Siapa Dia

Ali Fauzi Mantan Kombatan JI Berbagi Cerita

Ali Fauzi Kombatan mantan instruktur perakit Bom Jamaah Islamiah (JI).

Gresik (beritajatim.com) – Mantan kombatan bom Bali, Ali Fauzi punya cerita sendiri bagaimana pernah menjadi perakit bom jaringan teroris dunia organisasi Jamaah Islamiah (JI) Indonesia yang berafiliasi dengan Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden.

Dihadapan Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto serta Dandim 0817 Letkol Inf Taufik Ismail dan audens lainnya warga asal Lamongan itu menceritakan saat dirinya pernah membuat bom berdaya ledak tinggi.

Ali Fauzi menegaskan, paham ekstrimisme yang ada di otak para teroris jamaah islamiyah (JI) adalah
merubah NKRI menjadi Negara Islam Indonesia atau NII.

“Saya bergabung dengan gembong teroris sejak tahun 1991 setelah mendapat surat dari saudaranya yang berada di Afghanistan yang terlebih dahulu bergabung. Keempat saudara yang menjadi kombatan teroris. Yakni, Ali Ghufron alias Muklas, Amrozi dan Ali Imron,” ujarnya di sela-sela Forum Discusion Group (FGD) dalam Rangka Menangkal Paham Radikalisme dan Intolerans yang berlangsung di salah satu hotel di Gresik, Selasa (29/12/2020).

Seperti diketahui, Ali Fauzi punya andil besar dalam peledakan besar Bom Bali 2002. Ia punya peran besar sebagai mantan kepala instruktur perakitan bom. Tidak tanggung-tanggung, dirimya punya kemampuan bisa merakit bom mulai ukuran satu kilogram hingga satu ton.

Selain piawai merakit bom, Ali Fauzi juga sempat mengikuti berbagai baiat dan pelatihan di timur tengah. Sebab, dirinya menjadi salah satu yang diandalkan dalam perakitan bom.

Dari masa kelamnya tersebut, kini pria dengan enam orang anak itu sudah sadar. Buah dari ke jalan yang benar. Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang bergerak untuk menyadarkan para mantan kombatan teroris. Bahkan, sudah banyak kombatan yang berhasil disadarkannya.

“Jangan berpikir terorisme itu rekayasa. Jangan berpikir terorisme adalah operasi intelijen. Wallahi, teroris benar adanya. Saya sendiri pernah mengalami,” ungkapnya.

Ali menjelaskan, doktrinasi radikalisme bukanlah produk instan. Akan tetapi melalui proses panjang dan perlahan-lahan untuk mendorong seseorang membuat keputusan dan komitmen melakukan aksi kekerasan atas nama Tuhan.

Akar terorisme sendiri tidaklah tunggal. Bahkan saling berkaitan. Oleh karena itu penanganannya pun tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal.

“Harus banyak aspek, perspektif dan metodologi yang digunakan. Ibarat sebuah penyakit, terorisme adalah komplikasi. Butuh  dokter spesialis dan obat yang tepat untuk dapat menyembuhkan. Dulu saya lawan bagi polisi, sekarang saya kawan. Saya membantu memberikan konsultasi kepada para mantan kombatan,” imbuhnya.

Dari proses yang pernah dialaminya, paham radikalisme biasanya hadir dalam ceramah-ceramah yang penuh provokasi dan penuh kebencian. Bahkan ada kajian khusus untuk doktrinasi paham tersebut yang sifatnya silent operation dan sulit dideteksi.

“Terkait pencegahan dan penanggulangannya ini tergantung bagaimana tokoh masyarakat bertindak. Tergantung TNI-Polri terutama tokoh agama. Sekali lagi ini benar-benar ada, bukan operasi intelegen dan bukan pengalihan isu. Saya pernah mengalami sendiri,” ujarnya.

Sementara Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto menyatakan FGD ini dilaksanakan dalam rangka menguatkan kebhinekaan guna menangkal radikalisme dan intoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Tuhan menciptakan Indonesia adalah negara yang majemuk.

“Ancaman untuk merusak persatuan dan kesatuan sudah mulai muncul. Benih-benih aksi terorisme, SARA dan intoleransi ini harus kita hindari,” papar mantan Kapolres Ponorogo itu. (dny/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar