Siapa Dia

Guru Besar Masjid IAIN Jember Itu Telah Pergi

Sutrisno, doktor dan dosen pascasarjana Institut Islam Negeri KH Achmad Shiddiq, meninggal dunia dalam usia 62 tahun, Selasa (14/4/2021) subuh. Dia sempat menjabat dekan Fakultas Syariah periode 2014-2019.

“Setahun terakhir, kondisi kesehatan Pak Tris kurang baik. Almarhum menderita penyakit lambung dan sumsum tulang belakang,” kata Moch Eksan, pendiri Eksan Institute yang juga mantan mahasiswa almarhum.

Sutrisno adalah sosok yang sederhana dan rendah hati. “Tak banyak yang tahu, dosen negeri ini seorang ahli fiqih dan menguasai perbandingan mazhab. Beliau aktif berdakwah dari masjid ke masjid, dan pejuang salat jamaah. Seorang yang istiqomah mengajak masyarakat menjalankan salat berjamaah di Masjid Jihadil Muttaqien Karang Mluwo. Pak Tris layak disebut sebagai Guru besar masjid yang menghibahkan tenaga dan fikiran untuk memakmurkan masjid sepanjang hayat,” kata Eksan.

Dalam kenangan Eksan, Sutrisno penganut setia Islam ala ahlisunnah waljamaah. Pemikirannya sehaluan dengan pendapat umum ulama fikih. “Tak sediki tpun, semasa hidup almarhum menunjukkan simpati atau antipati kepada para tokoh pembaharu pemikiran Islam dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Sutrisno tak terprovokasi pemikiran-pemikiran pembaruan yang nyeleneh. Eksan masih ingat, Sutrisno pernah ditanya soal pergantian hewan kurban dengan komputer sesuai kebutuham penduduk suatu negeri.

“Almarhum menjawab, hewan kurban tak bisa digantikan dengan komputer. Ibadah kurban terdiri dari unta, sapi, kambing dan domba. Daging kurban yang disembelih pada ayyamut tasyriq untuk dibagikan kepada warga miskin sebagai ungkapan syukur, bentuk aksi solidaritas sosial serta peningkatan gizi umat,” kata Eksan.

“Dalam aturan Fiqih, seperti contoh teladan Nabi Ibrahim AS, berkurban dengan sapi untuk tujuh orang, dan kambing untuk satu orang. Berkurban dengan komputer tak diatur dalam hukum Fiqih. Beliau menjelaskan itu tanpa ada raut gusar,” kata Eksan. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar