Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

H Maulana Syahiduzzaman

Dari Santri Menjadi Pengusaha Kopi

H Maulana Syahiduzzaman mengecek kualitas kopi yang hendak digiling, Jumat (22/10/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Suara mesin penggiling kopi menderu di sudut ruangan yang berukuran luas, Jumat (22/10/2021). Dua pria sibuk mengeluarkan butiran kopi yang sudah di-roasting dari dalam karung. Biji kopi berwarna coklat itu kemudian dimasukkan ke masin tersebut.

Harum aroma kopi seketika menusuk hidung. Itu karena biji-biji kopi yang dimasukkan tadi, dalam sekejab keluar dari mesin penggilingan dalam bentuk serbuk. Bentuknya lembut, warnanya kecoklatan. Bubuk itu ditempatkan dalam wadah berukuran besar.

Di sebelah mesin penggiling terdapat mesin lainnya. Bentuknya lebih kecil. Mesin kedua ini digerakkan tenaga listrik. Setelah keluar dari mesin penggiling, bubuk kopi dalam wadah besar  dimasukkan ke dalam mesin kedua ini. Di mesin tersebut terdapat plastik panjang yang sudah disablon bertuliskan ‘Bin Kopi‘.

Bubuk kopi yang ada dalam mesin tersebut secara otomatis masuk dalam kemasan plastik. Dalam sekejab, jadilah bubuk kopi dalam kemasan sachet. Pengolahan itu dilakukan secara berurutan. Dari mesin penggiling, masuk ke mesin pengemasan, dan terakhir di-packing dalam kardus.

Itulah proses pembuatan kopi sachet yang ada di UD HMS Jombang. Home industri ini berada di Desa Tambakrejo Gang V, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Pemiliknya adalah H Maulana Syahiduzzaman (37), yang akrab disapa Kaji Maman. Sudah tiga tahun Kaji Maman menggeluti produksi kopi. Walhasil, seiring laju waktu, usahanya berkembang pesat, produksinya terus meningkat.

Kini pasar Bin Kopi bukan hanya Jombang, tapi sudah tembus ke luar kota. Di antaranya Sidoarjo dan Surabaya. Tentu saja, jumlah pekerja di home industri kopi tersebut juga mengalami peningkatan. Kalau dulu jumlah pegawai hanya belasan, kini mencapai 76 karyawan.

Santri PPSA Jombang

Kaji Maman (kanan) saat mengecek produksi Bin Kopi

Kaji Maman adalah pengusaha yang berlatar belakang santri. Betapa tidak, mulai kelas VI Sekolah Dasar (SD) hingga lulus SMA dia menuntut ilmu di PPSA (Pondok Pesantren Sunan Ampel) Jl Jaksa Agung Suprapto Jombang, Jawa Timur. “Mulai 1996 hingga 2003, saya nyantri di PPSA Jombang, dibawah asuhan KH Taufiqurrahman Muchit,” urainya.

Kaji Maman memang lebih banyak menimba ilmu agama, termasuk juga mengaji kitab kuning. Namun demikian, Maman mengakui, keberaniannya memasuki dunia usaha tidak lepas dari pendidikannya selama di pesantren. Yakni, keberanian untuk memulai hal-hal baru, juga keberanian menciptakan lapangan pekerjaan.

“Ini sekaligus membuktikan bahwa santri bisa masuk ke segala bidang. Bukan hanya masalah agama, tapi juga mumpuni di bidang ekonomi. Dengan begitu, santri bisa menjadi solusi di tengah masyarakat,” kata Kaji Maman.

Lantas mengapa memilih usaha pembuatan kopi? Bagi Maman pilihan itu juga tidak lepas dari pesantren. Karena selama menjadi santri, kopi merupakan salah satu minuman kegemarannya. Faktor lain, selama ini kopi yang dijual umum, banyak mengandung esens (penguat aroma). Dari situlah Maman membidik peluang. Dia menyuguhkan kopi asli (tanpa esens), kopi bercita rasa tinggi.

Sehari Dua Ton

Karyawan Bin Kopi sedang melakukan pengemasan

Setelah melakukan riset dan survei pasar, Maman mengawali produksi kopi bubuk pada 2018. Dia membeli sejumlah peralatan untuk pengolahan biji kopi. Sedangkan bahan baku, ia datangkan dari Wonosalam Jombang dan Malang. Gayung pun bersambut. Kopi produksinya bisa diterima di pasaran.

Dalam sehari, Maman rata-rata mampu memproduksi 2 ton kopi. Bubuk tersebut dikemas dalam berbagai ukuran. Namun yang paling banyak adalah ukuran sachet 25 gram. “Biji kopi yang kita olah sebanyak dua ton dalam sehari. Pasarnya masih di Jawa Timur. Kalau omzetnya Rp 200 sampai 300 juta per bulan,” katanya.

Karena produksi makin berkembang, Bin Kopi terus menambah karyawan. Hingga saat ini, karyawan Bin Kopi tercatat 76 orang. Puluhan orang itu ditempatkan dalam beberapa bagian. Yakni, bagian produksi, distribusi, pemasaran, hingga pergudangan. “Soal promosi, kami menggencarkan melalui media sosial, menggunakan instagaram, facebook, serta tiktok,” ungkapnya.

Mesin penggilngan masih menderu di ruangan produksi sore itu. Sejumlah karyawan UD HMS sibuk menggiling, mengemas, serta melakukan pengepakan. Di ruangan itu masih ada berkarung-karung biji kopi yang belum diolah. Maman lalu membuka salah satu karung. Isinya kopi yang sudah di-roasting. Dia mengambil segenggam, kemudian menghirupnya dalam-dalam. Harum aromanya, seharum rezekinya. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar