Iklan Banner Sukun
Ragam

Sudah Pernah Dengar? Ini Arti, Bahaya dan Macam Toxic Positivity

Ilustrasi (foto : Ian Schneider, Unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi orang yang positif memang baik, karena secara tidak sadar ia akan menyebarkan positive vibes di sekelilingnya juga. Namun jika terlalu positif dan menyuruh orang lain yang sedih untuk selalu berbahagia ini termasuk perbuatan toxic.

Seperti dilansir dari laman Medicalnewstoday, Jumat (20/8/2021) toxic positivity merupakan sebuah obsesi seseorang untuk menyuruh orang lain berpikiran positif juga sama seperti dirinya. Mereka yang memiliki pandangan tersebut akan menyuruh bahkan memaksa seseorang untuk selalu berpikiran positif padahal orang lain tersebut sedang merasa sedih.

Namun perlu diperhatikan bahwa toxic positivity sangat berbeda pengertiannya dengan sekedar memberi atau menyuruh seseorang bersemangat saat mereka sedang merasa sedih, karena tidak ada unsur “paksaan” dalam kalimat mereka.

Ketika seorang toxic positivity diminta untuk memberikan pendapat mengenai masalah orang lain, mereka seakan mengabaikan emosi negatif, mengurangi rasa kesedihan seseorang, namun membuat orang tersebut merasa tertekan agar berpura-pura untuk bahagia bahkan saat mereka sedang sedih.

Toxic positivity memaksakan pemikiran positif sebagai satu-satunya solusi untuk setiap masalah, menuntut agar seseorang menghindari pemikiran negatif atau mengekspresikan emosi negatif.

Dalam beberapa kasus, toxic positivity memang memberikan solusi untuk permasalahan. Misalnya seseorang yang tidak sadar mendapat toxic positivity dari temannya, ia akan merasa bahagia serta berpikiran positif untuk sementara waktu. Namun hal tersebut tidak bertahan lama dan bisa menjadi tekanan eksternal, seperti ketika orang memberi tahu seseorang yang sedang berduka untuk move on atau mencari sisi positif dari kehilangannya.

Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa berpikiran positif dapat meningkatkan kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Pandangan tersebut juga menjadikan mahasiswa memiliki harga diri yang tinggi serta megurangi resiko bunuh diri. Namun berpikiran positif bukanlah obat mujarab untuk semua tantangan hidup.

Berikut ini beberapa contoh toxic positivity:

  1. Mengatakan bahwa kita tidak boleh bersedih karena “segala sesuatu terjadi sudah ada yang megatur”
  2. Memaksa seseorang untuk fokus pada aspek positif dari kehilangan yang membuat seseorang terpuruk, menyuruh mereka agar selalu bahagia dari pada harus menangis
  3. Mengatakan bahwa ia merupakan seseorang yang selalu memiliki pikiran positif dan lebih disukai oleh orang lain.

[rsf/bjo]


Apa Reaksi Anda?

Komentar