Iklan Banner Sukun
Ragam

SilverQueen, Cokelat Asal Garut yang Mendunia

(Foto: Jessica Loaiza, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Cokelat telah menjadi camilan manis yang banyak digamri masyarakat. Bukan hanya kaum muda, tetapi juga mereka yang telah beranjak dewasa. Salah satu merek camilan cokelat yang paling terkenal adalah SilverQueen dan Delfi.

Camilan-camilan cokelat dari dua pabrikan ini selalu menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin memberikan hadiah valentine, misalnya. Bahkan, banyak penggemar cokelat yang fanatik dengan kedua merek ini.

Dan sering kali, kedua merek ini dianggap sebagai pabrikan cokelat luar negeri. Padahal, baik Delfi maupun SilverQueen adalah dua merek cokelat yang diproduksi di Indonesia. Tepatnya dari Garut.

Delfi limited dulunya bernama Petra Foods Limited merupakan perusahaan di balik merek coklat SilverQueen. Berikut ini fakta unik tentang SilverQueen.

Awalnya Milik Orang Belanda

Perusahaan yang dikenal dengan nama NV Ceres awalnya dimiliki orang Belanda. Namun, seiring masuknya Jepang pada tahun 1942, dibeli oleh Ming Chee Chuang. Seorang pebisnis asal Burma keturunan Tionghoa yang sudah lama menetap di Bandung.

Ming Chee Chuang mengganti nama perusahaan menjadi PT Perusahaan Industri Ceres dan mulai berjualan biskuit dengan nama Ritz. Sayang, biskuit wafer Ritz diklaim Nabisco Foods karena merek Ritz sudah hadir sejak didirikan oleh pengusaha asal Belanda pada tahun 1949.

Kegagalan yang Menjadi Pintu Gerbang Peluang Baru

Tidak hanya diam, perusahaan lantas memperjuangkan hak nama Ritz dan akhirnya membuahkan hasil. Ritz menjadi merek wafer milik Ceres pada tahun 1950-an. Lantas, perusahaan ini memproduksi coklat batangan dengan merek SilverQueen.

Gagal masuk Program Banteng

Program yang saat itu diselenggarakan pemerintah bagi yang berstatus perusahaan asing, Chuang malah tertantang berinovasi dengan mencampurkan adonan cokelat dengan

kacang mede yang dikemas menjadi coklat batangan lalu dilabeli dengan nama SilverQueen. Dengan Indonesia yang punya iklim tropis, tentu bukan hal mudah untuk produksi dan mendistribusikan cokelat batangan.

Agar tidak mudah meleleh dan tahan lama, Chuang mencampurkan adonan cokelat dengan kacang mede yang pada akhirnya menjadi ciri khas dari Silver Queen.

Cokelat Favorit Presiden Sukarno

Saking lezatnya Presiden Sukarno hanya mau memakan coklat buatan Chuang. Coklat racikan itu sebenarnya sederhana, berbahan kakao, gula susu yang diaduk-aduk.

Tak ada yang hal istimewa dari cara Chuang membuat coklat yang lezat. Hanya saja memainkan temperatur pada alat-alat pemanas coklat. Kesaksian tentang presiden Soekarno ini ditulis oleh M. Ma’ruf dalam buku 50 Great Business Ideas from Indonesia (2010).

Cemilan Resmi Konferensi Asia Afrika Bandung

Pada tahun 1955 saat diadakan konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Chuang mendapatkan pesanan dari Presiden Soekarno untuk memproduksi cokelat sebagai cemilan di KAA.

Seketika cokelat milik Chuang ini jadi sangat terkenal. Bahkan, hingga tahun 1955, pabriknya pindah ke Bandung untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar saat berlangsungnya KAA di Bandung tersebut. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati