Siapa Dia

Inilah Profil Calon Bupati Jember Abdus Salam

Abdus Salam sejak kecil memiliki bakat bisnis. Dia pernah menjadi kuli penjemuran padi, jagung, tembakau, bahkan kuli panggul. Saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, ia membuka usaha rental playstation dan warung internet. Salam kemudian membuka bisnis pengembang perumahan dan memasok kapur gamping.

Ketertarikannya pada dunia properti perumahan berawal dari melihat seorang pengusaha perumahan yang bersedekah ribuan paket sembako. “Apakah saya mampu bersedekah begitu banyak,” pikirnya saat itu.

Akhirnya, Salam mengawali bisnisnya dengan bersedekah sepuluh nasi bungkus. “Saya kemudian mencari kavling tanah untuk berusaha. Ngalor ngidul pakai sepeda motor,” kata putra kedua pasangan almarhum Abdul Fatah dan Saidah ini.

Bisnisnya kemudian berkembang, dari satu unit menjadi tujuh unit rumah hingga ribuan unit rumah. Perkembangan bisnisnya diikuti perkembangan jumlah nasi yang disedekahkannya. “Pesan guru saya: hidup itu mencari kemanfaatan. Kita menjadi manusia bermanfaat,” kata pria kelahiran Jember, 10 Mei 1983 ini.

Sang guru pula yang menyadarkan Salam tentang pentingnya politik. Seberapapun banyak uang yang diberikan kepada kaum miskin, kemiskinan tidak akan bisa ditekan. “Yang bisa kamu sedekahkan adalah diri kamu, mewakafkan diri kamu menjadi abdi masyarakat dan abdi negara. Minimal kamu jadi ketua RT, ketua RW, kepala desa, atau jadi bupati,” kata sang guru kepada Salam.

“Guru saya mengatakan: satu kebijakan saja, yang mendapatkan manfaatnya 2,6 juta jiwa atau seluruh penduduk Jember,” kata Salam. Dari sanalah dia kemudian memilih untuk terjun ke dunia politik dengan menjadi kader PDI Perjuangan.

Salam tertarik terhadap PDI Perjuangan karena memiliki program kerja bagi masyarakat kecil. “Bu Mega sendiri waktu kami ke Jakarta, mengatakan: ‘partaimu ini partai wong cilik, program kerjamu harus benar-benar untuk wong cilik‘,” katanya.

Dari sini, Salam menyusun program kerja sebagai calon bupati untuk masyarakat. “Ini saripati kepentingan dan kebutuhan masyarakat Jember dan mengatasi permasalahan di Jember. Kami harus hadir di tengah masyarakat,” katanya.

Salam mengakui jika belum berpengalaman di dunia politik. Namun, politik dan bisnis hampir sama. “Di bisnis, kita memenej dan menata sistem, serta bagaimana melakukan kerjasama, berkolaborasi, dan kemudian melibatkan semua untuk membentuk team work, termasuk perusahaan saya. Saya mulai nol. Kan sama: bagaimana di politik memanajemen orang dan diri sendiri,” katanya.

“Yang jelas semua calon tidak ada yang berpengalaman menjadi bupati. Ada yang sudah berpengalaman. Tapi kalau kemarin Jember baik-baik saja, ngapain saja mencalonkan diri jadi bupati? Jadi pengusaha saja kenapa?” kata Salam.

“Membangun satu wilayah atau kota, kita harus memiliki konsep jangka pendek, menengah, dan panjang. Tanpa konsep, kita pasti bingung. Bisa jadi anggaran-anggaran tak terserap menjadi Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran),” kata Salam.

Salam akhirnya bergandengan dengan calon wakil bupati Ifan Ariadna yang diusung koalisi PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Perindo, dan Berkarya. “Kami berdua sudah berkomitmen sama-sama maju, kami berbagi tugas. Sepakat dan sepaket. Dwitunggal. Kami sama-sama ingin mengabdi kepada masyarakat. Kami punya chemistry,” kata Salam.

Kuatnya ikatan antara Salam dan Ifan terungkap pada pernyataan penutup debat kandidat putaran ketiga. “Kami wong cilik yang berjuang untuk wong cilik. Kami bersama rakyat dan tanpa ada sekat!” katanya.

“Suara rakyat adalah suara tuhan. Dengan segenap hati dan jiwa, kami serahkan takdir jember kepada Allah SWT,” kata Salam dan Ifan bersama-sama. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar