Iklan Banner Sukun
Ragam

Rekomendas Film Adaptasi Novel Indonesia yang Angkat Isu Sosial

(Foto: instagram, @sepertidendamfilm)

Surabaya (beritajatim.com) – Dari tahun ke tahun, film Indonesia terus mengalami peningkatan kualitas. Banyak film dan sineas yang mendapat penghargaan internasional. Genre yang diangkat pun semakin beragam. Tidak melulu soal kisah cinta dan drama, tetapi juga thriller, aksi, bahkan beberapa berani mengangkat isu sosial.

Film berjudul Sang Penari misalnnya, yang diadaptasi dari Film Ronggeng Dukuh Paruk, mengangkat isu tentang tragedi 65. Berikut ini beberapa rekomendasi film adaptasi novel Indonesia yang mengangkat berbagai isu sosial.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Film ini dirilis Palari Film dengan mengadaptasi novel berjudul sama karya Eka Kurniawan. Ada bermacam isu sosial yang dimuat dalam film ini seperti perempuan dengan gangguan jiwa yang rentan jadi korban pemerkosaan.

Film ini juga menyindir isu maskulinitas toksik karena si karakter utamanya mengalami impotensi. Berkat kegemilangannya film ini berhasil memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Locarno di Swiss pada Agustus 2020.

Laut Bercerita (2017)

Laut Bercerita merupakan sebuah film pendek karya sutradara Pritagita Arianegara. Laut bercerita diadaptasi dari novel dengan judul sama karya Leila S. Chudori. Kisah yang diangkat seputar peristiwa 1998, film ini menceritakan sosok Laut (Reza Rahadian) yang vokal mengkritisi pemerintah Orde Baru, sampai akhirnya ia diculik dan dihilangkan oleh militer.

Dikemas dalam sebuah film pendek, Laut Bercerita berhasil memotret rasa duka, marah. Ada ketidakpastian yang dialami oleh keluarga korban penghilangan paksa tragedi pada tahun 1998.

Aruna dan Lidahnya (2018)

Film yang diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak ini mengambil tema tentang kuliner. Meski begitu, Aruna dan Lidahnya tidak hanya menghadirkan berbagai makanan khas daerah, tapi juga isu sosial.

Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo berkisah seputar kasus korupsi setelah berkunjung ke berbagai daerah untuk melakukan pendataan. Di samping itu, beberapa adegan juga memperlihatkan stigma yang dihadapi perempuan single usia 30-an yang sering kali dinyinyirin karena belum menikah.

Sang Penari (2011)

Diadaptasi dari novel karya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang Srintil, seorang penari Ronggeng terkenal di Dukuh Paruk. Menyoroti peristiwa 1965, film ini menggambarkan suasana mencekam dan pembantaian oleh aparat terhadap masyarakat yang diduga berhubungan dengan PKI. Padahal, warga kampung Dukuh Paruk tidak mengerti apapun soal hal itu.

Pintu Terlarang (2009)

Selanjutnya ada film garapan sutradara terkemuka Indonesia yaitu Joko Anwar. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara. Film dengan genre thriller tersebut tak hanya membuat bergidik, namun juga sarat akan berbagai pesan sosial. Di antaranya terkait isu penyiksaan anak dan trauma yang harus ditanggungnya seumur hidup, serta isu aborsi yang cukup tragis.

Selain bisa menambah pengetahuan, penonton yang belum membaca naskah novelnya akan dibuat penasaran. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar