Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita (6-Habis)

Mahfud Ikhwan berulang tahun ke 41 pada 7 Mei 2021 kemarin. Penulis empat novel asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, ini masih akan terus menulis di tengah semakin banyaknya penulis-penulis baru yang tumbuh dan berkembang. Ini tren yang membuat penyabet dua penghargaan kepenulisan ini tidak terlalu gembira.

“Banyak orang yang menulis tapi tidak membaca. Dan itu segera ketahuan dari tulisannya. Karena mereka lebih dibayangi imajinasi bahwa menjadi penulis ini tenar, kaya-raya, follower-nya banyak,” kata Mahfud dalam serial keenam wawancaranya dengan Beritajatim.com. Berikut petikannya.

***

Beritajatim.com: Apakah ada keinginan memberi kursus menulis untuk masyarakat?

Mahfud Ikhwan: Aku sudah pernah melakukannya pada 2012-2015. Capek. Aku merasa bukan guru menulis yang baik. Kecuali untuk orang-orang yang tidak peduli dengan metode mengajar. Aku pernah bilang: aku tidak pernah bisa menempuh metode belajar-mengajar dalam menulis. Aku percaya creative writing harus diajarkan secara formal. Entah itu di akademi atau kampus. Tapi aku tidak bisa melakukannya.

Jadi misalkan ada orang belajar menulis denganku, kalau tidak melibatkan hal-hal di luar belajar-mengajar, tidak akan bisa. Kami harus berteman dulu. Mengobrol hal-hal di luar menulis. Bahkan menulis itu sendiri hanya bagian kecil dari relasi itu.

Beritajatim.com: Menulis butuh stamina panjang bagi orang yang belajar menulis?

Mahfud Ikhwan: Bukan hanya bagi orang yang baru belajar menulis. Orang yang levelnya advance juga butuh stamina juga.

Beritajatim.com: Apakah menulis sudah bisa menjanjikan secara ekonomi?

Mahfud Ikhwan: Ketika creative writing dijual sebagai jasa, pasti ada harapan. Dan kadang ketika harapan-harapan itu dimulukkan sebagai iklan, ya persoalan memang. Tapi relasi bisnis kan memang begitu. Ini kan sudah bisnis. Seperti ketika membaca reklame kampus.

Beritajatim.com: Menurutmu creative writing belum cukup diajarkan di sekolah?

Mahfud Ikhwan: Belum ada. Di mana adanya? Kita kan menulis bisa sendiri. Dari dulu ada pelajaran mengarang. Tapi kan ya begitu saja: cerita berlibur ke rumah nenek dan sejenisnya.

Tidak perlu ada jurusan (creative writing) di SMK memang. Tapi yang perlu dilakukan adalah, pertama, memisahkan bahasa dengan sastra. Porsinya biar sama. Kedua, melembagakan pembacaan sastra sebagai bagian dari pendidikan. Orang dikenalkan karya-karya besar. Dan setelah itu ada pelajaran menulis, entar satu semester atau satu tahun.

Beritajatim.com: Kurikulum pendidikan kita belum mendukung ke sana?

Mahfud Ikhwan: Ya, karena berapa sih jam pelajarannya dan itu pun dihabiskan untuk belajar cara menulis surat-menyurat, belajar ejaan, habis waktunya.

Beritajatim.com: Akhirnya orang belajar otodidak?

Mahfud Ikhwan: Iya, kalau kita tidak masuk kampus dan bertemu komunitas menulis kan ya bablas.

Beritajatim.com: Artinya dengan kurikulum yang mendukung creative writing, banyak bakat yang hilang?

Mahfud Ikhwan: Iya. Meskipun aku juga bukan orang yang sangat gembira dengan maraknya penulis. Bayangkan, banyak orang yang menulis tapi tidak membaca. Dan itu segera ketahuan dari tulisannya. Karena mereka lebih dibayangi imajinasi bahwa menjadi penulis ini tenar, kaya-raya, follower-nya banyak.

Apalagi sekarang imbalan-imbalan itu sangat kelihatan, sangat physical, ada di angka-angka. Angka follower, angka viewer, angka penjualan. Makanya ada influence dan influencer, dan orang kemudian lebih masuk ke sana. Orang sudah menjadi penulis ketika sudah menulis satu dua tulisan yang di-sharing banyak orang, diundang ke mana-mana.

Meskipun pada saat yang sama aku sepakat, bahwa itu mendemokratisasi kepenulisan yang sebelumnya elitis. Tapi kan seperti sepak bola, menulis seharusnya berbasis merit. Berbasis keunggulan. Jadi tidak bisa langsung ikut liga super kan? Harus ikut liga conference dulu, terus national league, lalu baru football league.

Kadang menulis tampak mudah, dan semua yang menggaungkan kemudahan menulis, orang hanya melihat mudahnya. Semua orang kemudian tiba-tiba terobsesi menulis. Karena tidak ada batasan dan ukuran yang jelas.

Beritajatim.com: Kenapa tren menulis tumbuh?

Mahfud Ikhwan: Faktor media sosial menurutku paling tampak. Tapi juga ada kesadaran baru bahwa menjadi penulis itu keren. Orang kan sekarang semakin dekat dengan penulis. Bisa melihat. Dulu kalau kita melihat sosok WS Rendra kan seperti sosok dongeng, sosok ‘nabi’. Orang sekarang sudah bisa mencolek Aan Mansyur (penulis puisi Ada Apa dengan Cinta 2, red), bisa nge-tag Mahfud Ikhwan. Jarak sangat mengecil, dan orang punya gambaran yang lebih simpel tentang menjadi sesuatu.

Ndilalah, menulis ini kan skill mentahnya memang gampang. Kamu menulis status media sosial dua paragraf sudah jadi tulisan. Kan beda kalau kamu mau menyuntik pasien, tidak bisa sembarangan.

Orang-orang ini membayangkan semua orang bisa jadi penulis ini seperti membayangkan semua orang bisa jadi dokter. Sepopuler apapun sepak bola, yang main tetap sebelas pemain dan cadangannya. Yang 100 ribu orang menonton. Tapi di dunia menulis, semua orang merasa bisa menjadi pemain. Maka itu kemudian kadang sekat-sekat dilonggarkan. Aku pernah bilang perumpamaan dari sepak bola: kalau kamu ingin mencetak gol jauh lebih mudah dan menghilangkan gawang, ya sepak bola tidak menarik. Jadi standar menulis harus tetap tinggi dan menurutku di sana saringannya. Meritokrasi di situ. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar