Siapa Dia

Banjir Jombang dan Kisah Syadat-Syadit

Relawan kembar Syadat dan Syadit memeriksa perahu di pedukuhan Kalipuro, Bandarkedungmulyo, Jombang, Rabu (17/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Syadat dan Syadit duduk di atas perahu karet warna kuning. Syadat berada di sisi kanan, sedangkan Syadit di sisi kiri. Tangan kedua bocah kembar ini tak henti bergerak. Mereka mendayung perahu menuju tepian.

Di atas perahu tersebut ada lima orang lainnya. Empat orang pengungsi dan satu lagi seorang skipper, yakni orang yang duduk paling belakang untuk memandu haluan perahu. Kapan harus mendayung lebih cepat, kapan harus berbelok, atau kapan harus menghentikan dayungan. Dia terus memberi aba-aba.

Syadat dan Syadit memeras keringat, mendayung perahu dengan giat agar lajunya lebih cepat. Namun hal itu tak membuahkan hasil. Perahu pengangkut pengungsi itu justru malas bergerak. Berjalan lambat-lambat seperti siput. Sebabnya, hempasan angin cukup kuat menampar para penumpang dan perahu.

Bukan hanya itu, hempasan angin juga menciptakan ombak yang menghantam perahu. Akibatnya, perahu sempat terhenti. Berputar-putar di tengah banjir. Kadang miring ketika datang hempasan air. Namun demikian, si kembar pendayung perahu tidak patah arang. Mereka terus berupaya menggerakkan perahu tersebut.

Upaya itu berbuah manis. Sekitar 20 menit berselang, perahu yang sedang mengevakuasi warga pedukuhan Kalipuro, Dusun Kedunggabus, Kecamatan/Bandarkedungmulyo Jombang ini sampai di tepian. Senyum Syadat dan Syadit langsung mengembang. Mereka lolos dari hadangan angin. Selanjutnya, semua penumpang turun dari perahu.

Relawan kembar Syadat-Syadit saat mengevakuasi korban banjir dari rumahnya di Dusun Kedunggabus, Senin (15/2/2021)

Barang-barang yang ada di atas perahu tersebut juga dibawa. Mereka kemudian naik ke posko yang ada di tanggul Sungai Afvoer Besuk. Para pengungsi istirahat di posko tersebut. Namun tidak demikian dengan bocah kembar ini. Keduanya menata nafas sejenak. Mengguyur tenggorokan dengan air mineral, lalu berangkat lagi mendayung.

“Banyak pengungsi dan barang-barang yang harus dievakuasi. Sehari kemarin, sekitar 23 kali bolak-balik dari permukiman penduduk menuju tempat lebih aman. Sempat diterjang ombak banjir hingga perahu miring. Saya panik, karena yang saya evakuasi ada perempuan lansia,” kata Syadat memulai kisahnya, Kamis (18/2/2021).

Kembar Berkuncir

Relawan kembar Syadat dan Syadit saat berada di posko peduli bencana, Rabu (17/2/2021)

Syadat dan Syadit adalah relawan yang ikut turun di lokasi banjir Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo selama dua minggu. Nama lengkapnya Ahmad Syadat Junaidi (19) dan Ahmad Syadit Junaidi (19). Keduanya lahir pada 8 Agustus 2002. Mereka bergabung di Posko Peduli Bencana Silaturasa Lintas Komunitas Jombang.

Komunitas ini terdiri dari berbagai unsur, salah satunya ada Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) yang ada di Jombang. Nah, Syadat-Syadit berasal dari MPA (Mahasiswa Pecinta Alam) Trisula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang. Bukan hanya wajah yang sama. Tampilan keduanya juga serupa. Rambut sama-sama berkuncir, pakaian juga senada.

Maka tidak heran banyak pengungsi yang bingung membedakan keduanya. Syadat terkadang dipanggil Syadit, begitu juga sebaliknya, Syadit disapa Syadat. Sedangkan di komunitas pecinta alam, keduanya akrab disapa Gembolo dan Gembili. Namun lagi-lagi, karena wajah yang sama, para anggota komunitas juga kesulitan membedakannya. Gembolo kadang dipanggil Gembili, kemudian Gembili dipanggil Gembolo.

Bukan hanya wajah yang serupa, tapi rasa kemanusiaan warga Desa Ngrandulor, Kecamatan Peterongan, Jombang ini juga seirama. Keduanya memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Makanya, begitu mendengar sejumlah desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo diterjang banjir, keduanya berangkat bersama rekan-rekannya satu komunitas.

Banjir terjadi pada Jumat (5/2/2021) malam, Gembolo dan Gembili berangkat ke lokasi pada Sabtu. Dari Jombang Kota, mereka naik bus ke Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo yang berjarak 17 kilometer. Lokasi yang dituju adalah Balai Desa Bandarkedungmulyo. Di tempat itu, mereka bergabung dengan relawan lainnya dari berbagai kota.

Aktifitas kemanusiaan langsung dilakukan. Melakukan pemetaan kebutuhan pengungsi di sejumlah titik, lalu menerima bantuan dan mendistribusikannya ke titik-titik tersebut. Di posko balai desa itu, anak ke-3 dan 4 dari empat bersaudara ini juga membantu di dapur umum.

“Pada Sabtu saat berada di posko balai desa Bandarkedungmulyo, kami juga membantu di dapur umum. Saya memasak nasi, kakak saya Syadit memotong sayur. Esoknya, kami mengantarkan nasi bungkus ke para pengungsi,” kata Syadat.

Nah, di dapur umum itu banyak relawan dari komunitas lain yang bingung dan terhibur. Karena di dapur tersebut muncul dua orang dengan wajah serupa. “Ada yang bilang begini, tadi ketemu saya di pengungsian, kok sekarang sudah di dapur umum,” kata Syadat mengutip keheranan relawan di dapur umum Balai Desa Bandarkedungmulyo.

Dari balai desa, posko peduli bencana asal Jombang ini bergeser ke Dusun Braan, Desa Bandarkedungmulyo. Mereka mendirikan tenda induk berukuran besar. Dari situ pula pemetaan kebutuhan pengungsi dilakukan. Kemudian Syadat-Syadit mengirimkan logistik ke titik-titik tersebut.

Syadat dan Syadit sedang mendata kebutuhan logistik untuk pengungsi banjir, Rabu (18/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Banjir di Kedunggabus sempat surut pada Kamis (11/2/2021). Para pengungsi mulai kembali ke rumahnya untuk bersih-bersih. Namun sehari kemudian, tanggul di Sungai Afvoer kembali jebol. Air yang awalnya surut, naik lagi setinggil pusar orang dewasa.

Para relawan kembali turun ke lokasi, termasuk si kembar berkuncir Syadat-Syadit. Dengan perahu karet, mahasiswa Fakultas Ekonomi Undar semester 2 ini menyeberangi banjir. Perahu masuk ke pemukiman padat penduduk, membantu warga meninggalkan rumah untuk kembali ke pengungsian. Juga mengevakuasi barang-barang.

Lagi-lagi dua mahasiswa ini sangat kompak. Sama-sama mendayung di atas satu perahu. Menyusuri genangan air setinggi pusar, mendayung lebih cepat, berbelok, dan menghentikan dayungan ketika sudah sampai di tepian.

Kamis (18/2/2021) banjir di pedukuhan Kalipuro berangsur surut. Mahasiswa berusia 19 tahun ini meninggalkan posko relawan. Dia menuju ke kampusnya untuk mengikuti rapat organisasi. Ya, kenangan korban banjir tentang dua relawan kembar ini tak akan hilang, meski mereka tetap sulit membedakan mana Syadat dan mana Syadit. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar