Iklan Banner Sukun
Ragam

Nikmati Saja, Quarter Life Crisis Adalah Masa Bertumbuh

(Foto: Nathan Martins, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Ada rasa puas dan bangga, kadang juga cenderung sombong ketika pencapaian-pencapaian kita diakui oleh orang lain. Di satu sisi pengakuan bisa menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri. Di sisi yang lain, ia bisa memberikan tekanan pada seseorang karena harus selalu memuskan orang lain agar mendapat pengkuan.

Ego untuk mendapat pengakuan inilah yang sering muncul di usia 25 tahun, ketika kita sedang mencoba menunjukkan eksistensi diri. Bahkan secara tidak sadar, ketika kita melihat keberhasilan orang lain terkadang muncul pertanyaan pada diri kita. Mungkin ada yang merasa iri, merasa gagal bahkan berbagai hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Tapi, secara otomatis muncul dalam pikiran kita.

Masa inilah yang sering disebut dengan Quarter Life Crisis (QLS). Kita secara tidak langsung diperhadapkan dengan hubungan serta keadaan sosio-emosional manusia. Hal -hal yang membuat kita merasa takut dan khawatir mengenai hidup di masa yang akan datang, biasanya seputar karir, relasi, kehidupan sosial, percintaan dan keuangan.

Namun, ini bukanlah hal yang salah. Tapi sebuah masa atau proses dalam pencarian jati diri sehingga mungkin dialami beberapa orang pada usia 20-30an. Awalnya muncul perasaan ini adalah rasa minder melihat kesuksesan orang lain.

Biasanya pemikiran ini muncul saat overthinking sehingga sulit tidur dengan nyenyak. Dimulai dengan pertanyaan yang terus menerus mengganggu pikiranku dan aktivitas. Baiknya memang ini akan membuat kita berpikir serta melakukan introspeksi diri sebagai solusi sementara.

Tapi percayalah jika masa ini membuat kita mengalami proses pendewasaan yang terjadi secara alami dengan beberapa faktor. Seperti apa terjadi selama 5 sampai 10 tahun ke depan, bagaimana mencapai tujuan hidup.

Satu hal yang perlu kita ketahui jika hidup ini bukan tentang perlombaan, bahkan mencari siapa yang berhasil lebih dahulu di garis finish.Faktanya, semua orang memiliki garis start dan finishnya masing-masing.

Jadi meskipun belum ada di garis start, bukan berarti kita harus mundur dari setiap proses. Karena dimana kita sekarang pasti ada masa belajar, bersosial, dan mengasah kemampuan. Hal ini memang membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Kita hanya dapat berlomba dengan diri kita bukan dengan pencapaian orang lain.

Catatan penting untuk kita bahwa kesuksesan orang lain bukan menjadi patokan suksesku, tetapi dijadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.Semesta selalu punya cerita dan waktunya masing-masing. (prd/tur)


Apa Reaksi Anda?

Komentar