Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Bagaimana Mahfud Ikhwan Menulis Cerita? (1)

Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan tidak pernah bercita-cita menjadi penulis novel full time. Pria kelahiran Lamongan, 1980, ini mulanya menulis karena merasa sebagai alumnus Sastra Indonesia Universitas Gajah Mada memang seharusnya menulis. Namun dalam perjalanan karirnya, dua novelnya, ‘Kambing dan Hujan’ dan ‘Dawuk: Kisah Kelambu dari Rumbuk Randu’ justru menuai masing-masing penghargaan sayembara penulisan novel terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Kini Mahfud tengah sibuk mempromosikan buku terbarunya ‘Anwar Tohari Mencari Mati’ terbitan Marjin Kiri yang disebut sebagai sekuel ‘Dawuk’. Bagaimana dia bisa menulis novel yang disukai banyak orang? Proses dan pengalaman kreatif ini yang kemudian dituturkannya kepada beritajatim.com, usai salat Jumat (23/4/2021). Wawancara dengan Mahfud diturunkan secara bersambung.

Beritajatim: Bagaimana awal Anda merintis karir sebagai penulis buku?

Mahfud Ikhwan: Aku sebenarnya tidak pernah bermimpi menjadi penulis. Mungkin ada keinginan-keinginan waktu kecil, waktu SMA. Tapi itu sebenarnya tidak pernah menjadi keinginan yang benar-benar kulayani. Jadi menulis sebenarnya dimulai saat kuliah. Dan itu juga tidak sangat hebat alasannya.

Waktu itu pada 1998-2000, semua orang di Jogja merasa akan bisa survive kalau menulis. Aku ya ikut-ikutanlah. Akhirnya nyemplung. Begitu saja. Itu semacam konsekuensi lebih dari kuliah sastra. Masa kuliah sastra tidak menulis? Itu pertanyaan filosofis.

Beritajatim: Apa yang mulanya Anda tulis?

Mahfud Ikhwan:Mulanya cerpen. Harapannya dimuat di koran. Tapi harapan cuma harapan.

Beritajatim: Kok bisa?

Mahfud Ikhwan: Gak payu (tidak laku). Lima tahun pertama aku menulis kira-kira hanya bisa menerbitkan empat sampai lima tulisan di media massa. Hanya itu yang bisa kukenang. Lain-lain ya kumpulan naskah stensilan, di majalah lokal. Tidak cukup bisa dikenang.

Beritajatim: Beranjak ke penulisan buku utuh mulai kapan?

Mahfud Ikhwan: Ketika aku mulai memikirkan menulis novel. Waktu itu jaraknya panjang sekali. Jadi aku merantau ke Jakarta pada 2004, dan saat itu memutuskan: ‘ya wislah, gak patheken mlebu koran, yo wis ora usah. Nulis buku wae. Nulis novel’. Aku merasa gagal. Ternyata kegagalan (memasukkan naskah cerpen) di koran diikuti kegagalan hidup di Jakarta.

Setelah dua tahun aku kembali (ke Jogjakarta). Kemudian ndilalah kerja di penerbitan buku sekolah di Klaten. Di situ kerjaku menulis buku pelajaran. Aku menghasilkan kira-kira 12-15 buku. Di sela-sela itu aku mengerjakan novel pertamaku juga.

Jadi singkat cerita, lima tahun bekerja, novelku terbit di penerbit lain. Novel pertama. Judulnya Ulid. Itu menandai keputusanku untuk full time writing. Waktu itu penerbitnya grup Galang Press. Setelah Ulid terbit, aku menulis buku-buku sepakbola kecil pakai nama samaran (Owen Mcball). Iku gojeg-gojegan kuwi (bercanda, red).

Beritajatim.com: Kapan mulai menggarap buku serius setelah Ulid?

Mahfud Ikhwan: Karena aku harus survive, aku kerja jadi ghost writing, menjadi peneliti bayaran, karena aku baru keluar dari kantor. Tapi pada saat itu juga aku sedang berusaha menyelesaikan novel keduaku yang berjudul Kambing dan Hujan, yang kemudian pada 2014 menang dalam sayembara penulisan novel DKJ.

Setelah itu aku tidak bisa mentas lagi. Hidupku di situ. Setelah itu ada Dawuk dan Anwar Tohari Mencari Mati. Tapi karena aku sudah terkenal sedikit, ada buku kumpulan cerpen Belajar Mencintai Kambing, dua buku tentang film India (Aku dan Film India Melawan Dunia), dan dua buku sepak bola (Dari Kekalahan ke Kematian pada 2017 dan Sepak Bola Tak Akan Pulang pada 2019).

Beritajatim.com: Bagaimana proses kreatifmu untuk menulis novel-novel itu?

Mahfud Ikhwan: Itu biasanya sebagian besar adalah pikiran-pikiran lama yang menghantui, terus bertemu momentum, ketemu bacaan yang tepat, akhirnya aku eksekusi. Selalu begitu. Itulah kenapa novel-novel biasanya punya isu dan kegelisahan yang sama, dengan kegelisahan yang aku tulis sebagai person. Mengomongkan musik. Mengomongkan film. Mengomongkan NU dan Muhammadiyah. Mengomongkan Islam di Indonesia. Mengomongkan buruh migran. Macam-macam itu, dan itu semua kupecah-pecah menjadi novel-novel itu.

Jadi agak sulit menjelaskan apakah setelah ini ada itu, terus baru itu lagi. Gambarannya begini. Aku mengerjakan novel pertama dan keduaku secara bersamaan sebenarnya. Jadi ‘Ulid’ dan ‘Kambing dan Hujan’ kukerjakan bareng pada awalnya. Aku memulai pada 2004. Dan itu memang mewakili kegelisahan personalku.

Misalnya tentang persaingan di level bawah antara NU dan Muhammadiyah. Orang kalau membaca Kompas atau Nurcholish Madjid atau Kuntowijoyo mungkin menganggap bahwa tidak ada itu kontestasi dan konflik. Pada dasarnya aku melihat bahwa kontestasi itu, persaingan itu, ada. Pecah jadi konflik-konflik kecil.

Tidak pernah sangat besar, tapi itu selalu laten. Dan itu bisa dipicu banyak hal. Setiap puasa beda, muncul. Setiap pemilu, muncul. Setiap ada pilkades, keluar lagi. Jadi ketika ada persaingan-persaingan di luar agama muncul, kemudian menjadi trigger, dan itu menggelisahkanku. Dan itu kegelisahan dari kecil. Baru muncul, mengkristal, ada ceritanya, ada tokohnya menjadi ‘Kambing dan Hujan’, terbit pada 2014.

Pada saat yang sama lingkunganku buruh migran menghantuiku juga. Aku mencoba menjelaskan, misalnya bagaimana dunia pekerja di sekitarku, apa yang kualami, apa yang kulihat, dan itu ku-frame dalam kerangka apa yang diubah dan apa yang berubah setelah ada migrasi ke Malaysia. Dan itu mewakili penjelaskanku tentang ‘Dawuk’, ‘Anwar Tohari’, dan cerpen-cerpenku di ‘Belajar Mencintai Kambing’. Tema-temanya tidak banyak berubah. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar