Siapa Dia

Dosen IAI Al-Khairat Raih Predikat Wisudawan Doktor Terbaik di UMY

Dr Abdul Gaffar saat menjalani prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang digelar secara virtual di rumahnya di Pamekasan, Rabu (9/6/2021).

Pamekasan (beritajatim.com) – Salah satu dosen Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Abdul Gaffar resmi menyandang status sebagai doktor sekaligus meraih predikat sebagai wisudawan terbaik program doktoral di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 2021.

Dosen berpangkat Lektor tersebut, mendapat predikat sebagai wisudawan doktoral terbaik Program Studi (Prodi) Psikologi Pendidikan Islam di UMY, berkat desertasi berjudul ‘Aktualisasi Diri Menurut Bediuzaman Said Nursi (1877-1960) dalam Risalah An-Nur’.

Namun prosesi wisuda doktoral UMY 2021 kali ini, terpaksa digelar secara virtual alias daring karena bersamaan dengan adanya pandemi Coronavirus Disiase 2021, Rabu (9/6/2021) kemarin. Namun hal tersebut tidak mengurangi suasana hikmad selama prosesi wisuda berlangsung.

“Terima kasih yang tidak terhingga kepada semua civitas akademika IAI Al-Khairat Pamekasan, atas segala support dalam setiap motivasi yang diberikan sejak awal mulai kuliah hingga akhir kuliah S3 (program doktoral). Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal ‘afiyah,” kata Dr Abdul Gaffar, Kamis (10/6/2021).

Predikat sebagai wisudawan doktoral terbaik dinilai tidak lepas dari hasil desertasi yang ditulisnya, di mana Abdul Gaffar dapat memaparkan konsep diri Said Nursi memiliki kontribusi akademik dalam pengembangan keilmuan psikologi pendidikan Islam.

“Menurut Said Nursi, dalam diri manusia terdiri dari beberapa kodrat yaitu Kodrat Rabbani, Ruhani, Jasmani dan Nafsani. Kempat kodrat tersebut berdampak pada hirarki pemenuhan kebutuhan hingga menuju kebutuhan puncak yang bersifat spiritual,” ungkapnya.

Menariknya, karya disertasi pada bagian epistemologi menyimpulkan Said Nursi sebagai pencetus ‘Kerajaan Ana’ yang tercover dalam makna-i ismi dan makna-i harfi. ‘Secara epistemologis, aktualisasi diri versi Said Nursi berbeda dengan tokoh-tokoh lain seperti Imam Al-Gazali, ketika kami coba kaji lebih pada epistemologi kerajaan hati meski pada esensinya sama,” jelas pria kelahiran Pamekasan.

“Dalam aktulisasi manusia diwujudkan pada peran dalam kehidupan, di antaranya sebagai Khalifah, Hamba, pribadi, anggota keluarga, serta warga negara. Secara emosional, pemikiran Said Nursi pada aspek pengembangan diri sangat dekat dengan tipikal warga Indonesia, apalagi kahir-akhir ini memang memerlukan revolusi spiritual” tuturnya,” pungkasnya. [pin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar