Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita? (3)

Mahfud Ikhwan

Liverpool jangan pernah kalah jika ingin Mahfud Ikhwan menulis dengan riang gembira. Novelis peraih penghargaan Kusala Sastra Khawtulistiwa kelahiran Lamongan, 7 Mei 1980 itu, bisa kehilangan suasana batin jika The Reds kalah. Itulah kenapa kemudian dia menyebut sepak bola sedikit banyak mempengaruhi proses kreatif penulisannya. Selain menerbitkan empat novel, Mahfud juga menerbitkan dua buku antologi esai sepak bola.

Bagaimana sesungguhnya gaya penulisan Mahfud yang membuat para juri Dewan Kesenian Jakarta terpukau, sehingga membuat mereka menobatkan ‘Kambing dan Hujan’ menjadi novel terbaik pada sayembara 2014? Sejauh mana peran riset dan bagaimana memperlakukan data riset dalam novel fiksi? Berikut serial ketiga wawancara beritajatim.com dengan Mahfud Ikhwan.

***

Beritajatim.com: Bagaimana dengan gaya penulisan atau art of writing dalam cerita-cerita novelmu?

Mahfud Ikhwan: Beda-beda. Karena Ulid itu roman pertumbuhan, yang tokohnya dari kecil sampai dewasa, aku pakai yang tenang, tanpa konflik terlalu besar, punya detail sangat kuat. Pokoknya landai. Nyaris konfliknya tidak menonjol.

Beritajatim.com: Rata-rata novelmu biografis?

Mahfud Ikhwan: Bisa dibaca seperti itu. Tapi kupikir 70 dari 100 novelis itu biografis. Meskipun kemudian kalau mencari diriku dalam tokoh-tokoh yang kuciptakan akan selalu gagal juga. Dalam artian tidak benar-benar mencerminkan. Kalau biografis kita sebut untuk memberikan gambaran kehidupan nyataku yang tidak tercapai, atau tidak terjadi, ya bisa saja. Kadang seperti itu.

Mungkin untuk Ulid memang agak khusus. Mungkin karena aku memulainya dari itu. Itu novel pertamaku. Tapi kalau ngomongin ‘Kambing dan Hujan’, alter egoku kuletakkan di mana-mana tempat. Apakah itu masih dibaca biografis: menggambarkan kecenderungan Mahfud, ada bagian-bagian di mana Mahfud Ikhwan memang masuk ke sana, bagaimana Mahfud melihat NU dan Muhammadiyah, ada semua di situ. Kalau itu disebut biografis ya iya. Tapi memang macam-macam itulah jenis-jenisnya.

Untuk membedakan style of writing, untuk Dawuk, sejak awal aku memang sengaja ingin bikin novel pendek yang tidak sampai 50 ribu kata, tidak sampai 200 halaman. Aku bertekad membikin alur yang sangat cepat. Aku bahkan melakukan semacam eksperimen dengan pembaca. Jadi ketika draftku selesai, aku menghubungi teman-teman yang tidak biasa baca novel. Aku suruh mereka baca. Mereka menghabiskan berapa jam atau berapa hari untuk menyelesaikannya. Aku merasa berhasil ketika mereka selesai membacanya dalam semalam. Baru aku masuk ke penerbit.

Beritajatim.com: Bagaimana dengan novel terbarumu, Anwar Tohari Mencari Mati?

Mahfud Ikhwan: Untuk Anwar Tohari Mencari Mati aku bikin metode lain. Aku membayangkan Anwar Tohari terbit sebagai cerita-cerita terpenggal yang muncul sedikit demi sedikit, seperti cerita bersambung. Maka kemudian aku meminta beberapa teman menjadi pembaca pertamaku, dan aku setori mereka setiap bab selesai.

Yang ingin kudapatkan adalah respons mereka, apakah misalnya mereka tetap bertahan membacanya dalam selang dua tiga minggu atau mereka kehilangan kesabaran. Dan ada yang benar-benar terjadi. Ada teman yang sampai lupa bagaimana novel ini diawali, dan itu kemudian mengkhawatirkanku: jangan-jangan tidak terlalu tampak dan orang mudah melupakannya. Akhirnya aku perbaiki.

Aku menyelesaikan Anwar Tohari Mencari Mati pada April 2020. Aku benar-benar menyerahkannya ke penebit lima bulan kemudian, karena aku membutuhkan naskah itu menginap dulu, kubaca ulang, baru kubongkar lagi.

Beritajatim.com: Sastrawan Gabriel Garcia Marquez pernah mengatakan, kisah yang ditulisnya berdasarkan kisah nyata, karena berbasis jurnalis. Bagaimana denganmu?

Mahfud Ikhwan: Tidak. Aku benci itu. Aku traumatis dengan label itu, karena Ulid sempat dipaksa dilabeli based on true story, dan itu menghancurkan hatiku. Itu karena tren. Padahal sekalipun Ulid adalah novel autobiografis, itu bukan kisah nyata. Kalau kemudian Ulid dicocokkan dengan kenyataan ya tidak. Ulid pergi ke Malaysia, dan aku kuliah di UGM kok.

Meskipun kemudian di beberapa kejadian, Ulid menemukan pembacanya yang merasa bahwa dia itu adalah Ulid. Ada orang-orang mengidentifikasi diri seperti Ulid. Di titik itu aku merasa berhasil. Aku menemukan gambaran dari orang-orang yang ingin kugambarkan. Orang-orang yang harapannya patah karena kondisi struktural dan dia memilih survive daripada menggapai cita-cita, semacam itulah. Lebih bersikap realistis daripada misalnya mempertahankan mimpi.

Beritajatim.com: Pernahkah kamu mengalami kebuntuan ide? Apa yang kamu lakukan?

Mahfud Ikhwan: Aku jarang sekali mengerjakan proyek tunggal. Jadi kadang yang mencoba pindah ke proyek lain. Tapi pada saat yang sama, penyakitku sangat mudah terdistraksi. Ngerti sendiri, aku ini gila sepak bola, dan itu permasalahan bagi novelis yang ingin berdisiplin.

Kacau. Nonton Liverpool kalah ngunu kuwi, langsung letoy. Mood-nya hancur. Malas menulis. Itu efek. Aku punya love-hate relation dengan sepak bola karena itu. Itu mempengaruhi kinerjaku secara umum.

Bahkan ketika tidak ada sepak bola pun, ketika aku bekerja pada malam Minggu atau Minggu malam, itu ‘wagu’ (janggal). Ini harinya sepak bola, masa bekerja? Akhirnya ketika tidak ada tim Premier League yang bisa kutonton, aku nonton tim divisi Championship (divisi level kedua Liga Inggris). Aku harus nonton. Hari Minggu jam sembilan malam tidak ada sepak bola ini bagaimana? Aku merasa tidak bisa menulis. Jadi kalau tidak sepak bola, aku mending jeda. Entah itu untuk membaca, atau nonton film.

Jadi aku sangat mudah terdistraksi, terutama karena di sisi lain aku punya banyak minat. Aku senang nonton film, aku senang nonton sepak bola, mendengarkan musik, dan memikirkannya agak jauh, dan itu mempengaruhi mood menulis.

Belum lagi objek-objek dari yang kugarap sebagai cerita. Itu juga punya pengaruh. Kenapa mengerjakan ‘Kambing dan Hujan’ butuh waktu begitu lama? Karena aku merasa tidak secure ketika referensiku tentang NU dan Muhammadiyah tidak mencukupi. Dan bertahun-tahun aku mengumpulkan buku tentang itu, tentang Islam Indonesia dari berbagai perspektif. Mungkin itu perjalanan tersendiri. Memang tidak banyak buku seperti peneliti. Tapi tetap ketika misalnya aku membutuhkan satu dialog penting dan aku merasa itu tidak cukup meyakinkanku, aku menunggu, mencari referensinya dulu. Entah riset, entah bertanya.

Katakanlah begini, di satu bagian aku membutuhkan untuk menceritakan pengalaman seorang santri di tahun 1960-an di Jombang, tentang kitab-kitab yang dikajinya, aku tidak cukup membaca kajian tentang kitab kuning di pesantren. Katakanlah dari buku Martin van Bruinesen. Aku tanya juga kepada beberapa gus yang kukenal: eh benar tidak kitab ini diajarkan di pondokmu, penyebutannya sudah benar tidak.

Beritajatim.com: Benar-benar melakukan riset?

Mahfud Ikhwan: Bisa dibilang seperti itu, meskipun aku ‘membenci’ kata riset yang sering digembar-gemborkan penulis Indonesia. Karena menurutku sebagian besar mereka melakukan riset dengan cara riset ilmuwan sosial. Padahal mereka tidak punya kapasitas sebagai ilmuwan sosial. Mereka seharusnya jauh lebih mengandalkan sensibilitas dan semacam ilmu hikmah.

Kamu tidak bisa menulis dengan data mentah seperti reporter menulis feature. Feel-nya tidak akan ketemu. Kamu harus mengendapkannya dulu, dan kemudian mengolahnya tidak sebagai data, tapi sebagai hikmah. Ini sudah diperas seharusnya. Tidak bisa memakai statistik.

Itu kenapa sebagian besar novel-novel historis Pram (Pramoedya Ananta Toer) berhasil. Karena menurutku, dibanding data-data mentah, Pram lebih mengandalkan ingatan. Jadi data-data mentah itu sudah dibacanya mungkin berpuluh tahun sebelum dia menulis tetralogi Pulau Buru. Dan pada akhirnya setelah perenungan, campur imajinasi, campur refleksi baru kemudian ketemu apa yang dia gambarkan misalnya pada 1920-an di Hindia Belanda.

Tidak bisa kamu ambil data seperti sejarawan untuk kemudian menuliskannya. Hasilnya akan beda. Dan itulah kenapa kita punya Kuntowijoyo sejarawan dan Kuntowijoyo sastrawan. Bedanya kira-kira di situ: agaimana data diperlakukan ketika menulis. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar