Siapa Dia

Inilah Profil Calon Bupati Jember Faida

Faida, calon bupati petahana Jember (dok Humas Pemkab)

Ini kontestasi pemilihan kepala daerah kedua yang diikuti Faida di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Lima tahun sebelumnya, perempuan berjilbab ini memenangi pilkada bersama calon wakil bupati Abdul Muqiet Arief. Tahun ini, dia menggandeng Dwi Arya Nugraha Oktavianto dan mendapat nomor urut 1.

Faida adalah anak ketiga pasangan dr. Musytahar Umar Thalib dan Widad Thalib yang dilahirkan di Malang, 19 September 1968. Ayahnya adalah pengelola salah satu rumah sakit di Glenmore Banyuwangi. Faida menghabiskan masa kecilnya di Banyuwangi, bersekolah di SD Negeri di Kalibaru dan melanjutkan pendidikan ke SMP Kalibaru.

Faida pindah ke Jember untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1. Dari sana, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya dan lulus pada 1994. Gelar magister manajemen rumah sakit (MMR) diraihnya di Universitas Gajah Mada di Jogjakarta pada 1998.

Sejarah keluarga Faida lebih dekat dengan dunia kedokteran dan kesehatan. Namun sejak kecil ia sudah digembleng oleh Musytahar untuk menjadi organisatoris dan pejuang yang tangguh. Dalam buku ‘Si Moai Ingin Jadi Dokter’, terungkap bagaimana sang ayah mengajarkan kepada Faida cara menyelesaikan masalah.

“Saya pernah diuji main catur menggunakan dua papan catur. Papan satu dimainkan, satunya lagi dijalankan. Ternyata itu sarana Abah mendidik dan mengajari anak-anaknya dalam dalam mengatasi berbagai masalah dalam waktu bersamaan. Manfaatnya benar-benar saya rasakan ketika menjadi dokter dan mengelola rumah sakit,” kata Faida.

Dari sang ayah, Faida mendapatkan petuah prinsip 3B yang selalu dikumandangkannya saat menjadi bupati Jember. “Kalau kamu merasa bingung apakah ini benar atau salah, mulia atau tidak, ukurannya cuma tiga. Baik, benar, betul. Kalau sudah baik, benar, dan betul, maka jangan takut untuk melangkah. Kalau ada satu saja dari tiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka kamu mundur dulu satu langkag. Pasti ada sesuatu yang tidak pas. Semuanya harus dipastikan dulu, apakah sudah baik tujuannya, benar hukumnya, betul caranya. Meskipun baik tujuannya dan baik hukumnya, tapi salah caranya, jangan diteruskan. Tiga-tiganya tidak boleh ditawar-tawar lagi.”

Musytahar mendirikan Rumah Sakit Al Huda di Kabupaten Banyuwangi. Di sana, Faida mulanya bekerja sebagai staf bidang pelayanan medis. Belakangan dia menjadi Wakil Kepala Bidang Pelayanan Medis (1996-1998) dan Kepala Bidang Farmasi (1998-1999).

Tahun 2009 adalah tahun duka cita bagi Faida. Sang ayah wafat, disusul sang kakak Asyhar. Sebelumnya, adik laki-lakinya Alfian Mumtaz juga meninggal dunia menjelang prosesi wisuda sebagai dokter muda.

Faida menikah dengan Abdul Rochim, seorang dokter gigi. Mereka dikaruniai dua orang anak Abdul Malik Akmal dan Abdurrahman Akhtar. Belakangan Faida menjadi direktur Rumah Sakit Bina Sehat di Kabupaten Jember, rumah sakit yang juga didirikan sang ayah.

Nama Faida mulai melambung, setelah menggelar aksi kemanusiaan operasi gratis untuk dhuafa atau kaum miskin di Bina Sehat dengan dukungan MZA Djalal, bupati Jember saat itu. Ada sembilan penyakit yang dioperasi yakni katarak, bibir sumbing, hernia, kaki pengkor, hidrocephalus, hipospadia, polidaktili, meningokel, dan encephalopel.

Tahun 2015, Faida bersama Muqiet terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Jember untuk periode 2016-2021. Sejumlah penghargaan diraih Kabupaten Jember di bawah kepemimpinannya, antara lain penghargaan Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia, penghargaan Top Digital Awards 2019, penghargaan dari Menteri Agama Fachrul Razi sebagai pemerintah kabupaten yang peduli terhadap pendidikan Islam, dan penghargaan Best City kategori Smart Branding pada Gerakan Menuju 100 Smart City oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Namun di luar itu, pemerintahan Bupati Faida juga diwarnai kontroversi. Dia mendapatkan sanksi tidak mendapatkan hak keuangan selama enam bulan karena dianggap bersalah atas belum disahkannya Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Jember Tahun 2019. Selain itu, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyarankan pemberhentian Faida dari jabatan bupati dan DPRD Jember mengirimkan usulan pemakzulan ke Mahkamah Agung.

Di luar kelemahan dan kelebihannya, Faida kembali mencalonkan diri melalui jalur perseorangan dengan berbekal 146.687 dukungan warga. “Kami bukan bermusuhan dengan partai dan kami bukan anti partai. Kami menghargai hak konstitusi para pendukung yang menginginkan melalui jalur independen, dan itu sah, dan itu tidak bermusuhan dengan partai,” katanya. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar