Siapa Dia

Berawal Dari Hobi, Kades di Madiun Ini Kembangkan Wisata Alam Desa

Foto: instagram https://www.instagram.com/waturumpuk_mendak/

Madiun (beritajatim.com) – Tatanan varian bunga-bunga nampak jelas ketika memasuki kawasan wisata Watu Rumpuk, Desa Mendak, Dagangan, Madiun, Jawa Timur.

Suasana asri dan alam.yang masih lestari melipur lara bagi wisatawan. Kicauan burung dan sejuknya udara menambah suasana damai. Tambah, pengunjung bisa bersantai di sejumlah gazebo yang disediakan oleh pengelola wisata yang jadi badan usaha milik desa itu.

Adalah Nur Cholifah, wanita bertangan dingin yang menata wisata alam di kawasan hutan lindung Perhutani.

Kepala Desa Mendak dua periode itu mengorbankan banyak waktu untuk bisa membuat kawasan wisata berbasis alam itu jadi makin menarik. Banyak gagasan yang dia miliki untuk inovasi dan pengembangan. Meski selama pandemi banyak yang harus ditunda karena mayoritas anggaran untuk pengembangan terkepras akibat refocusing.

Wanita yang sebelumnya sempat jadi dosen di salah satu universitas di Madiun itu awalnya prihatin pada usaha masyarakatnya yang saat itu menanam cengkeh gagal panen akibat terkena hama.

Tragedi itu, bermula saat seluruh pohon cengkeh yang tadinya ada di kawasan wisata Watu Rumpuk itu mati akibat diserang hama dan sengaja ditebang oleh pemilik karena tak bisa dipanen lagi tepatnya tahun 2012 silam. Mata pencaharian mereka pun hilang. Karenanya, Ifa, sapaan lekat Nur Cholifah membuat gagasan untuk menjadikan lahan eks kebun cengkeh itu jadi lokasi wisata.

”Dari situ kami mencoba bekerja sama dengan Perhutani. Respon dari masyarakat bagus, pengunjung juga berminat datang, kami pun bisa berlanjut untuk mengenbangkan pariwisata di kawasan Watu Rumpuk. Pemandangan alam di sini bagus. Di awal booming karena banyak spot-spot selfie yang menarik. Dan semakin ke sini, kami mencoba oengembangan wisata untuk venue event juga,” kata Ifa saat ditemui di lokasi, Minggu (27/2/2022)

Kepala Desa Mendak, Dagangan, Madiun, Nur Cholifah

Namun, bukan hanya itu tujuan wanita 39 tahun itu, dia ingin mengekspos salah satu jalur pendakian menuju Puncak Gunung Manyutan, salah satu bukit terkenal di kawasan lereng Wilis. Di puncak gunung itu ada cekungan mirip telapak kaki besar. Warga setempat mengenalnya dengan Tapak Bimo. Jalur menuju Tapak Bimo dimulai dari Watu Rumpuk. Sehingga, dia ingin menarik minat para pendaki dengan Watu Rumpuk.

Niatnya mengekspos Tapak Bimo tak lepas dari hobinya untuk hiking dan trekking. Dia sudah menjadwalkan setidaknya sebulan sekali untuk trekking. Dia kerap mengajak beberapa orang kenalannya untuk menjajal Pendakian tapak Bimo yang notabene jadi satu komplek dengan Wisata Watu Rumpuk. Trek itulah yang ingin dikenalkan kepada seluruh masyarakat di luar kabupaten Madiun.

‘’Karena Mendak juga punya jalur pendakian ke Goa Jepang yang ada di Gunung Wilis. Di dekat Goa Jepang itu ada beberapa arca. Baik arca Londo dan Arca Macan. Trek menuju ke Tapak Bimo ini manrik, dan kami poles terus supaya makin matang untuk dijadikan wisata minat khusus,’’ katanya.

Tak hanya tahu tentang kondisi alamnya, rupanya cintanya kepada alam turut memberikan manfaat. Terbukti, tatanan bunga – bunga yang ada di Watu Rumpuk adalah berkat gagasannya. Bunga – bunga yang sarat dengan tatanan khas wanita itu rupanya adalah ide yang dia kembangkan. Dia mengakui kalau tidak terinspirasi dari mana – mana. Dia hanya mencoba memberikan yang terbaik menurutnya saja.

‘’Jadi, tidak karena melihat dari mana – mana. Murni saya sendiri yang memikirkan seperti apa penataannya. Di awal bunga-bunga saya ambil dari Malang, saya coba tanam di sini. Kami rawat sampai jadi banyak dan bagus seperti sekarang,’’ katanya.

Karyanya yang cukup artistik itu rupanya cukup untuk mengundang wisatawan dari berbagai daerah. Terbukti kini Watu Rumpuk sudah cukup dikenal masyarakat. Usahanya untuk mengembangkan pariwisata di Desa Mendak tak sia – sia. Dia pun senang lantaran hobinya nruthus ke alam bebas juga memberikan pengaruh yang baik bagi pekerjaannya.

‘’Sudah sejak lama hobi berpetualang, syukur bisa memberikan kontribusi. Belakangan saya jarang hiking karena banyak kegiatan,’’ pungkasnya. (fiq/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar