Iklan Banner Sukun
Ragam

Tak Banyak yang Tahu, Ini Fakta yang Jarang Diketahui Dari Pertempuran Surabaya

(Foto: Rasyid Maulana, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Pada Bulan November, salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia adalah Hari Pahlawan, yang jatuh pada tanggal 10 November. Pada tanggal tersebut, banyak orang berbondong-bondong ikut merayakan sembari mengenang perjuangan rakyat pada pertempuran yang terjadi di Surabaya tahun 1945.

Pertempuran Surabaya sendiri, dipicu oleh berkibarnya Bendera Belanda di Hotel Yamato, tepatnya di Jalan Tunjungan, Kota Surabaya. Pada 19 September 1945, Para pemuda beramai-ramai menyerbu Hotel Yamato, hingga peristiwa perobeka bendera merah putih biru pun terjadi.

Peristiwa tersebut menjadi awal mula perjuangan sekutu Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran tersebut menjadi pertempun terbesar Indonesia yang terjadi setelah merdeka dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Namun, nyatanya ada banyak fakta menarik di balik pertempuran tersebut yang tak banyak diketahui oleh masyarakat. Seperti yang kami jelaskan di bawah ini.

Menjadi pertempuran yang paling memalukan bagi Inggris

Alasan dibalik fakta ini adalah karena pada pertempuran ini, para Sekutu dipaksa untuk menyerah, bahkan memohon pada lascar Republik untuk menghentikan serangan.

Tak hanya itu, perang ini telah memakan tak kurang dari 20 ribu pejuang Indonesia, dan 1500 tentara Inggris. Namun tetap saja, Indonesia yang memenangkan pertempuran ini.

Kematian 2 jenderal Inggris

Inggris bahkan harus kehilangan dua jenderal yang membuat mereka sangat terpukul, yakni Aubertin Walther Sorther Mallaby dan Robert Guy Loder Symonds. Ada dua versi berbeda mengenai tewasnya Mallaby.

Pertama, karena adu tembak dengan pejuang Indonesia, kedua karena kesalahpahaman anak buahnya sendiri yang melemparkan granat ke mobil Buick milik Residen Surabaya, Sudirman, yang ditumpangi oleh Mallaby sendiri.

Dibantu oleh Tiongkok

Peperangan ini ternyata juga melibatkan TKR Chunking, dimana berisi warga Tionghoa di Surabaya. Selain itu, seorang gadis Tionghoa melakukan pidato dengan bahasa Inggris melali radio yang dikelola komunitas Tionghoa untuk meminta bantuan kepada Pemerintah Republik Tiongkok.

Jumlah rakyat lebih besar daripada pejuang militer

Sangat luar biasa dan membuat merinding, dikatakan bahwa jumlah pejuang yang berlatar belakang militer ternyata hanyalah 20 ribu orang. Namun rakyat biasa yang ikut bergabung dan turun tangan dalam pertempuran mencapai 100 ribu orang.

Mereka pun hanya bermodalkan nekat serta doa, ini lantaran kebanyakan diantara mereka tidak memahami cara menggunakan senjata perang. Bahkan ibu-ibu dan remaja putri juga terjun dalam pertempuran, berperan sebagai perawat untuk mengobati mereka yang terluka.

Bung Tomo ditawan

Tak banyak yang tahu, saat pertempuran terjadi, ternyata Bung Tomo ditawan oleh laskar. Ini merupakan bentuk dari perlindungan kepada Bung Tomo yang dianggap sebagai orang penting. Penawanan ini diusulkan oleh Cak Mus aliad dr. Mustopo.

Melahirkan bonek

Selama ini, bonek dikenal sebagai sebutan untuk pendukung setia Persebaya. Nyatanya, kesolidan mereka sudah lahir sejak pertempuran terjadi. Bonek berarti Bondo nekat atau modal nekat, dimana saat peperangan, para Bonek terdiri dari remaja usia belasan tahun yang menjadi sukarelawan untuk mengawal para juru runding.

Ini didasari oleh perhitungan karena tentara Inggris yang tak mungkin menembak remaja tanpa senjata. Akhirnya Bonek dianggap sebagai perisai saat dari dan menuju lokasi perundingan yang berdekatan dengan basis pertahanan Inggris. [mnd/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar