Iklan Banner Sukun
Ragam

Merawat Ingatan, Ini Permainan Tradisional yang Sudah Jarang Terlihat

Ilustrasi permainan anak dalam lukisan Dolanan Éngklék (1998) oleh pelukis Indonesia Ahmad Su'udhi (foto : wikimedia)

Surabaya (beritajatim.com) – Permainan tradisional merupakan permainan jaman dulu (jadul). Mengingat atau bahkan menyaksikan secara langsung permainan tradisional membuat kita teringat romansa masa lalu. Seiring berkembangnya zaman, permainan tradisional mulai jarang dilakukan. Gim modern yang lebih praktis membuat anak-anak lebih tertarik.

Padahal, permainan masa lalu itu syarat akan filosofis. Ada nilai, ketangkasan, hingga pelajaran ulet dalam memainkannya. Berikut beberapa permainan jaman dulu, yang akan membawa romansa ingatan.

Bekel

Masih ingat tentu, permainan dengan sebuah bola karet kecil dan buah mainan. Buah mainannya bisa berupa kerang, siput laut, atau hal lain yang berjumlah 4, 6, atau 8, dan seterusnya.

Cara memainkannya cukup mudah. Hanya dengan melambungkan bola ke atas, sembari bola melambung, buah mainan diatur dan disusun sesuai dengan aturan permainan. Hal yang seru dari permainan ini ketika tangan kanan menyauk bola, sekaligus setelah itu menangkap bola yang sedang dilambungkan.

Gobak Sodor

Dulu gobak sodor sangat populer, bahkan ada yang sampai dipertandingkan tingkat kecamatan. Gobak sodor adalah permainan anak-anak yang terdiri atas dua kelompok, satu kelompok sebagai penjaga benteng dan kelompok yang lain berusaha menembus benteng lawan. Permainan ini menggabungkan antara kecepatan, ketangkasan, dan kesabaran. Akan menarik tentunya jika suatu saat gobak sodor menjadi pertandingan resmi, bahkan dipertandingkan sekelas nasional.

Engklek

Di beberapa daerah engklek disebut dengan istilah berbeda. Engklek adalah permainan yang dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang pemain, dilakukan dengan cara melempar gaco. ke dalam kotak-kotak yang digambar di atas tanah, lalu pemain melompati kotak demi kotak dengan satu kaki. Ketangkasan, dan keuletan pemain sangat dibutuhkan dalam permainan ini.

Ketok Kadal

Seperti nama permainannya, anak-anak yang bermain ini memakai dua bilah bambu dengan panjang tidak sama, bilah yang panjang untuk memukul atau melontarkan bilah yang pendek. Permainan ini sering dimainkan saat musim kemarau, terutama sama bambu banyak yang berwarna kuning.

Beberapa permainan tersebut sekarang sudah sangat jarang dimainkan. Sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, memainkan permainan tradisional berarti merawat kekayaan budaya bangsa. [dan/bjo]


Apa Reaksi Anda?

Komentar