Iklan Banner Sukun
Ragam

Resep Diet Alami, Lebih Manjur Beras Merah atau Shirataki? Simak Ulasan Berikut

Ilustrasi beras shirataki yang digunakan untuk diet alami. (Kalyani Akella, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Beras merah dan nasi shirataki adalah dua makanan yang sering dipilih oleh orang-orang yang sedang dalam program diet. Beras merah dan shirataki merupakan alternatif bagus untuk mengurangi konsumsi nasi putih.

Kedua jenis beras ini tentu punya keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Sebenarnya, lebih bagus mana sih antara beras merah dan beras shirataki? Berikut ini ulasannya.

Beras Merah

Beras merah tidak melalui proses penggilingan seperti beras putih. Oleh sebab itu, kandungan serat di dalam kulit arinya tetap terjaga. British Journal of Nutrition menjelaskan jika kandungan serat dalam beras merah itu enam kali lebih tinggi daripada beras biasa.

Kandungan lain dalam beras merah antara lain, vitamin E, vitamin B, magnesium, dan berbagai mineral serta kandungan bergizi lainnya. Kandungan gula dalam beras merah juga rendah, sehingga efektif mengurangi glukosa.

Beras Shirataki

Beras shirataki itu awalnya hanya ada di Jepang. Tapi, sekarang sudah bisa diperoleh juga di Indonesia. Berbeda dari beras merah dan beras biasa yang diperoleh dari padi, beras shirataki dibuat dari umbi-umbian.

Oleh sebab itu, beras shirataki punya kandungan zat bernama glukomanan, serat alami yang larut dalam air. Meski rendah karbohidrat dan rendah kalori, tapi kandungan serat dalam beras shirataki justru sangat tinggi. Jadi, beras shirataki tetap bisa bikin kenyang.

Bagi Anda yang sedang menjalani program untuk menurunkan berat badan, nasi shirataki akan lebih menguntungkan untuk Anda.

Soalnya, kandungan kalori dan karbohidrat shirataki itu rendah bila dibanding beras merah. Jika dibandingkan dari sisi gizi, beras merah tentu adalah pilihan yang lebih baik, karena kandungan vitamin dan mineralnya lebih banyak dibanding shirataki.

Untuk mana yang lebih baik antara beras merah dan shirataki sebenarnya tergantung pada kebutuhan Anda. Hal itu bisa disesuaikan dengan konsultasi pada dokter ahli gizi yang paham soal kebutuhan asupan tubuh untuk diet.

Namun perlu diingat pula, dalam upaya diet berat badan, bukan hanya kalori yang diperhatikan. Anda juga harus mengubah pola makan dan gaya hidup lebih sehat dengan olahraga, memenuhi kebutuhan air yang cukup, juga meningkatkan protein sembari mengurangi karbohidrat. (dan/ian)


Apa Reaksi Anda?

Komentar