Siapa Dia

Bupati Suprawoto Tak Berhenti Menulis

Bupati Magetan Dr Suprawoto

Magetan (beritajatim.com) – Sudah setahun Dr Suprawoto menjabat sebagai Bupati Magetan, Jatim. Doktor lulusan Universitas Brawijaya Malang ini tetap menekuni bakatnya di bidang tulis-menulis.

Meski menjabat sebagai orang pertama di Kabupaten Magetan, setiap minggu Suprawoto harus mengisi kolom tetap di sebuah media massa terbitan Kota Madiun.

“Setiap minggu saya harus tetap menulis karena saya ada kolom khusus di sebuah media cetak terbitan di Kota Madiun,” kata Bupati Suprawoto saat memberikan sambutan pada kegiatan Media Gathering di Pendopo pemkab setempat beberapa hari lalu.

Yang menjadi catatan khusus dari Bupati Suprawoto itu bukan intensitas menulisnya yang tetap tinggi di tengah kesibukan menjalankan tugasnya sebagai bupati. Artikel yang ditulis Suprawoto tak hanya yang berbahasa Indonesia. Dia mengemban kewajiban dan tanggung jawab menulis artikel di sebuat majalah bulanan berbahasa Jawa, Panjebar Semangat, yang terbit di Kota Surabaya.

“Sudah lama saya menjadi penulis artikel di Panjebar Semangat,” tambahnya.

Selain menulis artikel lepas di sejumlah media massa, Suprawoto yang meraih gelar magister di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, juga telah menulis sejumlah buku. Tema bukunya sebagian besar tentang public relation di birokrasi pemerintah. Maklum, yang bersangkutan sebelum terjun ke ranah politik dan memenangkan Pilkada Magetan 2018 lalu, bapak tiga anak ini lama berkecimpung di dunia birokrasi.

Karirnya pertama di Departemen Penerangan, lalu Pemprov Jatim, dan dipromosikan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Posisi terakhir di Kemenkominfo adalah sebagai sekretaris jenderal.

Dunia media massa menjadi sahabat dekat bagi Suprawoto. Dia mengaku tak pernah menelepon wartawan atau penanggung jawab satu media massa setelah media massa tersebut mengkritik langkah dan kebijakannya.

Dia paham, kultur seperti itu tak baik bagi kemerdekaan dan kedewasaan pers. Justru, katanya, ketika ada media massa memberitakan satu temuan tertentu di lapangan, maka temuan tersebut menjadi input penting baginya untuk perbaikan dan pelurusan. “Ya saya tinggal forward ke kepala OPD terkait untuk mengecek dan memperbaikinya,” tukasnya.

Secara obyektif, posisi Kabupaten Bojonegoro dalam lanskap perekonomian dan pembangunan sumber daya manusia di Jatim berada di posisi tengah. Bupati Suprawoto mengutarakan, pertumbuhan ekonomi Magetan yang di tahun 2017 sebesar 5,07 persen dan ditargetkan bisa menyentuh angka 5,25 persen di tahun 2023. Perekonomian Magetan sangat tergantung pada sektor pertanian dan pariwisata. Telaga Sarangan yang berada di Kecamatan Plaosan termasuk obyek wisata unggulan daerah ini. Pada 2018 lalu, wisata Telaga Sarangan mampu memberikan pemasukan PAD sekitar Rp 13 miliar. Multiplier effect ekonomi yang terdampak dari keberadaan Telaga Sarangan sangat banyak, terutama bagi pelaku UMKM di Magetan.

Walaupun Magetan masih sangat tergantung pada sektor ekonomi berbasis primer (pertanian dan sejenisnya), ternyata Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masuk kriteria bagus dibanding daerah lainnya di Jatim. Pada tahun 2018, tingkat skor IPM Magetan mencapai 72,60. Angka tersebut jauh di atas angka rata-rata IPM Jatim, yang belum menyentuh skor 70,00. Ditargetkan hingga tahun 2023 mendatang, skor IPM Magetan menyentuh angka 74,62.

Dari sisi PAD, pada tahun 2018 lalu, realisasi PAD Magetan mencapai Rp 181 miliar dan ditargetkan pada 2019 bisa menyentuh angka Rp 192,7 miliar. Suprawoto mengatakan, pihaknya optimistis dalam 3 tahun ke depan akan banyak perubahan di Magetan, baik bersifat fisik maupun nonfisik. Yang terpenting, katanya, IPM warga Magetan harus terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga warga daerah ini memiliki kapasitas dan kualifikasi sebagai sumber daya unggul. “SDM unggul membuat mereka mampu eksist di mana pun,” tegas Bupati Suprawoto. [air/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar