Siapa Dia

Herlina Lakukan Perjalanan Laut 120 Jam Demi Sembuh dari HFS

Herlina sebelum dioperasi MVD HFS

Surabaya (beritajatim.com) – Herlina (30) menempuh perjalanan laut 120 jam dari Papua ke Surabaya demi sembuh dari Hemifacial Spasm (HFS) yang dikiranya merupakan kelumpuhan akibat stroke.

Herlina terkena HFS yang biasa disebut dengan wajah merot selama 5 tahun, yakni kondisi dimana syaraf wajah tidak bisa dikendalikan dan menyebabkan wajahnya tertarik kesalah satu bagian yang menyebabkan wajahnya merot seperti orang terkena stroke.

Hari ini, Kamis (19/9/2019) Hernia mendapatkan operasi dengan prosedur microvascular decompression (MVD) yang ditangani langsung dengan Tim Korteks Comprehensive Brain Spine (KCBS) dari National Hospital Surabaya.

Tim KCBS sendiri adalah tim yang telah memiliki jam terbang tinggi, bahkan operasi Herlina merupakan operasi HFS yang ke-1.300 lebih yang berhasil ditangani KCBS. Tim KCBS sendiri terdiri dari 5 orang dokter spesialis, yakni; dr M. Sofyanto Sp BS, dr Agus C Anab Sp BS, dr Gigih Pramono Sp BS, dr Budi Setiawan Sp BS dan dr Bambang Sp S. Kelima dokter spesialis ini adalah Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dari berbagai angkatan.

HFS adalah kondisi dimana pembuluh darah menempel pada syaraf nomer tujuh di dalam batang otak. Syaraf nomer tujuh ini merupakan syarat yang berfungsi mengatur pergerakan wajah. Oleh karenanya jika pembuluh darah menempel pada syaraf nomer tujuh maka syaraf akan terus mendapatkan stimulus atau rangsangan sehingga menyebabkan pergerakan wajah tidak terkendali. Selain dapat menyebabkan wajah merot dalam beberapa kasus HFS juga memberikan efek kesemutan dan kedutan secara terus menerus pada wajah.

Sudah tak sabar ingin segera sembuh dari sakit wajah merot yang sudah lima tahun di deritanya. Perjalanan laut yang melelahkan dari tempat tinggalnya di Manokwari, Papua Barat menuju Surabaya tak ia rasakan.

“Tidak masalah meski lima hari mengalami kelelahan dan mabuk laut yang penting saya bisa segera sembuh dan wajah saya bisa kembali normal,” katanya dengan suara mantap.

Herlina yang datang ke Surabaya ditemani Mohamad (31) dan Iqbal (5), suami dan anak bungsunya tersebut menceritakan sakit yang membuat bentuk wajahnya menjadi tidak sempurna itu muncul sejak lima tahun silam.

“Suatu siang tanpa sebab tiba-tiba wajah bagian kiri saya, mulai bibir, pipi, sampai otot sekitar mata bergerak-gerak ketarik ke belakang tak terkendali. Saya panik, sempat saya pikir kena stroke,” ceritanya sambil menangis.

Karena otot matanya bergerak-gerak ia pikir ada gangguan pada mata sehingga ia datang ke dokter mata di kotanya. Namun dokter yang memeriksannya tidak menemukan masalah tapi untuk melakukan diagnosa lebih lanjut ia tetap diminta untuk periksa ke dokter mata yang ada di Makassar.

“Karena keterbatasan biaya, saya tidak bisa segera berangkat. Saya harus kumpulkan uang dan baru tahun 2016 bisa melakukan pemeriksaan di Makassar,” papar Herlina asli Makassar tetapi sejak SMP oleh kedua orangtuannya diajak merantau mangais rejeki di Papua.

Setelah diperiksa dokter mata, dokter menjelaskan jika matanya sehat. Soal merot di wajahnya ia diminta untuk memeriksakan ke salah seorang dokter saraf di Makassar pula. “Saya langsung datang ke dokter saraf yang dimaksud. Dan disana baru terungkap, jika saya menderita HFS. Dan dokter tersebut menyarankan untuk berobat ke dokter di Surabaya yang ahli dalam operasi HFS,” cerita Herlina.
Muncul perasaan kecil hati begitu mengetahui proses penyembuhannya harus melalui operasi dan dilakukan di Surabaya.

Karena sebagai orang berpenghasilan pas-pasan bukan pekerjaan mudah bisa berobat di Surabaya. “Tapi demi kesembuhan saya tidak putus asa. Setiap hari saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar cukup dipakai biaya operasi,” kata Herlina yang sehari-hari bekerja membantu jaga warung dan suaminya seorang sopir tersebut.

Namun dirinya sangat bersyukur pada Tuhan, di tengah usahanya mengumpulkan uang ia mendapat kabar baik dari komunitas HFS jika diminta segera ke Surabaya untuk dilakukan operasi. Dan yang membahagiakan ia tidak perlu mengeluarkan biaya penuh karena sebagian besar biaya operasi mendapat bantuan dari tim dokter, rumah sakit serta anggota komunitas.

“Kebahagiaan saya sungguh tak terkira,” kata Herlina untuk menghemat biaya ia rela naik kapal 120 jam dari Papua menuju Surabaya.

Herlina menceritakan sejak mengidap HFS lima tahun silam dirinya benar-benar tersiksa dan mentalnya jatuh. Memang HFS pada yang dideritanya tidak menimbulkan rasa nyeri atau atau terasa sakit tetapi, HFS benar-benar membuat malu dan rendah diri.

“Saya kalau bicara dengan orang berusaha menunduk, tidak berani menatap karena wajah saya yang merot,” kata Herlina yang bercerita sambil meneteskan air mata.

Apalagi kalau pas capek atau lagi stres memikirkan sesuatu maka merotnya makin parah dan intensitasnya makin sering. “Jadi bisa digambarkan setiap hari batin saya tersiksa tak berkesudahan,” kata Herlina selama menunggu ia selalu menjalin komunikai dengan anggota komunitas di berbagai daerah yang sudah sembuh dari HFS.

“Karena itu rasannya saya sudah tidak sabar menunggu saat hari operasi tiba,” pungkasnya dengan suara mantap. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar