Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita? (4)

Mahfud Ikhwan, penulis novel kelahiran Lamongan, Jawa Timur itu belajar banyak dari Kuntowijoyo, seorang cendekiawan ilmu sosial dan sekaligus penulis fiksi yang produktif. Dia tidak pernah diajar langsung oleh Kunto hingga sang maestro meninggal dunia. Namun Mahfud mengambil teknik Kunto untuk menulis.

Saat ini, Mahfud sedang rajin membaca buku-buku memoar. Mengapa ia bisa tertarik dengan memoar? Akankah dia menulis buku nonfiksi? Seberapa jauh pengaruh Kunto dalam tulisan-tulisannya. Berikut serial keempat wawancara Beritajatim.com dengan novelis peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 itu.

***

Beritajatim.com: Adakah keinginan untuk menulis novel kisah nyata dan bukan fiksi?

Mahfud Ikhwan: Aku sudah pernah menulis novelisasi pelari nasional Suryo Agung Wibowo, berjudul ‘Lari, Gung! Lari!’. Aku dibayar pakai laptop Acer 10 inci.

Beritajatim.com: Apakah akan dilakukan lagi?

Mahfud Ikhwan: Ya bisa saja kapan-kapan. Aku kalau ketemu sosok menarik bisa saja menulis biografi. Aku belakangan lebih banyak baca memoar, dibanding novel. Itu bisa kamu bayangkan sebagai kecenderungan minatku.

Beritajatim.com: Memoar siapa yang sedang kamu baca?

Mahfud Ikhwan: Macam-macam. Mungkin efek baca Nick Hornby dan baca banyak sekali memoar tentang sepak bola. Tapi akhirnya merembet ke memoar para penulis. Memoar orang-orang biasa yang mungkin menarik. Salah satunya City Boy: My Life in New York During the 1960s and ’70s karya Edmund White. Dia seorang penilis gay Amerika dan banyak bercerita soal tahun 1960-an. Dan aku sedang melanjutkan beberapa memoarnya yang lain, karena dia banyak menulis memoar. White banyak bercerita tentang sosok-sosok besar kaum gay yang dikenalnya di Amerika dan Eropa.

Beritajatim.com: Di antara semua novelmu, yang paling sulit ditulis yang mana?

Mahfud Ikhwan: Ulid, karena itu yang pertama. Babat alas.

Beritajatim.com: Siapa penulis yang mempengaruhimu?

Mahfud Ikhwan: Mungkin dunia yang diceritakannya, dan mungkin style juga: bagaimana dia melihat peristiwa dan menyajikannya kepada pembaca. Dia lebih terlihat sebagai seorang pendongeng daripada seorang pengarang kontemporer. Dan aku sangat menyukai gaya itu.

Selama ini aku mengklaim banyak terinspirasi Kuntowijoyo. Cuma belum ada yang bisa membuktikan klaim itu secara akademik atau setidaknya dalam pembacaan yang lebih ketat. Yang bisa kuobrolkan adalah apa yang sangat menarik dari Kunto dan kuambil sebagai penulis.

Aku sangat menyukai kesederhanaan Kunto dalam bercerita. Kesederhanaannya itu bisa pada cerita itu sendiri, diksi, dan terutama secara keseluruhan bagaimana orang bisa menyimal cerita itu. Sesederhana itu. Kita selalu merasa menjadi seorang pendengar dongeng. Santai menyimak cerita-cerita Kunto. Kunto nyaris selalu tampil sebagai pendongeng, bukan penulis yang menggebu.

Mungkin untuk beberapa karyanya berbeda. Misalnya itu pasti tidak berlaku untuk Khotbah di Atas Bukit yang agak misterius, agak suram, agak religius, dan agak sulit dikerangkai dalam karya Kunto keseluruhan.

Beritajatim.com: Seperti novel Impian Amerika?

Mahfud Ikhwan: Ya seperti itu. Sangat sederhana. Dia hanya bercerita tentang orang-orang biasa. Orang-orang yang dikenalnya. Dan konfliknya ya begitu-begitu saja. Ringan. Lucu. Meskipun tidak kehilangan kedalaman.

Katakanlah cerita Laki-laki yang Kawin dengan Peri. Dia memulainya dengan ‘Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini’. Itu kan seperti ketemu orang tua di pinggir jalan, ngopi, lalu bertanya: Sampeyan pernah dengar cerita ini tidak? Semacam itulah. Dan itu mempengaruhiku sampai di level teknis.

Jadi cara-cara Kunto itu yang menempatkan ‘Aku’ di periferal. Tidak selalu sih, tapi sebagian besar (karyanya). Terutama pada masa-masa terakhir, ketika dia mulai sakit. Dia memakai teknik ‘Aku’ yang periferal. Jadi ada tokoh ‘Aku’ tapi bukan tokoh utama. Contoh: aku kemarin bertelepon dengan Oryza. Ceritanya tentang Oryza sampai akhir. Jadi si ‘Aku’ hanya menjadi mesin pencerita. Dan itu sangat kupakai saat menulis ‘Dawuk’ dan sekarang ‘Anwar Tohari Mencari Mati’.

Beritajatim.com: Kuntowijoyo memakai teknik itu pada novel yang mana?

Mahfud Ikhwan: Sebagian besar pada cerpen-cerpennya yang lebih akhir. Orang mungkin banyak yang tidak tertarik, karena merasa tidak semendalam cerpen-cerpen lamanya. Tapi menurutku, justru secara teknik Kunto adalah orang yang paling sadar terhadap keterbatasan cerpen koran, dan karena itu dia berjasa. Dia sadar sejak awal kalau tidak mungkin bisa memuat cerita dengan kelengkapan fiksi sebagaimana cerpen di majalah. Kemudian dia meminjam teknik lapangannya Geertz, yaitu description, deskripsi yang ringkas.

Beritajatim.com: Kamu pernah belajar langsung kepada Kuntowijoyo?

Mahfud Ikhwan: Tidak. Aku pernah menulis bahwa aku seorang murid liar. Aku meniru dari kejauhan, ‘mencuri’ dari luar ruang kelas. Aku tidak pernah diajar Kunto. Kunto sudah sangat menurun aktivitasnya di kampus, karena dia sakit sejak 1993-1994 dan tidak pernah benar-benar pulih. Aku bikin skripsi Kunto, bisanya wawancara dengan istrinya. Dia tidak memperbolehkan aku wawancara langsung dengan Kunto. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar