Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita? (5)

Menjadi penulis berarti menjadi pembaca buku yang baik itu. Itu diyakini Mahfud Ikhwan, penulis novel asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. “Kalau tidak membaca ya tidak bisa menulis. Sesimpel itu,” katanya kepada beritajatim.com.

Dalam serial kelima wawancara soal penulisan kreatif beritajatim.com, Mahfud mengungkapkan keterkaitan sejumlah bacaan dengan kreativitas dan inspirasi penulisan karya-karyanya. Termasuk mengungkap bagaimana minat Mahfud yang merentang jauh pada buku sastra, film India, sepak bola, dan bacaan lainnya juga membentuk dirinya sebagai penulis. Dia juga mengungkapkan dari empat novelnya, mana yang dianggapnya paling sulit dan disukainya.

Beritajatim.com: Seberapa besar pengaruh buku bacaan dalam penulisan novelmu?

Mahfud Ikhwan: Kalau tidak membaca ya tidak bisa menulis. Sesimpel itu. Cuma aku adalah orang yang dibesarkan budaya pop sebenarnya. Jadi kalau hanya membaca buku saja, aku tidak akan menjadi penulis. Karena ada jarak antara menjadi pembaca dengan ketika menulis. Ketika menulis, aku sebenarnya semakin menurun asupan bacaanku. Aku punya prinsip ketika menulis, aku menjadi sangat pemilih. Sementara habit membacaku sangat random, dan itu tidak bisa kubawa ketika menulis.

Di rak bukuku, ada film India, musik, sepak bola, film. Itu semua kalau dibaca dengan intensitas yang sama dengan intensitas sebagai penulis, tidak nyambung. Agak sulit menghubungkannya. Makanya aku percaya dengan hikmah. Timbunan ingatan atas bacaan. Bacaan-bacaan tidak pernah lenyap. Pokok tersimpan di laci mana di kepala kita, dan ketika kita butuhkan ada triggernya dan dia kemudian muncul sendiri. Tentu saja ingatan yang sudah tersaring. Mungkin sebagai hikmah, sebagai cerminan, mungkin sebagai sejarah yang terpotong, tidak lagi utuh. Mungkin juga di pembacaan yang sudah berbeda.

Beritajatim.com: Selain buku-buku karya Kuntowijoyo, buku apa yang memberimu inspirasi?

Mahfud Ikhwan: Ada buku yang tanpa itu aku tidak akan pernah menulis novel. Buku itu berjudul Pater Pancali karya Bibhutibhushan Banerji. Setelah membaca buku itu, membaca cerita tentang kampung, seorang bocah pada 1920-an di Bengali, hubungannya sehari-hari yang rumit dengan ibunya, bapaknya yang sarjana tapi tidak becus menghidupi keluarga. Keluarganya brahmana tapi miskin. Gambaran tentang hutan, tentang ladang, tentang sebuah keluarga di akhir masa kolonial Inggris di India, meledakkan kepalaku. Aku kayaknya bisa menulis cerita seperti ini.

Beritajatim.com: Mungkin karena saking membuminya cerita itu?

Mahfud Ikhwan: Mungkin itu faktornya, tapi terutama kena langsung di hati. Ini bacaan yang aku cari. Secara sangat emosional pas. Misalnya aku bisa menemukan diriku pada tokoh-tokohnya. Bisa menemukan desaku pada desa itu. Jadi kondisi Brondong ini tidak terlaluh jauh dari kondisi Nischindipur. Dan bahkan India tahun 1920-an tidak beda dengan Lamongan tahun 1980-an. Aku tiba-tiba seperti kemudian merasa: kelihatannya aku bisa menulis seperti itu.

Beritajatim.com: Buku di luar sastra yang memberi pengaruh atau warna pada penulisan ceritamu?

Mahfud Ikhwan: Banyak juga sih, tapi kasus per kasus. Ketika skripsi, aku menulis tentang Kuntowijoyo, dan skripsiku agak menyeberangi batas kefakultasan. Jadi aku lebih banyak membaca kajian-kajian sosiologi dan antropologi Indonesia, khususnya Jawa dan Islam. Beberapa buku kemudian memberikan amunisi yang sangat besar, dan lagi-lagi seperti aku membaca Pater Pancali, aku menemukan cerita-cerita yang belum kutulis pada buku-buku kajian sejarah, antropologi, sosiologi itu.

Misalnya, buku Jeroen Peeters, yakni sejarah pertumbuhan dan konflik Islam modern dan Islam tradisional di Palembang. Judulnya Kaum tuo-Kaum mudo : Perubahan Religius di Palembang 1821-1942. Bersamaan dengan itu ada buku lain judulnya Para Pengemban Amanah karya Mohammad Iskandar, yang bercerita konflik antara Islam modernis dan tradisional di Sukabumi atau Pasundanlah pada 1930-an. Ini dua buku sejarah.

Buku yang lain Islam Murni dari Abdul Munir Mulkhan. Ini antropologi. Buku ini bercerita tentang orang-orang PNI atau bahkan PKI, orang abangan, yang mungkin karena trauma tahun 1965 yang ketika memilih kembali beragama, mereka lebih memiih menjadi modernis daripada tradisionalis. Dan itu menciptakan corak Muhammadiyah yang aneh.

Menurutku, buku-buku seperti itu membawaku kepada  pengalamanku sendiri sebagai orang Lamongan yang hidup di antara NU dan Muhammadiyah, yang setiap hari kontestasi. Gerak jalan tawuran. Bal-balan pecah. Semua harus ada dua, dan kupikir dari buku-buku itulah aku menulis ‘Kambing dan Hujan’.

Beritajatim.com: Dari empat novelmu, mana novel yang paling sulit ditulis?

Mahfud Ikhwan: Novel yang sulit ditulis? Ulid. Sulit dijual? Ulid. Saat itu orang belum kenal Mahfud. Bahkan setelah sudah agak dikenal ya tetap saja sulit. “Memunggungi semua tren”. Itu istilah kritikus Katrin Bandel.

(Dalam ulasannya, Katrin Bandel mengatakan, Ulid membawa pengalaman agak unik ketika membacanya. Ulid menampilkan sesuatu yang berbeda. “Apabila novel Ulid kita bandingkan dengan karya-karya sastra Indonesia lain yang berkisah tentang masyarakat pedalaman, saya rasa kecenderungan Mahfud untuk berfokus pada pengalaman batin yang universal menjadi tawaran baru yang sangat menarik,” katanya.)

Penulis buku sastra tahun 2000-an didominasi tiga tren. Sastra wangi, urban; sastra Islami seperti Ayat-Ayat Cinta; dan fiksi motivasi seperti Laskar Pelangi. Ulid bukan itu semua. Settingnya desa. Agamanya ornamental dan sangat skeptis. Sejak awal dicurigai sebagai true story dan ingin dijual seperti itu. Sampulnya bergambar perempuan, padahal karakter utamanya laki-laki.

Beritajatim.com: Ulid ini novel dengan cerita sangat manusiawi, normal, tidak ada suspense, bergerak lurus. Cerita manusia biasalah. Tidak seperti tiga novelmu yang lain yang penuh unsir konflik. Bagaimana menjaga agar orang tertarik membaca?

Mahfud Ikhwan: Aku tidak memikirkan yang capek, yang tidak bertahan, atau yang sama sekali tidak tertarik. Aku hanya yakin ada orang yang akan membaca novel seperti ini. Ini novel personal. Jadi aku tidak ada kompromi soal isi. Semau-mauku. Tapi eh malah dipaksa kompromi habis soal kemasan buku. Ulid tidak pernah punya pembaca yang besar, tapi aku menemukan para pembacanya fanatik, dan itu yang kupikirkan sejak awal menulis: novel seperti ini pasti akan ketemu pembacanya sendiri.

Beritajatim.com: Oke, Ulid adalah novelmu yang paling sulit. Novelmu yang paling kamu sukai?

Mahfud Ikhwan: ‘Kambing dan Hujan’ disukai ibu-ibu. Itu fase yang perlu dilewati. Kalau orang kenal aku pasti tahu bahwa itu adalah novel yang paling kuentengkan sebenarnya. Memang relatif nge-pop.

Tapi karena novel pertama dan ada drama setelah penerbitan, aku tetap merasa ada semacam pembelaan terhadap ‘Ulid’. Ini bukan mana novel yang lebih kusukai, karena agak sulit menjelaskannya. Tapi kira-kira sama-sama sedang menjualnya, aku akan jauh lebih sarankan untuk membaca ‘Ulid’ lebih dulu. Jadi aku punya semacam pembelaan lebih. Ulid ini seperti anak ‘mbarep’, hola-holo, mesakke (anak sulung yang patut dikasihani, red). Jadi secara emosional aku punya kaitan. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar