Siapa Dia

Inilah profil Ifan Ariadna Wijaya, Calon Wakil Bupati Jember

Jember (beritajatim.com) – Ifan Ariadna Wijaya dibesarkan dalam jalur jurnalisme. Selepas kuliah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, dia mengawali karirnya di kelompok media Trans pada 2001 . Dia berkarir di stasiun televisi Lativi pada 2002-2007 dan MNC Group pada 2007-2012.

Ifan membangun relasi dan koneksi dengan sejumlah kalangan selama menjadi wartawan. Apalagi, ia sempat menjadi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jakarta. “Jurnalis memiliki all access. Dari situlah, saya memiliki banyak pengalaman dan kenalan yang akhirnya menjadi modal jejaring sosial, politik, dan ekonomi,” katanya.

Berbekal jejaring tersebut, lelaki kelahiran Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ini kemudian memilih meninggalkan dunia kewartawanan dan membangun bisnis rumah produksi bersama kawan-kawannya. Mereka memproduksi iklan-iklan layanan masyarakat di beberapa kementerian.

“Dari situ, kemudian kami kembangkan ke bidang-bidang lainnya. Sekarang perusahaan saya lebih terfokus pada alat kesehatan, teknologi informasi, dan supporting alat persenjataan pemerintahan,” kata mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini.

Dunia politik tidak asing bagi Ifan. Apalagi saat bekerja di sejumlah stasiun televisi, ia sempat ditugasi menangani berita-berita politik dan bertugas di Istana Kepresidenan pada 2004, selain berita ekonomi dan hiburan. “Itu membentuk karakter saya dan menjadi modal untuk membangun jejaring, dan akhirnya bisa saya rasakan saat ini,” kata putra pasangan Sukardi Ahmad dan Nurul Mahmuda ini.

Setelah lama berkelana di Jakarta, Ifan memilih pulang ke kampung halaman tahun ini untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah di Jember. “Dari awal, saya sebenarnya tidak punya keinginan sama sekali untuk kembali ke Jember, ikut membangun Jember dengan cara ikut kontestasi pilkada dan menjadi eksekutif,” katanya.

Ifan berubah pikiran setelah berdiskusi dengan sejumlah teman dan melihat kondisi kota kelahirannya yang tidak beranjak membaik selama lima tahun terakhir ini. “Malah kecenderungannya jalan di tempat, bahkan mundur, dibandingkan waktu saya tinggal di Jember sejak SD hingga SMA,” katanya.

Ifan ingat pada masa-masa itu, menjadi warga Jember adalah sebuah kebanggaan. “Jember saat itu jadi barometer, acuan. Anak luar daerah ingin bersekolah di Jember, karena Jember punya berbagai kelebihan dibandingkan kabupaten-kabupaten tetangga. Tapi kelebihan itu sekarang tidak tampak, bahkan seakan-akan hilang,” katanya.

Keinginan Ifan pulang kampung didukung sahabat-sahabatnya dari kalangan media massa, pengusaha, aktivis, dan partai politik. “Semua mendorong dan memberikan support penuh kepada saya agar ikut kontestasi pilkada: untuk mengubah Jember menjadi lebih baik, saya harus ikut di dalamnya. Salah satu cara ya mengikuti kontestasi pilkada,” katanya.

Ifan lantas resmi mendeklarasikan pencalonannya kepada media massa, Selasa (4/2/2020). Saat itu, ia menyatakan, ada tugas dari elite-elite di pusat dari beberapa partai untuk turun berkompetisi di Jember. “Mereka yang akan menyelesaikan apa yang jadi modal saya turun bersaing di Jember ini,” katanya

Ifan berjanji, jika terpilih menjadi bupati, akan mengupayakan Jember bisa bersaing dengan kabupaten tetangga. “Banyak sekali yang harus kita ubah dan benahi. Kalau kita lihat 10-15 tahun lalu Jembet jadi kota barometer di Tapal Kuda. Tapi sekarang kita kembalikan ke teman-teman: seperti apa Jember sekarang,” katanya.

Pertanian dan pariwisata, terutama industri kreatif, akan menjadi sektor prioritas yang akan dikembangkan Ifan. “Saya sudah berdiskusi dengan beberapa partai yang saya tidak bisa sebut. Waktu pendaftaran, pasti akan ketahuan partai-partai apa yang akan mengusung saya,” katanya.

Ifan sadar terlambat muncul ke hadapan publik, karena saat itu pemungutan suara pilkada dijadwalkan pada Juni 2020. “Tapi saya kira itu bukan masalah besar. Ada strategi dari kami untuk mengejar ketertinggalan dari para kandidat yang lebih dulu muncul,” katanya.

Namun pandemi Covid-19 membuat jadwal pemungutan suara diundur menjadi 9 Desember 2020. Ini peluang bagi Ifan untuk mendekati Partai Kebangkitan Bangsa dan sejumlah partai lainnya. Latar belakangnya sebagai santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra mempermudah komunikasi dengan kalangan nahdliyyin. Apalagi ayahnya semasa hidup adalah pengurus NU Ranting Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari.

Ifan menyambangi kiai-kiai maupun pengurus NU Jember dan NU Kencong untuk meminta restu. Salah satu kiai yang disambanginya adalah Muhammad Balya Firjaun Barlaman, pengasuh Ash-Shiddiqi Putra yang belakangan justru menjadi calon wakil bupati mendampingi Hendy Siswanto.

Namun politik bukanlah jalan lurus dan mulus. Ifan harus berkomunikasi dan berkompromi, dan akhirnya ia menjadi calon wakil bupati mendampingi Abdus Salam Alamsyah. Mereka diusung koalisi PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Golkar, Perindo, Partai Amanat Nasional, dan Berkarya.

Dua pasangan ini identik dengan pasangan muda asli Jember dari desa. Salam lahir pada 10 Mei 1983, dan Ifan lahir pada 25 Oktober 1979. “Secara konsep, insya Allah kami bisa bersaing: bagaimana cara membangun Jember ke depan, kembali mencapai puncak keemasannya yang sudah pernah terjadi. Kami akan berfokus pada sektor utama yang berperan dalam kehidupan masyarakat, yakni pertanian,” kata Ifan.

Ifan percaya diri membangun Jember melalui sektor pertanian. “Belanda dulu membuka lahan di Jember bukan asal-asalan, tapi melakukan riset lebih dulu di bidang pertanian. Kualitas tanah di Jember lebih baik dibandingkan daerah-daerah sekitarnya,” katanya.

Jika memimpin Jember bersama Salam, Ifan akan membangun badan usaha milik daerah khusus pertanian dan pangan. “BUMD tersebut bisa kami tugasi untuk hadir saat masyarakat Jember panen raya. Mereka akan beli komoditas pertanian saat panen raya agar harga terjaga,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar