Iklan Banner Sukun
Ragam

Pernah Begitu Jaya Pada Masanya! 5 Penyebab Jatuhnya Sinema Hong Kong

Ilustrasi Sinema Hongkong yang kini seakan hilang ditelan zaman. (Jeremy Yap, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Pada masanya, Hong Kong pernah jadi pusat sinema Asia yang begitu menginspirasi dunia. Meski kejayaan film Hong Kong sudah lama pudar, banyak pelajaran yang masih bisa dipetik dari industri film Hong Kong.

Masa emas yang begitu gemilang dari industri film di Hong Kong berawal dari kemunculan generasi baru pembuat film di akhir tahun 1970-an. Pada era tersebut disebut sebagai Gelombang Baru yang berlangsung hingga kurun tahun 2000-an.

Kebangkitan itu pun bisa terwujud usai banyak sineas pulang belajar dari luar negeri. Banyak sineas termasyhur Asia berasal dari Hong Kong. Mereka jadi produsen penghasil karya-karya yang tak lekang oleh waktu.

Sebut saja nama seperti Wong Kar-wai (In the Mood for Love, 2000), Tsui Hark (waralaba Once Upon a Time in China), Stephen Chow (Shaolin Soccer, 2001), Johnnie To (Election, 2005), atau Ann Hui (Summer Snow, 1995).

Namun sayangnya, takhta industri film Hong Kong tak bertahan lama. Berikut ini
beberapa hal yang jadi penyebab dunia sinema Hong Kong jatuh. Bahkan saat ini mulai jauh tertinggal dengan Korea.

Pertama, karena formula, genre, tema, dan bintang yang tampil kerap berulang, sehingga hal ini begitu menjenuhkan bagi penggemar. Di lain sisi, dunia sinema Hongkong juga hendak melakukan pembaruan atau melakukan eksperimen tetapi berlebihan dan sulit diterima.

Kedua, selain masalah pembajakan VCD yang begitu masif, pasar film seperti Taiwan mulai beralih ke televisi kabel. Penonton pun jadi kian malas pergi ke bioskop.

Ketiga, Pada saat yang sama, Hollywood mulai ekspansi ke Asia dengan meluncurkan film box office, seperti Jurassic Park (1993), The Fugitive (1993), dan Speed (1994). Sehingga dari hal ini membuat minat penggemar untuk menonton film-film Barat terus bertumbuh.

Keempat, krisis keuangan Asia terjadi di tahun 1997. Produksi film dibeli dengan mata uang yang sangat terdevaluasi. Hal ini berdampak pada dunia sinema Hongkong lantaran tidak adanya uang yang mencukupi untuk proses produksi.

Kelima, tidak sigap mempersiapkan regenerasi talenta. Masuk pada awal tahun 2000, film Taiwan dan Jepang begitu dominan di pasar Asia, tetapi tak lama memudar. Tongkat estafet sekarang tengah dipegang Korea Selatan berkat gelombang dari film Korea.

Akankah dunia film Hongkong akan kembali pada masa kejayaan? Atau justru makin terpuruk karena tidak bisa bersaing dengan zaman. (dan/ian)


Apa Reaksi Anda?

Komentar