Siapa Dia

Inilah Profil Abu Bakar Abdi, Calon Wakil Bupati Situbondo

Abu Bakar Abdi sebenarnya sudah memilih jalan hidup di dunia kesehatan. Dia sama sekali tak pernah bermimpi akan menjadi calon wakil bupati mendampingi Yoyok Mulyadi, dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Situbondo, tahun ini.

Lulus kuliah dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya pada 1989, Abu bekerja sebagai dosen di Akademi Farmasi Malang, sekolah perawat, dan sukarelawan Rumah Sakit Daerah Saiful Anwar, Malang pada 1990-1995.

Tahun 1995, Abu diterima menjadi pegawai negeri sipil di Rumah Sakit Daerah Pacitan. “Saya sudah punya rumah di Malang. Tapi saya berpikir, kok mengembangkan daerah lain, akhirnya saya kembali ke Situbondo pada 1998 dan bekerja di Departemen Kesehatan,” katanya.

Belakangan, Departemen Kesehatan berubah nama menjadi Dinas Kesehatan Situbondo, dan Abu pindah ke Rumah Sakit Daerah Abdoer Rahem menjadi Kepala Tata Usaha. Posisi di rumah sakit merupakan titik awal dia kembali ke Dinas Kesehatan Situbondo dan menjadi orang nomor satu di organisasi perangkat daerah tersebut pada 2013.

Selama memimpin, Abu berhasil menjulangkan nama Dinas Kesehatan Situbondo. Ada 70 Dinkes kabupaten dan kota seluruh Indonesia berkunjung untuk belajar bagaimana Dinkes Kabupaten Situbondo membangun badan layanan umum daerah pertama dan memperoleh akreditasi.

Selama memimpin Dinkes Situbondo, Abu menciptakan sejumlah terobosan dan inovasi seperti membuka puskesmas jiwa dan puskesmas kusta. “Kami mem-branding pelayanan untuk kaum marjinal,” katanya. Presiden Joko Widodo sempat mengunjungi Rumah Pemulihan Gizi yang menjadi andalan Dinkes Situbondo pada 2016.

Jaringan puskesmas kusta di Kecamatan Panji sudah dibangun dengan Rumah Sakit Sumber Glagah di Mojokerto. “Ketika ada kecacatan, bisa diperbaiki. Tidak usah ke Sumber Glagah, cukup di Puskesmas Panji. Begitu juga pasien jiwa tak perlu ke Lawang, Malang, dan Menur, Surabaya. Cukup di Puskesmas Mlandingan,” kata Abu.

Abu sempat menjabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Situbondo selama tujuh bulan sejak 1 November 2019. Namanya baru disebut sebagai kandidat wakil bupati Situbondo berdasarkan musyawarah dan istikharah (doa meminta petunjuk kepada Tuhan) di kalangan ulama yang dipimpin KH Cholil As’ad Syamsul Arifin pada Juni 2020.

“Itu kan banyak calon, saya tidak mengira diunggulkan dan muncul dalam istikharah. Saya baru pensiun lima tahun lagi,” kata Abu. Dia diminta kalangan ulama untuk mendampingi calon bupati Yoyok Mulyadi.

Hidayah, istri Abu, semula menolak sang suami menjadi calon wakil bupati. “Kehidupan politik beda dengan kehidupan teknis. Sementara apa yang dicari dalam hidup? Saya insya Allah sudah punya semua,” kata pria kelahiran Situbondo, 25 Mei 1965 ini.

Namun akhirnya keluarga Abu mendukung, setelah mereka bertemu Cholil. “Saya hendak dijadikan ‘pekakas’, alat perjuangan untuk kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Karena yang menyuruh beliau dan para ulama, mudah-mudahan bisa mengemban amanah ini,” kata pria yang resmi mengundurkan diri dari PNS pada 1 September 2020.

Abu mengaku harus banyak belajar soal politik dan bertanya kepada semua pihak, seperti tokoh masyarakat, tokoh politik, ulama, dan habib. “Semua aspirasi saya konsultasikan ke Pak Yoyok dan para masyayikh, para kiai. Saya harus belajar karena ilmu baru,” katanya.

Bagaimana nanti Abu akan menjalani peran sebagai wakil bupati jika terpilih? “Kita hidup sudah ada yang mengatur. Mau dijadikan ban serep, mau sehat, pokok yang terbaiklah. Yang penting kompak, apa yang diinginkan beliau-beliau dan masyarakat, kita jalani bersama. Kalau kemudian orang bilang saya akan ditinggal (oleh Yoyok Mulyadi dalam menjalankan roda pemerintahan), saya kira tidak,” katanya.

Abu ingin kelak dikenang sebagai pemimpin yang membangun Situbondo dengan menggerakkan ekonomi kerakyatan. “Memperbanyak event-event sudah membuat ekonomi lokal bisa berjalan,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar