Ragam

Ternyata Katak Tidak Minum Air, Kenapa?

foto/pexels

Surabaya (beritajatim.com) – Katak adalah binatang amfibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau di daratan, berkulit licin, berwarna hijau atau merah kecoklat-coklatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat dan berenang.

Katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis katak pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan.

Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembap, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi katak kecil. Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.

Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong (b. Inggris: tadpole), yang bertubuh mirip ikan gendut, bernapas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.

Pembuahan pada katak dilakukan di luar tubuh. Katak jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

Namun tahukah kamu kalau katak tidak meminum air? Katak umumnya dikenal menyerap air melalui kulit mereka daripada meminumnya. Kulit katak bersifat permeabel, terutama di dekat perut dan pahanya, memungkinkannya menyerap air dari lingkungannya ke dalam tubuhnya.

Selanjutnya, kelenjar yang terletak di seluruh katak mengeluarkan lendir, menjaga kulitnya tetap lembab dan licin sambil juga membiarkannya mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Katak berbagi sifat ini dengan amfibi lain juga.

Namun, karakteristik ini juga membuat katak dan amfibi lainnya sangat rentan. Setelah kulit katak mengering, itu sangat mempengaruhi kemampuan amfibi untuk bernafas, yang mengakibatkan kematiannya. [dep/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar