntunan agama. “Namanya orang mondok, ingin belajar baik, kalau melakukan hal tidak baik kan kontradiktif. Itu menjadi semacam benteng, ketika saya hampir larut, saya diingatkan ‘elingo kowe mondok’. Sama ketika ke masjid, kita ingin melakukan kebaikan. Masa ke masjid ingin membuka kotak amal,” katanya.

Sebelum di Jember, Firjaun lebih banyak tinggal di Kabupaten Kediri. “Saya di Kediri memang berniat mondok. Lalu menikah, bertempat tinggal di situ, lalu pada 2009 saya pulang ke Jember dan mengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra. Itu pun masih mondar-mandir Jember-Surabaya,” katanya.

Setelah purnatugas dari DPRD Jatim, Firjaun memilih berhenti. “Saya sudah berusaha berhenti dari dunia politik, sebelas tahun berhenti. Tapi hari ini saya ditarik-tarik lagi ke birokrasi. Ya mudah-mudahan ini jalan keselamatan saya,” katanya.

“Awalnya saya tidak ada minat. Bahkan berkali-kali Pak Haji Hendy meminta saya, saya tetap menolak. Ketika dirapatkan dalam struktur NU, saya juga menolak. Walau pun keputusannya mendukung Pak Haji Hendy dengan menugaskan saya, saya tetap menolak,” kata Firjaun.

“Bahkan ketika kemudian (saya diminta) oleh salah satu perwakilan kiai Jawa Timur, saya masih menolak. Sampai kemudian saya dipanggil beliau-beliau. Karena NU ini adalah organisasi para ulama, tentu kendali utama adalah ulama. Tentu saya sebagai santri, ketika sudah didawuhi (diperintah oleh) para masyayikh, para kiai, maka saya tidak ada kata lain selain samikna wa athokna (saya mendengar dan saya taat),” kata Firjaun.

“Saya bismillahi tawakaltu alallah (dengan nama Allah, saya menyerahkan diri kepada Allah). Saya tidak akan kemudian (berpikir) bagaimana ke depannya, itu urusan Allah. Tapi ini bagian dari saya berikhtiar untuk ikut membenahi Jember,” kata Firjaun.

Dia menyatakan ingin membenahi Jember. Firjaun melihat ada hal prinsip dalam pilkada kali ini. “Sehingga saya yang sudah sebelas tahun meninggalkan dunia politik, diminta kembali para masyayikh untuk mendampingi Pak Haji Hendy. Mudah-mudahan niat kami terus-menerus dan tidak berbelok di tengah jalan,” katanya.

Firjaun memahami betul posisinya jika nanti terpilih menjadi wakil bupati mendampingi Hendy. “Ada satu kiai yang memberikan gambaran, ibarat awak bus, saya ini kondekturnya. Justru kondektur ini yang menentukan berhenti dan berjalannya bus. Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana bus itu. Kalau sopir tidak manut dengan kondektur, bagaimana?”

Firjaun berjanji akan benar-benar memposisikan diri sebagai kondektur dalam bus Pemerintahan Kabupaten Jember. “Kalau nanti misalnya saya tidak difungsikan atau sopir ini tidak sesuai tujuan, ibarat mau ke Surabaya tapi malah belok ke Malang, saya akan ingatkan. Kalau mau ya kita jalan bersama. Kalau tidak mau, saya akan turun dari bus,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar