Iklan Banner Sukun
Ragam

Ternyata Ada Stress yang Baik! Begini Cara Mengetahuinya

(Foto: Ben White, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Stres bisa datang dari berbagai macam faktor. Mulai dari stres yang disebabkan oleh hubungan keluarga, pertemanan, rekan kerja, atau pasangan. Stres juga bisa terjadi akibat masalah masa lalu yang tak kunjung selesai. Hingga akhirnya beban masalah tersebut akan menumpuk dan membuat kesehatan mental seseorang semakin buruk.

Namun ternyata, tidak semua stres merupakan kondisi yang buruk. Terdapat stres baik yang justru bermanfaat bagi perkembangan mental dan emosional seseorang. Untuk memahami hal ini, memang perlu diketahui perbedaan stres baik dan stres buruk yang sering terjadi. Dengan begitu, bisa lebih mudah memahami kondisi stres yang sedang terjadi.

Stress Buruk (Distress), sebagaimana mana dilansir dari daily health, yaitu stres yang sering membuat kita lelah, gelisah, dan dapat merusak kesehatan. Biasanya stres ini terjadi sebuah peristiwa besar yang terjadi dalam hidup. Kondisi kesusahan ini menyebabkan reaksi berlebihan, kebingungan, konsentrasi yang buruk, kecemasan kinerja, dan kinerja yang menurun.

Sementara itu, Stress Baik (Eustress) yaitu kondisi yang mengacu pada keadaan dimana sesuatu yang membuat stres dapat membantu menginspirasi, memotivasi, bahkan meningkatkan kinerja. Stress jenis ini akan melibatkan seseorang guna menerima tantangan dan membuat keputusan demi melakukan usaha mengatasi sebuah masalah.

Usai memahami perbedaan stress baik dan buruk itu, perlu dipahami pula cara guna mengetahui dan membedakan keduanya. Dalam hal ini, kita bisa mendeteksi dengan mengacu pada beberapa pertanyaan

Pertama, coba bertanya pada diri sendiri, apakah bisa menangani tantangan penyebab stres tersebut. Jika Anda memiliki kemampuan guna menyelesaikan masalah tersebut dan ingin mengusahakannya, maka masalah dapat teratasi dengan baik.

Kedua, tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah Anda mempunyai kendali atas hal tersebut. Selama Anda memiliki kendali terhadap suatu hal atau masalah yang terjadi, maka akan berusaha untuk menangani masalah tersebut.

Namun, jika tidak memiliki kendali, seperti masalah kematian keluarga, atau diberhentikan dari pekerjaan, maka ini termasuk stres buruk yang menyebabkan kesusahan, sehingga harus mengelola penerimaan untuk mengatasi masalah tersebut.

Ketiga, tanyakan pada diri sendiri, apakah terdapat imbalan atau sesuatu hal baik yang bisa didapatkan setelahnya. Misalnya stres menjelang pernikahan yang sering terjadi, namun kamu bisa mendapatkan kebahagiaan setelah menjalani hidup baru dengan pasangan. Atau ketika stres menanti kelahiran anak, setelah itu kamu bisa melihat buah hati mungil yang menggemaskan. Itu masuk pada kategori stress yang baik. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar