Siapa Dia

Door Stop Wartawan Lebih Menakutkan daripada Amarah Istri

Itqon Syauqi, Ketua DPRD Jember, Jawa Timur

Jember (beritajatim.com) – Itqon Syauqi, Ketua DPRD Jember, Jawa Timur, menilai wartawan di kota tersebut kritis dan sangat progresif. Ini bikin alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut gentar.

“Terus terang, saya ini lebih berani menghadapi istri saya yang sedang marah-marah dibandingkan menghadapi door stop teman-teman wartawan di Jember. Terus terang. Kadang-kadang pertanyaannya mengejutkan dan kadang saya tidak bisa mengantisipasi itu,” kata Itqon, Senin (5/9/2021).

Itqon menyadari, jika salah berkomentar, DPRD Jember jadi korban. “Betapa risikonya besar,” katanya.

Itqon pernah ditelepon wartawan tengah malam untuk ditanyai beberapa hal. Ini sempat membuatnya kelabakan. “Kesimpulan saya: jadi pimpinan di Jember ini, harus banyak baca, karena wartawannya cerdas-cerdas. Tajam-tajam pertanyaannya,” katanya.

Namun Itqon merasa terbantu oleh wartawan dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap program pemerintahan di Kabupaten Jember. “Terus terang, banyak hal yang saya sampaikan dalam rapat di tingkat pimpinan dan ketua fraksi, sumber datanya berasal dari media massa di Jember. Jadi terus terang saya sangat berterima kasih,” katanya.

“Bukan saya mau membandingkan dengan daerah lain, cuma di Jember ini sangat subur, variatif, warna-warni. Ini menunjukkan pelaku media di Jember memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Satu topik dibidik oleh tiap media, terutama online, anglenya bisa beda-beda. Ini menunjukkan betapa Jember sangat dinamis dalam segala hal,” kata Itqon.

Itqon memuji wartawan di Jember sejauh ini sangat profesional. “Saya tidak melihat di Jember ada media massa ‘pesanan’. Saya tetap melihat bahwa dari sudut pandang ilmu jurnalistik, profesionalitasnya terjaga. Makanya terus terang saya yang tidak punya pengalaman sama sekali dalam politik, sangat dibantu banyaknya media baik cetak maupun elektronik di Jember. Saya merasa sangat terbentu,” jelasnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah proses politik penyampaian hak interpelasi, angket, hingga hak menyatakan pendapat. “Terus terang, waktu itu kami tidak punya tenaga ahli. Saya sampai menganalogikan begini: selama proses dari interpelasi, hak angket, sampai hak menyatakan pendapat, ibarat saya hanya dibekali bensin untuk dua kilometer tapi disuruh menempuh perjalanan dari Jember ke Surabaya,” kata Itqon.

Menurut Itqon, saat itu pengetahuan politik soal pemakzulan sangat terbatas. “Belum ada preseden di Jember. Kami juga tidak bisa belajar ke mana-mana karena keterbatasan anggaran, dan mohon maaf, setiap saat dicecar pertanyaan-pertanyaan sangat tajam dari wartawan,” katanya.

DPRD Jember terbantu oleh wartawan saat itu. “Kadang-kadang kan dalam pemberitaan di media massa, wartawan mempertanyakan juga. Ada di bagian konklusi, di bagian kalimat penutupnya, bahwa ini sudah dirapatkan di panitia khusus, kita layak tunggu kelanjutannya. Itu kami terus terang mau tidak mau harus mengembangkan, mengejar, menggali, mencari,” kata Itqon. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar