Iklan Banner Sukun
Ragam

Tempe, Kedaulatan Pangan untuk Perkuat Nasionalisme

(Foto: Cottonbro, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Tempe merupakan makanan yang hampir selalu ada di meja makan kita. Ia merupakan warisan budaya yang tetap hidup dan masih banyak dikonsumsi hingga kini.

Bahkan, Indonesia merupakan produsen Tempe terbesar di dunia dan pasar kedelai terbesar Asia. Bahkan dari data Badan Standarisasi Nasional tahun 2012, konsumsi kedelai Indonesia 50% dalam bentuk tempe, dan sebesar 40% dalam bentuk tahu, serta 10% dalam bentuk lain (seperti tauco, kecap, dan produk kedelai lain).

Tempe telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Bahkan dalam bab 3 dan bab 12 Serat Centhini abad ke-16 ditemukan kata “tempe”, ‘Jaé santen témpé (masakan tempe dengan santan)’ dan kadhelé témpé srundéngan. Serat Centhini membuktikan bahwa sajian tempe ini telah berumur sekian ratus tahun dan terus dikonsumsi hingga saat ini.

Dalam jenisnya, tempe yang diolah dari kedelai punya berbagai macam. Jenis pertama, tempe kedelai. Yaitu tempe yang mulanya diambil dari kacang kedelai lalu difermentasikan dengan jamur Rhizopus oligosporus

Jenis kedua, tempe gembus. Lauk tempe dari ampas tahu (sisa proses sari kedelai yang akan dijadikan tahu). Ketiga, tempe lamtoro yang diolah dari biji lamtoro, rasanya nyaris tidak berbeda dengan tempe kedelai.

Keempat, tempe benguk diolah dari biji benguk, jenis kacang koro, serumpun dengan kacang kapri dan kacang buncis. Kelima, ada tempe kecipir dari kecipir yang di daerah Sumatera terkenal dengan nama kacang botol atau kacang belimbing. Jenis tanaman polong yang tumbuh merambat, berasal dari Indonesia timur.

Tidak hanya di Indonesia, tempe juga melanglang buana hingga mancanegara. Masyarakat dunia menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Tempe diproduksi di banyak tempat di dunia. Tahun 1926 tempe telah diteliti di Jepang. Lalu tahun, 1946 tempe Populer di Eropa. 1983 diproduksi secara komersial di Jepang.

Juga tahun 1958 populer di Amerika Serikat setelah dibuat oleh Yap Hwa, orang Indonesia yang pertama kali meneliti tempe disana. 1984 Tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang.

Tempe juga punya sisi unik tersendiri. Kandungan Genistein dan Fitoestrogen pada tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara. Bahkan, penelitian Universitas North Carolina, Amerika Serikat menyebut jika mengkonsumsi tempe secara teratur dapat menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah.

Antioksidan dalam tempe dapat mencegah penuaan dini dan mempertahankan kecantikan wajah. Penelitian terbitan 1940-an sampai 1960-an menyimpulkan banyak tahanan Perang Dunia II selamat berkat mengkonsumsi tempe. Itulah sepenggal kisah pangan tempe yang khas Indonesia sebagai simbol nasionalisme. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar