Siapa Dia

Ini Kisah Suka Duka Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19

Mojokerto (beritajatim.com) – Adalah Achmad Zainuri, pria kelahiran Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto pada 21 Mei 1958 ini merupakan salah satu dari tim pemakaman jenazah covid-19 Kota Mojokerto. Kurang lebih 60 pemakaman sudah dilakoni pria yang berprofesi sebagai penjual degan ini.

Ditemui di warungnya, pria yang lebih dikenal dengan nama Jaenal ini menceritakan perjalanannya sebagai relawan hingga digandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto bergabung dalam tim pemakaman jenazah Covid-19 Kota Mojokerto.

“Awal jadi relawan, tahun 2011 lalu ketemu Pak Sungkono anggota PMI Kabupaten Mojokerto,” ungkapnya, Selasa (9/11/2020).

Saat itu, ia berada di sebuah warung sate di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto dengan membawa sebuah HT (Handy Talky). Salah satu anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mojokerto tersebut akhirnya mengajak berkenalan dan menanyakan pekerjaannya hingga bertukar nomor telepon.

“Waktu itu duduk di warung sate Jalan Bhayangkara, belum kenal Pak Sungkono, belum kenal relawan. Karena bawa HT, saya disuruh ikut jika ada TKP kebakaran dan penemuan mayat. Waktu itu, saya sudah penjual degan kemudian dikasih nomor telepon belum ada android, HP biasa,” katanya.

Tak lama, ia pun mendapat kabar diminta bantuan untuk mengevakuasi mayat di Sungai Brantas depan PMI Kota Mojokerto. Mayat perempuan tersebut dalam kondisi tanpa busana dan sudah membusuk. Karena baru pertama, belum sampai membantu mengevakuasi mayat, ia sudah tidak betah dengan aroma yang keluar dari mayat tersebut.

“Pertama kali, itu dikasih tahu ada mayat mengapung di Sungai Brantas depan kantor PMI Kota Mojokerto. Saya langsung kesana dan diajari evakuasi mayat dengan memakai sarung tangan. Tapi karena baru jadi relawan sempat muntah-muntah, saya lari-lari tapi tetap saya bantu evakuasi,” ceritanya.

Di evakuasi pertamanya, ia pun dikerjain petugas yang ada di lokasi dengan menyungkurkan ke mayat sehingga ia mencium mayat tersebut. Setelah sekitar empat kali ikut evakuasi mayat, ia pun sudah mulai terbiasa dengan bau mayat membusuk. Itupun setelah ia diberi saran agar tahan dengan bau mayat yang membusuk.

“Waktu itu, saya ketemu Pak Luwi mantan Kasat Reskrim Polresta Mojokerto di depan Stasiun Mojokerto, dikasih tahu ada teori agar tidak muntah saat evakuasi mayat membusuk. Katanya suruh menghirup baunya kemudian ditelan dan tidak boleh dilepeh (dimuntahkan, red) . Dipraktekkan ada kejadian tapi tetep pingin muntah. Tapi lama-lama terbiasa,” jelasnya.

Ia pun bergabung dengan PMI Kabupaten Mojokerto dan diajari tentang evakuasi mayat dan bagaimana saat berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Setelah ia sudah merasa bisa mengevakuasi mayat, sekitar tiga tahun lalu ia mengundurkan diri dan mendirikan organisasi relawan.

“Sebelumnya di PMI Kabupaten Mojokerto, saya diajari Pak Didik Soedarsono tentang evakuasi mayat, TKP dan lain. Akhirnya saya bisa dan siap menjalankan tugas kemana-mana, sekitar 3 tahun lalu saya izin mengundurkan diri dan buat organisasi dengan tujuan agar relawan di Mojokerto tambah banyak,” urainya.

Ia kemudian mendirikan organisasi relawan dengan nama Relawan Birunya Cinta TKP. Ia membuat grup di media sosial (Medsos) dan Whatsapp (WA) untuk menjaring relawan. Alhasil, saat ini ada 33 orang yang tergabung dalam anggota Relawan Birunya Cinta TKP hingga akhirnya tahun 2019 lalu organisasi yang didirikannya berbadan hukum.

“Kenapa namanya ada Birunya Cinta karena biru itu ada kaitannya dengan kedamaian sehingga harapannya organisasi relawan ini bisa mencintai kedamaian. Saya terlibat dalam tim pemakaman korban Covid-19 di Kota Mojokerto, setelah saya dihubungi Satpol PP Kota Mojokerto diminta untuk mengumpulkan anggota relawan RBC TKP,” ujarnya.

Saat itu, lanjut Jaenal, sekitar bulan April 2020. Namun dari 33 orang anggota Relawan Birunya Cinta TKP, hanya tiga orang yang mau bergabung karena yang lainnya beralasan takut. Selain melakukan pemakaman di wilayah Kota Mojokerto, ia juga pernah diminta membantu pemakaman di Pasuruan, Sidoarjo dan Jombang.

“Terjauh ke Pandaan, Pasuruan. Saat itu korbannya orang Pandaan dirawat di RSU Kota Mojokerto karena Covid, laki-laki. Saya juga pernah diminta ke RS Soetomo mengambil jenazah orang Kota Mojokerto. Saat ramai-ramai Covid-19, pernah sampai sehari tiga kali pemakaman tapi sekarang sudah jarang karena sudah banyak yang berani,” tegasnya.

Hingga saat ini, ada kurang lebih 60 pemakaman yang sudah dijalaninya. Namun dari sekian pemakaman, mulai dari awal menjadi relawan hingga saat ini, ia mengaku lupa dengan kejadian apapun itu. Meski sempat hanyut di Sungai Porong karena hendak mengevakuasi mayat, namun ia mengaku lupa. Ia akan ingat saat ada yang cerita.

“Kalau jualan degan sudah dari tahun 2006 lalu, sekali ambil ke Banyuwangi sebanyak satu truk isi 2.000 biji. Karena dulu selain jualan degan, saya juga agen jadi kirim kemana-mana sampai Jombang. Tapi Covid cukup berimbas, sebelumnya hujan saya berhenti jualan. Mau jualan lagi kena pengusuran rel KA dan sekarang Covid-19,” terangnya.

Meski pandemi Covid-19 berimbas ke ekonomi, namun ia punya keyakinan jika rejeki tersebut datangnya dari Allah SWT. Sehingga meski krisis dalam keuangan namun, sudah ada yang mengatur rejeki masing-masing. Ia pun mengingatkan kepada masyarakat agar taat terhadap protokol kesehatan.

“Imbas Covid-19, jualan terganggu. Saya ikut pemakaman dan menjalankan relawan. Jangan khawatir jadi relawan, krisis uang untuk kebutuhan sehari-hari karena rejeki ada yang ngatur. Covid-19 belum berakhir, jangan lupa selalu pakai masker, cuci tangan pakai sabun dan menjaga jarak,” pungkasnya. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar