Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita (2)

Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan memulai karir penulisannya dengan menulis cerpen. Namun dia lebih dikenal karena empat novel, yang dua di antaranya diganjar penghargaan, yakni ‘Kambing dan Hujan’ dan ‘Dawuk’.

Pria asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, ini menyebut ada perbedaan besar antara menulis cerpen dengan novel. Dan ia mengaku sudah tak bisa lagi menulis cerpen. Padahal, menulis novel butuh waktu panjang.

Bagaimana proses kreatif penulisan cerita pria yang disebut-sebut oleh kritikus sastra Katrin Bandel ini telah memberikan kontribusi bagus bagi sastra Indonesia melalui novel Ulid? Beritajatim.com menurunkan wawancara seri kedua dengan Mahfud.

Beritajatim.com: Apa beda menulis buku dengan cerpen?

Mahfud Ikhwan: Aku sekarang agak sulit menjawabnya, karena aku hampir sama sekali tidak menulis cerpen. Hanya ada dua cerpen dalam tiga tahun terakhir yang terbit di Jawa Pos. Itu kupetik dari novel-novel yang sedang kukerjakan.

Tapi begini, setelah menulis novel, aku selalu melihat fenomena, cerita, itu menjadi multi kompleks, menjadi besar. Kubayangkan itu baru selesai kuceritakan setelah seratus halaman atau bahkan 500 halaman seperti novel Ulid. Sementara struktur cerpen seperti snapshot. Apalagi cerpen di koran sekarang itu seperti sketch. Ceritanya sangat tidak komplet. Dan aku sudah kesulitan, sudah tidak bisa.

Beritajatim.com: kenapa?

Mahfud Ikhwan: Kondisinya kalau cerpen, kamu diserbu oleh ilham yang tiba-tiba, mengitarimu, dan kamu menyelesaikannya dalam waktu sehari penuh. Kalau tidak, biasanya bubar. Aku jarang mendengar orang menulis cerpen dalam waktu sebulan, setengah tahun, apalagi setahun. Meskipun itu bisa saja terjadi untuk penulis-penulis tertentu.

Kalau menulis novel, kamu harus bersiap dengan timeline, dengan jadwal, dengan kerangka karangan, dengan kompleksitas cerita, dan dengan waktu yang panjang. Itu pasti. Dan untuk orang sepertiku, waktunya bisa jauh lebih panjang daripada kebanyakan penulis novel. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskannya.

Beritajatim.com: Butuh waktu berapa lama?

Mahfud Ikhwan: Ulid kutulis selama enam tahun. Kambing dan Hujan dari pertama aku menulisnya sampai terbit makan waktu sepuluh tahun. Meskipun pasti diselingi aku bekerja, aku tinggal, aku bongkar. Tapi sebenarnya itu proses yang tidak pernah putus di kepalaku. Artinya aku bisa mengklaim bahwa selama itu aku mengerjakan novel.

Paling singkat adalah novel Dawuk. Inkubasinya mungkin dua tiga tahun. Tapi aku hanya membutuhkan tidak kurang dari 1,5 tahun untuk menulis. Itu bagiku sangat pendek.

Beritajatim.com: Bagaimana menentukan struktur novel, alur cerita, penokohan?

Mahfud Ikhwan: Aku biasanya memulai dari peristiwa atau tokoh. Kalau memulai sebuah cerpen aku biasanya menulis bagian yang mungkin paling penting. Itu bisa saja mungkin tidak terpakai. Tapi aku memakainya untuk kemudian menjadi semacam core. Kira-kira seluruh cerita mengelilingi itu. Tapi kadang itu tidak sangat berhasil, sehingga kemudian aku harus pakai cara-cara konvensional.

Jadi ada bab-bab tertentu yang mungkin sudah kutulis, mungkin sekitar 15 sampai 20 halaman. Tapi kemudian aku tidak tahu ke mana ini. Pada akhirnya aku harus bikin semacam struktur bangunan keseluruhan cerita. Aku bikin bagian per bagian. Konvensional saja. Misalkan di bab ini, apa peristiwa yang muncul, siapa tokohnya, fungsinya apa, apakah dia ingin mencoba mengejutkan pembaca, misalnya, sehingga jadinya flashback.

Atau pakai alur Aristotelian. Konvensional. Dari mulai lalu naik-naik. circumastance, puncak, turun lagi. Itu pasti dimulai dari memperkenalkan tokoh, menjelaskan latar, terus kemudian pelan-pelan memberikan tegangan-tegangan kepada pembaca. Misalnya konflik apakah yang muncul. Kenaoa tokoh ini bertemu tokoh ini dan seterusnya.

Beritajatim.com: Apakah dalam setiap novel ada eksperimen gaya penulisan?

Mahfud Ikhwan: Ada. Tapi kadang itu fisik. Misalnya, aku bertekad ketika menulis Dawuk untuk menuliskannya dalam tulisan tangan sampai selesai, karena aku berharap sebuah novel yang cepat, thrilling, dan secara kebahasaan spontan. Dan aku merasa dengan menulis tangan, aku bisa mendekatkannya ke sana.

Seingatku, kalau Ulid, sebagian besar kutulis di malam hari. Aku tidak tahu, mungkin itu cocok, karena di siang hari aku ngantor. Tapi itu kemudian terpola. Aku harus menulis dari jam sembilan malam sampai jam satu atau jam dua dini hari. Setidaknya nongkronhg di depan komputer. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar