Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Dwi Soetjipto, Man On A Mission

Dwi Soetjipto

I’m a man on a mission, straight ahead
Let’s talk, more action, with no distractions
I’m all conditioned, is it alright
Go for the action, with no distractions
(Man On A Mission, Van Halen)

Dwi Soetjipto adalah Man On A Mission seperti dalam petikan lirik lagu grup musik rock Van Halen. Dia dilahirkan di Surabaya, 10 November 1955. Bertepatan dengan sepuluh tahun peringatan pertempuran kota terdahsyat sepanjang sejarah perang yang melibatkan Inggris. Dan dia seperti ditakdirkan untuk melewati banyak pertempuran dalam hidupnya. Dia telah berhasil melalui berbagai krisis dengan mencari solusi atas setiap masalah yang ditemui.

Tumbuh besar di daerah dengan karakter masyarakat yang keras, dan kerap menjadi sasaran bullying karena ukuran fisik yang kecil, Dwi mampu mencari solusi dengan belajar silat untuk membela diri dan bahkan meraih juara silat PON di tahun 1978. Dwi juga mampu merubah dirinya yang awalnya tidak percaya diri (introvert), untuk belajar kepemimpinan bahkan mampu menjasi Ketua Senat Mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan lulus pada 1980 dengan predikat sebagai mahasiswa teladan.

Memutuskan untuk merantau, Dwi memulai karier profesionalnya dengan bekerja di PT Semen Padang sejak 1981, dan hanya butuh waktu 14 tahun baginya untuk menggapai jabatan Direktur Penelitian dan Pengembangan. Diposisi tersebut, Dwi mampu merubah posisi Litbang yang terkenal dengan istilah “sulit berkembang” menjadi sebuah jabatan yang membanggakan dengan berbagai capaian. Sehingga tak heran jika pada 12 Mei 2003, Dwi diangkat menjadi Direktur PT Semen Padang dan menghadapi pertempuran pertamanya.

Dwi berhasil menuntaskan konflik antara Semen Padang dengan holding perusahaan dan melakukan re-alignment bisnis perusahaan. Dwi berhasil mengatasi demo oleh pekerja yang menuntut “spin-off” dan menolak dirinya menjadi Dirut. Dwi mampu menyelesaikan permasalahan hukum atas gugatan hasil RUPSLB oleh manajemen lama, hingga berkekuatan hukum tetap dari MA dalam waktu empat bulan.

Untuk menyelesaikan persoalan SDM, Dwi mampu menyelesaikan melalui pendekatan persuasif hanya dalam waktu tiga bulan. Selama memimpin Semen Padang, selain mampu meningkatkan kepercayaan investor, Dwi juga mampu meningkatkan produksi grup dari 13,24 juta ton menjadi 14,12 juta ton, serta meningkatkan motivasi bekerja karyawan yang telah menurun akibat konflik berkepanjangan selama bertahun-tahun.

Atas prestasinya tersebut, Dwi dipercaya untuk menjadi Direktur Utama PT Semen Gresik dan menghadapi medan tempur keduanya, yaitu membangun holding BUMN semen di Indonesia. Sebuah misi yang tidak mudah, namun sekali lagi, Dwi berhasil menuntaskan misi itu dengan mentransformasikan PT Semen Gresik menjadi PT Semen Indonesia yang membawahi PT Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa, dan bahkan melakukan ekspansi keluar negeri dengan membangun pabrik di Vietnam. Kinerja positif dari holding ini terlihat dari capaian Laba bersih yang melejit dari Rp 500 miliar menjadi Rp 3,6 triliun.

Misi ketiga Dwi diberikan Presiden Joko Widodo 28 November 2014. Dia diangkat menjadi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) menggantikan Karen Agustiawan yang mengundurkan diri. Lagi-lagi sebuah misi yang sulit harus diemban oleh Dwi. Sebagai orang baru di dunia Oil and Gas serta adanya krisis harga minyak di tahun 2014 menantang kemampuan manajemen krisis yang dimiliki oleh Dwi. Dan kembali Dwi mampu memenangkan pertempuran ini dengan meningkatkan efisiensi perusahaan, antara lain dengan membubarkan Petral (Pertamina Energy Trading).

Di bawah kepemimpinan Dwi, Pertamina pada tahun 2016 mampu meraih keuntungan terbesar sepanjang sejarah sebesar Rp 42 Triliun dan menghasilkan EBITDA Margin terbesar mencapai 21.72% sekaligus sebagai efisiensi terbaik. Sehingga tak berlebihan jika Dwi dianugerahi gelar Asia Best CEO dan Pertamina dianugerahi Best Downstream Service & Solutions Company oleh majalah internasional World Finance dalam Oil and Gas Awards pada 2015.

Desember 2018, Dwi diangkat menjadi Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pertempuran demi pertempuran dilaluinya untuk menyelamatkan industri migas nasional yang kian merosot di tengah semakin besarnya kebutuhan masyarakat. Dwi mencanangkan target produksi minyak dan gas (migas) satu juta barel per hari (BPOD) pada 2030, sebuah Visi yang oleh banyak orang diangap hanya omong kosong.

Visi tersebut dilatarbelakangi bahwa Indonesia masih menyimpan potensi migas yang cukup besar, karena dari 128 cekungan yang dimiliki, baru 20 cekungan yang berproduksi. Disisi lain adanya kebutuhan energi yang sangat besar berdasarkan roadmap bauran energi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Perpres 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional.

Meskipun Bauran Energi dari sektor migas secara prosentase menurun diproyeksikan menurun dari 63% menjadi 44% di tahun 2050, namun secara volume justru meningkat. Dimana konsumsi minyak di tahun 2050 diperkirakan akan meningkat dari saat ini yang sebesar 1,66 juta BOPD menjadi 3,97 juta BOPD atau naik sebesar 139%. Sedangkan untuk gas konsumsi meningkat lebih besar lagi, dengan konsumsi saat ini mencapai 6,557 MMSCFD meningkat ditahun 2050 menjadi 26,112 MMSCFD atau konsumsi gas naik sebesar 298%.

Untuk mencapai target tersebut, Industri Hulu Migas telah mencanangkan Transformasi, melalui 5 strategi yaitu: (1) Clear Vision, (2) Organization As Center Of Excellent, (3) One Door Service Policy, (4) Commercialization, (5) Digitalization

Lima strategi tersebut diturunkan dalam Rencana Strategis Indonesian Oil and Gas (Renstra IOG) 4.0 yang terdiri dari: (a)10 Pillar dan enablers, sebagai kerangka kerja strategis; (b)22 Program Kunci, untuk menjalankan program; (c) 80 target untuk memonitor perkembangan, dan (e) lebih dari 200 Rencana Aksi, untuk menjalankan program. Renstra ini membuktikan bahwa Visi tersebut dibangun secara bottom up berdasarkan data-data yang dimiliki.

Namun untuk terlaksananya Renstra tersebut, Dwi mengakui bahwa SKK Migas tidak dapat bekerja sendiri, kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci utama tercapainya tujuan Renstra ini . Maka Rencana produksi 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada tahun 2030 itu tidak semata-mata miliki SKK Migas melainkan juga atas kontribusi seluruh insan Hulu Migas Indonesia.

Selamat bekerja Dwi Soetjipto. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar