Siapa Dia

Warisi Kedisiplinan Mantan Gubernur M Noer

Dr Sjaifuddin Noer, Sosok Penting Operasi Face Off Lisa

Fot;o: smartphone

Reporter: Fatichatun Nadhiroh

OPERASI rombak wajah total alias face off Siti Nur Jazilah alias Lisa yang dihelat 28 Maret 2006 di RSU Dr Soetomo Surabaya, menorehkan sejarah baru di dunia medis Indonesia. Sebab, operasi dengan metode free flap (menyambung pembuluh darah) itu baru pertama dilakukan di Indonesia.

Keberhasilan face off Lisa itu tidak lepas dari ahli bedah plastik, dr Muhammad
Sjaifuddin Noer SpB SpBP. Dia menjadi ketua tim teknis face off yang beranggotakan Dr dr David Sontani Perdanakusuma, SpBP, dr Gwendy Aniko SpBP, dan dr Arie Utariani SpAn.

Putra ketiga dari delapan anak pasangan Noer dan Siti Rahma, akhir-akhir ini menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Bagaimana tidak, anak mantan Gubernur Jatim Mochammad Noer ini berhasil memimpin jalannya operasi pasien face off dengan sistem free flap, di RSU dr Soetomo yang pertama kali dilakukan di Indonesia.

Sosok dr Muhammad Sjaifuddin Noer SpB SpBP terkesan low profile dan tidak banyak bicara. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya singkat dan langsung mengena sasaran. Wajar jika dia tidak suka membeberkan kehidupan pribadinya.

Oleh karena itu, suatu kesempatan langka ketika menyaksikan Sjaifuddin tertawa lepas dan bercanda. Peristiwa tersebut terjadi beberapa jam setelah berlangsungnya face off. Setelah 18 jam bergelut dengan penanganan wajah Siti Nur Jazilah, dia tidak punya banyak waktu istirahat.

Meski putra mantan pejabat tertinggi di Jawa Timur, Sjaifuddin tidak pernah merasa sok. Dia dikenal teman-temannya sebagai pribadi yang low profile dan pendiam.

Pria kelahiran 16 Agustus 1947 ini tidak banyak tingkah. Dia selalu menyimak penjelasan guru dan tidak pernah bolos sekolah. Salah satu mata pelajaran yang disukainya adalah biologi.

Dia rajin menimba ilmu tentang makhluk hidup itu saat bersekolah di SMAN 3 Malang. Kondisinya yang saat itu berjauhan dari orangtua dan bertempat tinggal dengan sang nenek malah memacunya untuk rajin belajar.

Lulus SMA, dia diterima di dua kampus terkenal di Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Karena minatnya pada biologi lebih besar, dia memilih menekuni dunia medis.

Setelah lulus, Sjaifuddin meneruskan pendidikannya ke program spesialisasi bedah. Sjaifuddin telah merencanakan untuk menggeluti bidang yang disukainya, yaitu bedah plastik. Alasannya, dia tertarik dengan seni. Di bedah plastik itulah, dia bisa menuangkan keterampilannya.

“Saya tidak terlalu pandai menggambar. Namun, saya tergila-gila pada seni, termasuk seni musik,” jelas suami Drg Rina Banarsari yang juga hobi bertanam.

Sjaifuddin mengaku satu warisan terbesar dari ayahnya adalah ajaran tentang hidup disiplin. “Ayah saya orang yang amat disiplin. Kebiasaan itu tetap dijalankannya hingga sekarang,” jelas dokter yang saat ini berusia 59 tahun. Saat ini, Sjaifuddin selain bertugas di RSU Dr Soetomo, dia juga tercatat sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Unair.

Berkat pengabdiannya sebagai dosen FK Unair selama 25 tahun, dia meraih penghargaan Bintang Satya Lencana Karya Satya pada Agustus 1997 dari mantan Presiden Soeharto.

Sejak operasi face off selesai dilakukan, dia tidak bisa beristirahat lama. Tubuhnya seakan merespons otomatis setiap pagi tiba. Setelah melakukan kunjungan terhadap pasien-pasiennya, dia selalau datang di Gedung Bedah Pusat terpadu setiap pukul 09.00 WIB dan meladeni pertanyaan beberapa wartawan yang menanyakan seputar perkembangan Jila alias Lisa.

“Terus terang, para tim dokter masih kelelahan. Tubuh saya juga terasa melayang karena kurang tidur,” gurau lelaki yang lahir di Bangkalan Madura.

Pascaoperasi face off, ponselnya penuh dengan ucapan selamat dan dukungan dari orang-orang yang dikenalnya. “Anak-anak saya heboh melihat wajah saya di TV.Sementara itu, tetangga, saudara, dan rekan-rekan dokter mendukung seluruh tim face off,” kenangnya.

Meski begitu, bapak dengan tiga anak, Nur Indra Perbawa, Syafira Dwi Nastiti dan Amirah Rahmani Layalia ini mengaku saat ini belum bisa bernapas lega. Masih banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada pasiennya.

“Operasi itu hanya sebagian kecil dari proyek face off. Penanganan pascaoperasi memerlukan waktu hingga bertahun-tahun. Meski saat ini wajahnya sudah dinyatakan sembuh dan semua jaringan kulitnya sudah menyatu,” jelasnya.

Lisa Bukan Kelinci Percobaan

Sjaifuddin menceritakan awal perjumpaannya dengan Lisa (panggilan akrab Siti Nur Jazilah). Lisa dikenalnya Januari 2006 lalu ketika pasien tersebut bertandang ke poli bedah plastik. Saat itu, Lisa merasa kesulitan mengeluarkan napas dari lubang hidung sebelah kanan.

Lubang hidungnya menyempit gara-gara siraman air keras yang diakui dilakukan temannya. Melihat kondisi luka pada wajah Lisa, Sjaifuddin dan rekan-rekannya sesama dokter bedah plastik membahasnya.

Kebetulan pada Februari 2006, SMF/Bagian Bedah Plastik RSU dr Soetomo akan mengadakan workshop bedah plastik tentang metode free flap. Lisapun dijadwalkan mengikuti operasi pada workshop tersebut. Lamanya operasi dan persiapan yang kurang membuat jadwal operasi terpaksa mundur.

Sjaifuddin menundanya hingga 24 Maret 2006. Saat itu mereka menganggap operasi Lisa sepertibedah rutin. Tidak ada yang istimewa, selain operasi wajah terluas dan menggunakan metode free flap yang baru pertama dihelat di Indonesia.

Oleh karena itu, Sjaifuddin tidak bisa menutupi kekagetannya ketika berita tersebut terekspos beberapa media. Selanjutnya, ponselnya kerap berdering dari orang-orang yang mengaku wartawan.

Sebagai kepala bagian (Plt) bedah plastik dan ketua tim teknis, pria yang masih tampan pada usianya yang kepala lima tersebut segera bertindak cepat.

Dia mengumpulkan anggota tim face off yang ada di Surabaya. Sementara itu, pakar bedah plastik dari luar kota dihubunginya lewat telepon.

Sjaifuddin lalu menghadap Direktur RSU Dr Soetomo Surabaya dr Slamet R. Yuwono DTMH MARS. Ternyata, responsnya amat baik. Pimpinan rumah sakit itu malah bersedia mengucurkan dana sebesar apa pun untuk operasi tersebut.

“Kami lalu menyiapkan operasi ini jauh lebih matang dan dari hari ke hari anggotanya diperbanyak,” ungkapnya.

Tim face off itu menggandeng ahli-ahli dari beberapa disiplin ilmu, seperti mikrobiologi,
rehabilitasi medis, anestesi, dan psikiatri. Sjaifuddin sempat marah ketika beberapa media massa menuding operasi itu sekadar coba-coba.

“Ini memang operasi rombak wajah dengan metode free flap kali pertama. Namun bukan berarti Lisa sebagai kelinci percobaan,” tampiknya.

Sebelum tim face off memutuskan mengadakan operasi tersebut, mereka telah mengumpulkan referensi. Sjaifuddin berterus terang bahwa operasi itu terinspirasi dari keberhasilan operasi serupa di Argentina pada 1997.

“Koleksi jurnal tentang operasi ini telah kami miliki sejak 2000. Jadi, kami tidak hanya berbekal keberanian saja,” jelasnya.

Sjaifuddin juga menolak bahwa operasi tersebut hanya sebagai ajang untuk menaikkan popularitas rumah sakit dan tim dokter yang tergabung dalam tim face off.

“Kami tidak memiliki rencana untuk mengeksposnya ke masyarakat. Selain itu, operasi ini bukan hanya kerja satu dua orang, melainkan kerja sama tim yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dan spesialis dari berbagai kota,” katanya.

Disinggung soal Lisa, Sjaifuddin mengaku merasa trenyuh. Apalagi, usia pasiennya sebaya dengan salah satu anaknya. “Saya selalu merasa empati dengan kondisi pasien. Namun, bukan berarti saya terlalu melibatkan emosi di pekerjaan saya,” terangnya.

Pria yang suka berkebun ini merasa tidak terlalu terbebani dengan ekspos besar-besaran soal operasi yang dijalaninya sekarang. Sebelumnya, dia telah menjadi bagian dari tim penanganan korban bom Bali dan bayi kembar. “Saya memang serius menangani Lisa. Namun, bukan berarti saya mengabaikan pasien saya yang lain,” ujarnya.

Setelah operasi dilakukan, tim face off telah mendapatkan tawaran untuk melakukan face off pada pasien lain. “Kami tidak bisa kontan menerima. Harus ada observasi terlebih dahulu tentang luka yang dialaminya, termasuk usianya,” paparnya. (ica/bj4)





Apa Reaksi Anda?

Komentar