Iklan Banner Sukun
Ragam

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro dan Perannya dalam Membentuk Bahasa Indonesia

Pisit Heng, Unsplash

Surabaya (beritajatim.com) – Sekitar 93 tahun lalu, bahasa Indonesia lahir dalam momentum Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Kelahiran bahasa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran seorang wartawan harian Hindia-Baru bernama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Bahasa Indonesia lahir memang berkat peran para pemuda yang mendeklarasikan ikrar persatuan Indonesia. Ikrar itu kemudian disebut dengan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda menjadi penegas cita-cita pemuda akan ‘Tanah Air Indonesia’, ‘bangsa Indonesia’, dan ‘bahasa Indonesia.’ Sumpah pemuda yang dikenal hingga saat ini memiliki tiga butir yang pada awalnya ditulis dengan ejaan lama.

Pertama: Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kedoea : Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga : Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Sosok Pencetus Bahasa Indonesia.

Butir ketiga Sumpah Pemuda itu, lantas jadi pintu gerbang kelahiran bahasa Indonesia. Namun, di samping itu juga ada peran lain yang mengakarkan bahasa Indonesia sampai berperan sebagai bahasa yang mempersatukan seluruh Indonesia.

Beliau merupakan wartawan Hindia Baru, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Di tahun 1926, beliau menerbitkan tulisan dengan judul ‘Kasihan’ dalam kolom Kepentingan di harian Hindia Baru. Tulisan itu lantas menjadi gagasan awal penggunaan nama ‘bahasa Indonesia’,

Sebelumnya bahasa Indonesia memang telah diusulkan pada kongres Pemuda I tahun 1926. Melalui Proses yang Alot Usulan Tabrani mengenai penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sempat ditentang oleh Mohammad Yamin, yang merupakan aktivis Jong Sumatranen Bond.

M Yamin menjelaskan kala itu, jika bahasa Indonesia itu tidak ada. la mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan usulannya disetujui pada Kongres Pemuda I tahun 1926. Berlanjut hingga kongres Pemuda II Tabrani menjadi sosok yang kontra terhadap keputusan Kongres Pemuda I.

Membuat keputusan dalam kongres tersebut belum menjadi putusan final. Tabrani lalu berpendapat jika bahasa Melayu dipakai menjadi bahasa persatuan, maka bisa jadi akan muncul kesan sebagai bahasa imperialisme. Lalu akhirnya, setelah 2 tahun berselisih dengan M Yamin, pendapat Tabrani dapat diterima dan menjadi keputusan final dalam kongres Pemuda II tahun 1928.

Berkat sikap gigih Tabrani, bahasa Indonesia pun berhasil menjadi bahasa persatuan, bahasa pemersatu pada masa pra kemerdekaan. Beliau, Tabrani Soerjowitjitro menjadi sosok yang berjasa dalam membangkitkan semangat perjuangan melalui gagasan bahasa pemersatu bangsa.

Hingga saat ini jasa Tabrani layak untuk dikenang, lalu dilestarikan. 28 Oktober mendatang jadi momentum hari sumpah pemuda. Sekaligus banyak yang menyematkan bulan oktober sebagai bulan bahasa. Bahasa yang masih digunakan hingga hari ini adalah bukti tekad Tabrani telah berhasil mempersatukan Indonesia melalui bahasa. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar