Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Gus Dur, Bre Redana dan Ahmad Tohari dalam Satu Kamar

Bre Redana (pegang mikropon) bersama Binhad Nurrohmat (tengah) saat acara dialog budaya di 'Bait Kata Library' Mojosongo, Jombang, Jumat (5/8/2022)

Jombang (beritajatim.com) – Bre Redana berbicara tentang banyak hal. Tentang Majapahit, tentang sastra, juga tentang pewarta. Bre juga berkisah tentang kedekatannya dengan Gus Dur. Dalam sebuah kesempatan, Bre, Gus Dur dan Ahmad Tohari berada dalam satu kamar. Mereka berbicara berbagai hal. Mulai politik hingga masalah mistik.

Hari ini Bre datang ke Jombang. Penampilannya nyentrik. Rambut gondrong memutih. Kadang dikuncir, kadang dibiarkan tergerai. Mengenakan kaus oblong yang dipadu celana jeans. Pria asal Jawa tengah ini dikenal sebagai sosok yang multi dimensi. Sebagai wartawan, budayawan, sekaligus sastrawan. Itulah Bre Redana. Karir wartawan Bre mulai 1982 hingga 2017 di harian Kompas.

Bre mampir ke ‘Bait Kata Library’ di Mojosongo, Jombang, Jawa Timur, Jumat (5/8/2022) sore. Turun dari mobil, Bre menebar senyum. Dia didampingi istrinya. Kedatangan Bre tidak disia-siakan. Tuan rumah mendapuknya sebagai pembicara dalam dialog budaya yang bertajuk ‘Perjuampaan Muharram, Kidung Anjampiani’. Bre tidak sendiri, pembicara lainnya adalah sastrawan Jombang Binhad Nurrohmat.


Sedangkan peserta yang hadir beraneka latar belakang. Ada seniman, komunitas gerakan literasi, aktivis, pegiat sastra, wartawan, hingga kalangan milenal. Jumlahnya puluhan. Binhad memulai dialog tersebut dengan memperkenalkan sosok Bre. Yakni wartawan senior harian Kompas. Bre juga menjadi penjaga gawang di rubrik budaya koran nasional tersebut.

“Tayang dan tidaknya tulisan sastra di Kompas, tergantung Mas Bre. Ini perjumpaan yang tak diduga dengan beliau. Dulu kami sering komunikasi waktu di Jakarta. Saya kerap mengirim tulisan ke Kompas. Saya memanggilnya Mas Don,” ujar Binhad memperkenalkan sosok Bre yang berada di sampingnya.

Bre Redana memang memiliki nama asli Don Sardono. Dia lulusan Jurusan Sastra Inggris Universitas Satya Wacana, Salatiga dan pernah belajar jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington, Inggris (1990–1991). Bre dikenal dari tulisan-tulisannya yang mengangkat tema kaum urban dan pergelutannya, seperti Urban Sensation (1993), Dongeng untuk seorang wanita (1999), dan Sarabande (2002).

Kini Bre sedang menggarap novel bertema Majapahit. Ini seri yang ke-empat. Sebelumnya dia sudah menyelesaikan tiga novel bertema serupa. Masing-masing Majapahit Milenia, Dia Gayatri, serta Kidung Anjampiani. “Yang ke-empat masih dalam proses. Temanya masih seputar Majapahit, tokohnya seorang jago masak,” kata Bre.

Makanya sebelum ke Jombang, Bre juga sempat mampir ke Mojokerto. Dia menemui sejumlah temannya. Lalu berkeliling ke wilayah peninggalan Kerajaan Majapahit itu. Bre kaget, nama-nama desa yang ada di Mojokerto banyak yang disebut dalam kitab-kitab kuno. Bre juga mengunjungi candi. “Ini semacam riset. Tentu berbeda dengan riset ilmiah. Karena ini untuk novel. Hanya untuk menyerap spirit Majapahit,” ujarnya.

Dari Mojokerto, Bre bergeser ke Jombang. Berada di Kota santri, Bre teringat persahabatannya dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Bre berkisah pernah satu kamar dengan Gus Dur dan Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ceritanya, ketiga orang tersebut mengikuti seminar selama dua hari di kawasan Bogor.

Bre satu kamar dengan Tohari. Ternyata, kamar mereka bersebelahan dengan kamar Gus Dur. Mengetahui itu, Gus Dur justru mengungsi dari kamarnya. Mantan Presiden RI ini bergabung dengan Bre dan Tohari. Jadilah mereka bertiga ngobrol semalam suntuk. Temanya berbagai hal, mulai soal politik hingga mistik. Gus Dur duduk di atas dipan, Bre dan Tohari menyimak sembari bersila. “Saya dan Tohari seperti jadi cantriknya,” kata Bre.

Tak terasa, obrolan itu hingga menyentuh pagi. Gus Dur kemudian pamitan kembali ke Jakarta. Sedangkan Bre dan Tohari beristirahat. “Kami tertidur. Akhirnya tidak bisa bangun untuk mengcover seminar itu, gara-gara Gus Dur. Banyak sekali pengalaman pribadi dengan Gus Dur,” katanya mengenang.

Dalam jagongan budaya tersebut, Bre juga banyak menyoroti masalah jurnalisme di era saat ini. Tentang tumpah ruahnya informasi, tentang dramatisasi sebuah peristiwa. “Problem sekarang ini bukan bagaimana anda mendapat informasi, tapi bagaimana anda mendapatkan keheningan,” ujarnya.

Tepat saat azan magrib berkumandang, dialog yang berlangsung gayeng itu berakhir. Bagi Binhad acara tersebut berujung dengan sakral, karena diiringi kumandang azan magrib. Kemudian selepas ibadah salat magrib, seluruh hadirin menikmati sajian nasi kikil, makanan favorit Gus Dur. Bre nampak menikmati sajian nasi lodeh kikil berwadah daun pisang itu. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar