Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Wawancara Refleksi Pembangunan 2021 di Situbondo (1)

Bupati Karna: Hampir Semua Janji Politik Terlaksana Walau Tertatih

Situbondo (beritajatim.com) – Sejak dilantik menjadi bupati Situbondo, Jawa Timur, 26 Februari 2021, Karna Suswandi menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Sebagai pendatang baru, mantan pejabat di Kabupaten Bondowoso dan Lumajang ini harus membangun fondasi terlebih dulu sebelum melaju.

Karna tak hanya menghadapi ketiadaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2021, tapi juga kultur birokrasi yang di luar perkiraannya. Namun pelan tapi pasti, bersama Wakil Bupati Khoirani, ia menguraikan persoalan satu demi satu dan memetakan solusi, serta mengeksekusi rencana yang dibuat.

Beritajatim.com mewawancarai Karna untuk mengetahui bagaimana ia merefleksikan masa pemerintahannya di Situbondo selama tahun 2021. Berikut wawancaranya yang dihadirkan secara bersambung.

Apa tantangan terberat yang dihadapi Pak Karna pada tahun 2021?

Pertama, bagaimana membuat semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) bisa berjalan dengan baik, penuih kerbersamaan, penuh kekompakan. Karena bagaimana pun menata internal ini jauh lebih berat ketimbang melaksanakan kegiatan-kegiatan. Apapun kegiatan yang akan dilakukan, kalau tanpa ada semangat, tanpa ada upaya untuk bisa bekerja dengan keras, dengan cerdas, dan ikhlas, tentu semuanya tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Banyak hal yang sudah bisa menjadi contoh akibat tidak adanya kesadaran terhadap betapa pentingnya sebuah program untuk masyarakat. Banyak hal sehingga banyak program yang tertunda sampai akhir anggaran, dan bahkan ada banyak dana yang tidak bisa diserap, karena lambannya pimpinan OPD dalam mengeksekusi seluruh kegiatan masing-masing. Ada dinas-dinas yang DAK (Dana Alokasi Khusus)-nya sampai tertunda, tidak bisa diserap. Eman. Padahal itu bisa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Apakah masih ada dampak dari pemilihan kepala daerah?
Nah itu jadi persoalan. Dampak dari sebuah pilkada, banyak hal yang kita hadapi. Tidak adanya DID (Dana Insentif Daerah) akibat keterlambatan APBD 2021, dan kemudian (sebagian kalangan) masih belum move on, belum bisa menerima (hasil pilkada).

Masih ada blok-blok?
Biasalah, karena orang baru terkadang diuji apakah mampu atau tidak.

(Catatan: Karna mengalahkan petahana wakil bupati Situbondo periode sebelumnya, Yoyok Mulyadi yang berpasangan dengan Abu Bakar Abdi, dalam pilkada 9 Desember 2020. Bersama Khoirani, ia meraih 200.591 suara atau setara 53 persen suara)

APBD 2021 baru disahkan pada Maret 2021. Bagaimana mengeksekusinya dan sejauh mana capaiannya?

Memang kuncinya sekali lagi ada pada pimpinan OPD untuk bisa merealisasi berbagai kegiatan. Karena kegiatan ini sangat penting bagi upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kalau APBD tidak berjalan, jangan harap ekonomi akan tumbuh dengan baik. Karena bagaimana pun, dengan berbagai kegiatan berjalan, uang yang beredar di masyarakat bertambah dan dengan begitu ekonomi akan tumbuh.

Apa capaian monumental Pak Karna pada 2021?
Capaian itu bisa dilihat dari penghargaan yang bisa didapat dari pemerintah atasan. Itu adalah bentuk apresiasi dari pemerintah di atas saya sebagai reward dari apa yang sudah kami lakukan. Kita bisa mengukur sendiri capaian-capaian itu.

Baca Juga:

    Tentu orang lain yang bisa melihat keberhasilan-keberhasilan itu. Nah, tapi lebih penting juga, ketika kita minta pendapat kepemimpinan saya bersama Nyi Khoi kepada masyarakat bawah. Kalau masyarakat bawah kan jujur. Beda dengan praktisi, yang sudah banyak kepentingan. Tapi kalau masyarakat tani dan nelayan, tokoh agama, barangkali masih ada sisi kejujuran dalam menyampaikan berbagai hal.

    Ada sejumlah hambatan yakni keterlambatan APBD 2021 dan konsolidasi birokrasi. Seberapa jauh janji politik terlaksana?

    Janji politik hampir semua bisa kami laksanakan. Walaupun tertatih-tatih. Semua janji politik bisa kami laksanakan semua. Artinya di balik kesulitan dan kendala-kendala itu, upaya untuk bisa mengorganisasi itu masih bisa dilakukan, walau jalannya tidak secepat yang kami harapkan. Ya maklum, karena mereka belum terbiasa langsung turun ke lapangan. Biasa hanya mendengar laporan dari anak buah. Ketika saya berkegiatan terus ke desa, OPD bergantian mendampingi sudah merasa sangat capek. Padahal saya yang setiap hari tidak ada masalah.

    Itu budaya kerja baru di zaman pak Karna?

    Kami ingin agar pimpinan OPD tidak hanya bisa duduk di belakang meja, tapi juga bisa turun, sehingga tahu fakta, tahu realitas di lapangan. Dengan tahu realitas, dia bisa mencoba menyelesaikan persoalan-persoalan, mengurai berbagai permasalahan yang ada, sehingga diambil keputusan dan persoalan masyarakat di bawah bisa terurai dengan baik. [wir/ted]


    Apa Reaksi Anda?

    Komentar