Siapa Dia

Antara Politik dan Zidan

Hidup bagi Asrotul Hikmah berputar di antara dunia anak-anak dan politik, antara urusan kemanusiaan dan pemilu. Perempuan kelahiran 26 Februari 1989 ini sehari-hari bekerja sebagai pegawai kesekretariatan Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Menjelang pelaksanaan pemungutan suara 17 April 2019, kesibukannya semakin meningkat. Namun perhatiannya juga terbagi untuk Muhammad Zidan Mutawakkil.

Tubuh Zidan, bocah yang Mei nanti berusia enam tahun, semakin kurus, setelah perutnya digangsir tumor. Anak pertama dari dua bersaudara itu dilahirkan dari pasangan Muhammad Ilham dan Suryani, warga Dusun Krajan Kidul, Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung.

Hikmah mendengar kisah derita Zidan tiga pekan lalu. Salah satu kerabatnya mengabarkan, berharap dia bisa membantu. “Saudara saya itu tahu kalau saya pernah mendampingi Niko, anak-anak yang terkena kanker pada 2013,” katanya, Jumat (15/3/2019).

Sebelum bergabung dengan Bawaslu, Hikmah memang biasa terlibat dalam kegiatan pendampingan anak-anak. Dunia anak adalah dunia pertamanya sebelum dunia politik elektoral.

Mendengar kabar dari sang kerabat, Hikmah segera menyambangi Zidan. Dari sana ia tahu, semua berawal lima bulan lalu saat ada benjolan di perut Zidan. “Benjolan itu masih kecil seperti sebutir telur. Waktu itu langsung ditangani. Orang tuanya tidak membiarkan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit dr. Soebandi,” katanya.

Zidan sempat dirawat selama kurang lebih sepuluh hari di sana. Namun akhirnya ia pulang, setelah orang tuanya menolak untuk menjalani kemoterapi. “Saya takut ke Zidannya. Soalnya saya banyak cerita bahwa kemo menakutkan,” kata sang ibu, sebagaimana ditirukan Hikmah.

Ada relawan yang kemudian mencoba membantu dan membawa sang anak ke RS dr. Soetomo di Surabaya. “Ternyata di Surabaya benjolan itu mengeras dan tidak memungkinkan dioperasi,” kata Hikmah.

Orang tua Zidan lantas mencoba cara pengobatan alternatif dan tetap menolak kemoterapi. Hikmah berusaha meyakinkan agar Zidan bisa menjalani kemoterapi. “Kemarin saya ke sana, benjolannya sudah mulai lunak, tidak sekeras kemarin-kemarin setelah diberi minyak oles dan jamu daun sirsak. Cuma sekarang kakinya sering sakit dan dadanya mulai sesak, napas ngos-ngosan,” katanya.

Selama sakit, Zidan jarang tidur dan lebih banyak mengomel. Sang ayah pun memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai penjaga keamanan di pasar untuk lebih memberikan perhatian kepada Zidan.

Hikmah langsung menghubungi temannya di Dinas Sosial Jember dan berkomunikasi dengan Wakil Bupati Abdul Muqit Arief. Sejumlah pegiat Program Keluarga Harapan (PKH) pun mengunjungi rumah Zidan. Ia bersyukur setelah ada kabar Zidan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Daerah Balung atas perintah langsung Kepala Dinas Sosial Isnaini Dwi Susanti. “Alhamdulillah,” katanya.

Hikmah akhirnya bisa bernapas lega. Kini ia bisa kembali berkonsentrasi menghadapi pemilu. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar