Iklan Banner Sukun
Ragam

Rayakan Kemerdekaan dengan Lomba Panjat Pinang, Apa Sejarah Kelam Dibaliknya?

Sumber foto: Anas Sueb/pixabay.com

Surabaya (beritajatim.com) – Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalui diwarnai dengan berbagai acara yang memeriahkan. Terutama lomba-lomba yang seru antar warga, seperti lomba makan kerupuk, lomba memasukkan paku dalam botol, lomba membawa kelereng dalam sendok, dan masih banyak lagi.

Salah satu perlombaan yang ikut melengkapi adlah lomba panjat pinang, di mana sekelompok orang bekerja sama dengan saling memanjat pundak satu sama lain. Ini bertujuan agar satu orang teratas dapat meraih hadiah yang bergantungan. Namun tentunya tidak mudah karena pohon pinang yang dipanjat sudah diberi pelicin. Hadiahnya pun bermacam, bisa berupa alat elektronik atau bahkan sepeda kayuh.

Tetapi ternyata, dibalik keseruan panjat pinang ini ada sejarah yang kelam. Apakah itu? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Lomba yang membutuhkan strategi dan kekompakan ini sudah ada sejak zaman colonial Belanda. Menurut Nismawati Tarigan dalam Bibliografi Beranotasi: Hasil Penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang (2009), permainan tradisional ini memiliki nilai—nilai yang terkandung di dalamnya. Yakni gotong-royong, demokrasi, pendidikan, ketangkasan, keuletan, sosial, seni, hingga sportivitas.

Dalam Bahasa Belanda, lomba panjat pinang juga disebut sebagai De Klimmast yang berarti panjang tiang. Awal mulanya yakni untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina pada setiap 31 Agustus. Yang akhirnya berlanjut diadakan sebagai hiburan dan meramaikan acara seperti pernikahan, kelahiran, dan hajatan sejenis.

Kala itu, yang boleh mengikuti lomba panjat pinang hanyalah pribumi. Hadiah yang diperebutkan juga berbeda, antara lain beras, roti, gula, pakaian, dan bahan pokok lainnya, yang mana sangat berarti dan tergolong mewah bagi masyarakat Indonesia. Setelahnya, mereka orang-orang Belanda akan menonton sebari tertawa, seolah menertawakan kesusahan para pribumi yang berusaha meraih hadiah.

Sampai saat ini, panjat pinang masih menuai pro dan kontra. Beberapa orang beranggapan bahwa diselenggarakannya lomba panjat pinang hanya akan membawa kenangan buruk di masa penjajahan. Di mana para pribumi ditindas dan ditertawakan, dijadikan bahan lelucon oleh Belanda.

Tetapi tak sedikit pula mereka yang berpendapat lomba ini adalah bentuk teladan terhadap perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah. Selain itu dapat mempererat hubungan masyarakat.

Seperti yang telah disebutkan, jika kita bisa mengambil dari sisi positifnya, maka lomba ini menjadi bentuk kekuatan masyarakat Indonesia untuk tetap bersatu, saling membantu serta pantang menyerah. (mnd/ian)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev