Iklan Banner Sukun
Ragam

Roehana Koeddoes, Perempuan Penggerak yang Dijadikan Google Doodle Hari Ini

(Foto: Wikipedia, Rhmtdns)

Surabaya (beritajatim.com) – Ketika berbicara mengenai pejuang emansipasi perempuan, nama R.A Kartini lah yang pertama muncul di ingatan kita. Peran Kartini memang penting dan memberikan dampak yang besar.

Namun, tokoh wanita satu ini juga tak kalah mengagumkan. Roehana Koeddoes. Mungkin tak banyak dari kita yang mengenal nama ini. Apalagi sejarah perjuangan dan jasa-jasanya.

Padahal, yang dilakukan Roehana pun tak kalah heroiknya dari Kartini. Bahkan, sosok Roehana diapresiasi oleh google dengan menjadikannya sebagai tema Google Doodle hari ini.

Semasa hidupnya, Roehana pernah menjadi jurnalis perempuan pertama Indonesia. Ia juga mendirikan surat kabar perempuan pertama bernama Sunting Melayu. Tak hanya itu, ia juga mendirikan dua sekolah. Sekolah Kerajinan Amai Setia di Kota Gadang dan Roehana School di Bukittinggi.

Roehana adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Mereka lahir dari ayah yang sama, Mohammad Rasyad Maharadja Soetan, seorang yang bekerja sebagai juru tulis Belanda mencapai puncak karir sebagai Kepala Jaksa di Pengadilan Medan.

Roehana Lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Seperti kebanyakan perempuan di masa Hindia Belanda, ia tak mendapatkan pendidikan formal. Semua pengetahuan yang miliki didapatkan dari ayahnya dan buku-buku serta majalah Belanda.

Setiap hari Roehana kecil selalu dibawakan buku bacaan dari kantor ayahnya. Di bawah bimbingan ayahnya itulah Roehana akhrinya bisa membaca dan menulis. Bukan hanya baca tulis melayu tetapi juga bahasa Belanda, bahasa Arab, serta Arab-Melayu.

Roehana adalah sosok yang selalu haus akan pengetahuan. Ketika ayahnya pindah tugas ke Padang Panjang, mereka bertetangga dengan keluarga atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu, Roehana belajar berbagai macam keterampilan seperti menyulam, menjahir, merajut, dan merenda.

Kemampuan inilah yang kemudian diajarkan pada siswi-siswinya di Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini ia dirikan pada tahun 1911 tepatnya pada bulan Februari tanggal 11. Tiga tahun setelah ia menikah dengan Abdul Kudus, yang memiliki profesi sebagai notaris.

Letaknya di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Empat tahun setelah didirikan, sekolah ini juga mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah Hidia Belanda. Semua yang belajar di sekolah ini adalah perempuan. Mereka diajarkan baca-tulis, keterampilan kerja, dan menulis jurnalistik.

Bersama para muridnya inilah, Roehan kemudian mendirikan Sunting Melayu, surat kabar yang terbit tiga kali dalam seminggu. Uniknya, mulai dari penulis, redaktur dan pemimpin redaksinya adalah perempuan. Surat kabar ini pun menjadi surat kabar perempuan pertama yang pernah didirikan di masa Hindia Belanda.

Roehana juga pernah mengajar di Dharma Putra, sebuah sekolah yang siswanya tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki. Ia jadi satu-satunya guru yang tidak pernah sekolah formal dan bukan lulusan Sekolah Guru.

Berkat semua perjuangannya tersebut, Roehana akhirnya diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2019. [tur/bjo]


Apa Reaksi Anda?

Komentar