Iklan Banner Sukun
Ragam

Rasuna Said, Jurnalis Sekaligus Aktivis Perempuan yang Menerima Penghargaan dari Presiden Suharto

Potret Rasuna Said. (Sumber foto : wikipedia.org)

Surabaya (beritajatim.com) – Pagi hari ini, Rabu (14/9) google doodle menampilkan sosok Pahlawan Nasional Indonesia yang mungkin jarang dibaca dan dengar di buku sejarah atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) semasa sekolah dulu. Ia adalah Rasuna Said.

Hari ini, 14 September adalah peringatan hari kelahirannya. Itulah alasan dibalik tampilan google doodle yang menampilkan sosoknya dalam bentuk gambar animasi pada laman google doodle.

Rasuna Said merupakan wanita ke sembilan yang menerima penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Penghargaan itu diberikan oleh Presiden Suharto pada 13 November 1974 melalui Kepres. No.0 84/TK/Tahun 1974, tepat 9 tahun pasca wafatnya.

Semasa hidupnya, wanita kelahiran Sumatra Barat itu sangat getol mengkampanyekan tentang hak-hak perempuan, termasuk persoal akses pendidikan untuk perempuan.

Meski begitu, pandangannya yang cukup populer adalah bahwa kemajuan perempuan tidak bisa didapat hanya dengan mendirikan sekolah, tapi harus disertai perjuangan politik.

Sebelum tahun 1930, ia tercatat pernah menjadi guru di Diniyah Putri, Padang Panjang. Lalu memutuskan untuk berhenti di tahun itu dan terjun ke ranah politik.

Perjuangannya di ranah politik dimulai dengan bergabung pada Organisasi Sarekat Rakyat. Ia juga bergabung dengan Organisasi Soematra Thawalib dan mendirikan PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) di Bukittinggi tahun 1930.

Rasuna Said juga kembali aktif mengajar pada sekolah-sekolah yang didirikan PERMI. Ia juga mendirikan sekolah-sekolah khusus perempuan. Semasa karirnya di ranah politik, ia juga terkenal gamblang dalam menyuarakan pendapatnya.

Dalam salah satu pidatonya di Payakumbuh tahun 1932 di depan 1000 orang, Rasuna Said mengatakan, Al-Quran menyebut imperialisme sebagai musuh Islam dan ia memproklamirkan bahwa Indonesia harus merdeka.

Atas aksi lantang itu, Belanda menjatuhkan hukuman penjara 15 bulan kepadanya, atas dasar penyebaran kebencian. Hukuman itu membuatnya menjadi wanita Indonesia pertama yang didakwa dengan pelanggaran berbicara atau dikenal Speek Delict.

Namun, ia justru membuat proses persidangannya kala itu sebagai corong untuk menyuarakan kemerdekaan. Kasusnya itu meluas di berbagai daerah dan menarik simpati dari berbagai pihak.

Pada saat akan menjalankan putusan pengadilan untuk dipenjara di Semarang, Jawa Tengah. Lebih dari 1000 orang ikut serta mengantarkan keberangkatannya.

Selain aktif di ranah politik, ia juga terjun di meja redaksi. Selepas keluar dari tahanan, ia memutuskan untuk belajar di Pendidikan Perguruan Permi, Padang. Rasuna Said menempuh pendidikan selama 4 tahun.

Ia juga aktif menulis melalui Jurnal Sekolah Keguruan Raya. Tulisannya banyak mengkritik terkait Kolonialisme Belanda.

Di tahun 1935 Rasuna Said, menjabat sebagai pimpinan redaksi Majalah Raya. Majalah ini terkenal sebagai tonggak perlawanan masyarakat Sumatra Barat.

Di tahun 1937, Rasuna Said membuat koran mingguan bernama Menara Poetri. Tujuan dari didirikannya koran mingguan tersebut adalah untuk memperluas gagasan-gagasan miliknya. Slogan yang diambil dari koran ini, serupa dengan slogan Soekarno, ‘Ini dadaku, Mana dadamu’.

Ia terus aktif menyerukan gagasan-gagasannya lewat tulisan. Selepas Indonesia merdeka, ia aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Ia juga sempat menduduki kursi Anggota Dewan Perwakilan Sumatra, yang kemudian diangkat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat.

Berbagai jabatan lain juga pernah ia duduki, posisi terakhir yang ia pegang sampai ajal menjemputnya adalah sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Ia meninggal pada 2 November 1965, akibat penyakit kanker darah yang ia derita. Tepat hari ini, 112 tahun lalu, Rasuna Said lahir ke dunia dan hari ini Google menampilkan sosoknya di laman Google Doodle. (Jhn/nap)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev